by Ar-Raudlatul Hasanah | Aug 25, 2026 | Berita
Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan menggelar peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang penuh khidmat bersama Da’i Nasional asal Papua Barat, KH. Fadlan Garamatan, serta anggota DPR RI, Dr. H. Musa Rajekshah, M.Hum., pada Senin, 24 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di kompleks pesantren pada pukul 10.00 hingga 12.25 WIB tersebut dihadiri oleh seluruh santri dan santriwati, dewan ustaz dan ustazah, serta jajaran pimpinan pesantren; Ketua Umum Badan Wakaf, Pimpinan, Direktur, Wakil Direktur, Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah, dan para Kepala Bidang.
Dalam tausiahnya, KH. Fadlan Garamatan membagikan kisah penuh haru dan motivasi tentang perjalanan dakwahnya di pelosok pedalaman Papua (Nuu Waar). Julukan khas “Ustaz Sabun” melekat padanya karena cara dakwahnya yang unik dan menyentuh hati masyarakat pedalaman. Di wilayah tempat masyarakat suku lokal belum mengenal cara membersihkan diri, Ustaz Fadlan memulai dakwahnya dengan penuh kesabaran; mengajari para kepala suku dan warga mandi menggunakan sabun serta keramas dengan sampo.
Pendekatan kemanusiaan dan kebersihan yang menyegarkan tubuh tersebut berbuah manis. Melalui kelembutan, perjumpaan dakwah, dan dialog seusai shalat berjamaah, sebanyak 3.712 warga pedalaman beserta para kepala sukunya tergerak hati untuk memeluk agama Islam dan bersyahadat bersama di atas panggung dakwah. Perjuangan ini bukannya tanpa halangan, beliau pernah dipanah, ditombak, hingga beberapa kali mendekam di penjara demi memperjuangkan hidayah bagi masyarakat pedalaman.
Ustaz Fadlan juga menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat pada masa itu yang telah memberikan bantuan pembangunan hingga 300 masjid di Papua serta memfasilitasi keberangkatan haji bagi para kepala suku. Lebih lanjut, beliau mengumumkan pergerakan dakwah bersama Yayasan H. Anif yang menargetkan pembangunan 99 masjid, di mana pembangunan masjid ke-70 dijadwalkan berdiri kokoh di tanah Papua. “Kami akan melanjutkan terus pergerakan dakwah ini, terkhusus di daerah-daerah minoritas Muslim,” tegas beliau.
Sementara itu, Dr. H. Musa Rajekshah, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kesempatan dapat berjumpa langsung dengan sang Da’i Nasional Papua di Medan. Beliau menegaskan bahwa kisah perjuangan Ustaz Fadlan di daerah pelosok yang sulit dijangkau harus menjadi pelecut semangat dakwah bagi generasi muda.
“Dunia ini hanya sementara. Kami berharap seluruh santri dan santriwati siap meneruskan estafet dakwah Islam hingga masa depan. Kalian tentu menjadi harapan besar orang tua untuk sukses, baik di dunia maupun di akhirat,” pesan Musa Rajekshah kepada seluruh santri.
Acara diakhiri dengan doa bersama, menyatukan harapan agar pesan kebaikan dan semangat dakwah yang disampaikan hari ini terus bergema dalam jiwa seluruh santri dan santriwati Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah.
by Ar-Raudlatul Hasanah | Aug 24, 2026 | Berita
RAUDHAH – Santri dan santriwati kelas 5 KMI Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menghadirkan penampilan terbaik melalui Maha Karya Akbar Drama Arena 537 yang digelar pada Kamis–Jumat malam, 21–22 Agustus 2026/7–8 Rabi’ul Awal 1448 H. Mengusung tema “Risaalah”, Drama Arena tahun ini tidak hanya menjadi panggung kreativitas seni, tetapi juga ruang untuk menyampaikan pesan pendidikan, keteladanan, dan semangat perubahan.
Drama Arena merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Kegiatan ini menjadi wadah bagi santri dan santriwati kelas 5 KMI untuk menampilkan berbagai kreativitas yang telah dipersiapkan secara kolektif, sekaligus melatih keberanian, kepemimpinan, kerja sama, kedisiplinan, dan kemampuan menyampaikan pesan melalui seni.
Pada DA 537, tema “Risaalah” memiliki makna yang sangat mendalam. Melalui “Risaalah”, santri dan santriwati kelas 5 KMI diharapkan mampu meneladani perjuangan Rasulullah ﷺ dengan memulai perubahan dari diri sendiri.
Dari pribadi yang baik diharapkan lahir keluarga yang baik, masyarakat yang baik, hingga peradaban yang lebih baik. Semangat tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah As-Saffat ayat 37:
﴿بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ﴾
“Sebenarnya, dia (Muhammad) datang membawa kebenaran dan membenarkan para rasul.”
Ayat tersebut menjadi doa dan harapan bagi mereka agar senantiasa dekat dengan Al-Qur’an, menjadikannya sebagai pedoman hidup, serta tumbuh sebagai generasi yang membawa kebenaran, menjaga amanah, dan menghadirkan keteladanan di mana pun mereka berada.
Rangkaian acara Drama Arena 537 dirancang secara terstruktur dengan memadukan seni, musik, drama, tari, video, sastra, dakwah, dan pesan moral. Penampilan diawali dengan video ucapan selamat dan nasyid, kemudian dilanjutkan dengan penampilan tilawah Al-Qur’an, sambutan, tari persembahan, serta pembukaan acara.
Memasuki pertunjukan utama, suasana panggung semakin hidup melalui Grand Opening yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan tematik. Pada penampilan putra, di antaranya terdapat Buya Hamka, Shalawat Akbar, Tundang-Tundangan, Pantomim, Tazkir, La Fuerza, Fighter, Sirat (Sidang Rakyat), Pudar, Becaks, T.K.P (The King of Pop), D.K.S (Dukun Katanya Sakti), A.O.T (Art of Talent), hingga Folk Song.
Sementara itu, penampilan putri menghadirkan rangkaian karya seperti Grand Opening, Drama “Rahma El Yunusiyah”, Gen Berkata, Shalawat Akbar, SHS (Suara Hati Santriwati), Ignite, Sang Garuda, Ibadah, Drama Kabaret, ASEAN Dance, hingga Folk Song.
Keunikan Drama Arena 537 juga terlihat dari penggunaan video-video pendek sebagai penghubung antarrangkaian penampilan. Video tersebut memuat pesan moral, pendidikan, kehidupan santri, keteladanan, serta berbagai refleksi yang bernuansa nilai-nilai Islam. Kehadiran video membuat pertunjukan tidak hanya berfokus pada panggung, tetapi juga menghadirkan pesan yang dapat direnungkan oleh para penonton.
Rundown yang telah disusun menunjukkan bahwa pertunjukan berlangsung dalam rangkaian panjang dengan perpaduan antara penampilan langsung dan multimedia. Pada penampilan putra, keseluruhan rangkaian tercatat memiliki durasi sekitar 3 jam 18 menit, sedangkan rangkaian putri berlangsung sekitar 3 jam 24 menit. Pengelolaan panggung, tata cahaya, suara, mikrofon, video, serta perpindahan antarpementasan menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran pertunjukan.
Di balik kemeriahan tersebut, terdapat proses panjang yang menuntut kekompakan seluruh anggota angkatan. Setiap santri dan santriwati mengambil peran masing-masing, baik sebagai pemain drama, penari, penyanyi, pembawa acara, pengisi video, pengisi musik, maupun bagian teknis pertunjukan.
Hal ini menjadikan Drama Arena sebagai bagian dari pendidikan yang berlangsung melalui pengalaman langsung. Santri belajar bagaimana sebuah karya besar tidak dapat diwujudkan oleh satu orang, melainkan membutuhkan kerja sama, pengorbanan, kedisiplinan, tanggung jawab, kreativitas, dan kesungguhan.
by Ar-Raudlatul Hasanah | Aug 17, 2026 | Berita
RAUDHAH – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menerima kunjungan dan silaturahmi dari Syekh Muhammad Auf, Sekretaris Umum Yayasan Pendidikan dan Budaya Manarah, Turki, bersama Al-Ustadz Orhan Akzade yang mengelola Pusat Penelitian dan Kajian Ufuk (Ufuk-cû), Turki, pada Rabu–Kamis, 12–13 Agustus 2026. Kunjungan tersebut diisi dengan rangkaian tausiah, motivasi, dan orasi pendidikan yang disampaikan kepada santri, santriwati, serta para ustadz dan ustadzah.
Pada Rabu siang, 12 Agustus 2026, Syekh Muhammad Auf menyampaikan tausiah dan motivasi di hadapan seluruh santri yang berlangsung di lantai 2 Masjid Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Dalam kesempatan tersebut, Syekh Muhammad Auf mengingatkan para santri bahwa mereka merupakan generasi yang memiliki peran penting dalam menentukan masa depan Indonesia. “Kalian adalah generasi yang diharapkan Indonesia. Kalian adalah kekayaan terbesar Indonesia,” ujarnya di hadapan para santri.
Syekh Muhammad Auf menegaskan bahwa kekayaan Indonesia tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga pada kualitas generasi mudanya. Karena itu, para pemuda harus dipersiapkan dengan ilmu, karakter, dan kecintaan kepada tanah air. Ia juga mengingatkan tentang tantangan yang dihadapi generasi muda pada era digital.
Menurutnya, banyak generasi muda lebih mencintai dan menghabiskan waktunya untuk media sosial, seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan berbagai bentuk hiburan digital lainnya, sementara waktu dan potensi mereka seharusnya digunakan untuk belajar dan mempersiapkan masa depan.
“Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan alam terbesar di dunia. Kekayaan utama Indonesia adalah pemuda. Tanpa pemuda, Indonesia tidak akan merdeka,” tegas Syekh Muhammad Auf.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa pendidikan yang mereka jalani bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan juga merupakan bagian dari persiapan untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada Kamis pagi, 13 Agustus 2026, ketika Syekh Muhammad Auf memberikan tausiah dan motivasi di hadapan seluruh santriwati yang bertempat di Gedung Fatimah lantai 3. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menekankan pentingnya mempersiapkan generasi yang memiliki ilmu, karakter, dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Para santriwati diajak untuk tidak hanya menjadi generasi yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara.
Pada Kamis siang, kegiatan dilanjutkan dengan tausiah dan motivasi di hadapan seluruh ustadz dan ustadzah Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah di Gedung Hafsah lantai 3. Kepada para pendidik, Syekh Muhammad Auf menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh metode, kurikulum, maupun fasilitas, tetapi juga oleh hubungan batin antara pendidik dan peserta didik.
“Aspek utama dalam pendidikan adalah cinta,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan para pendidik agar pendidikan senantiasa diarahkan pada pembentukan manusia yang memiliki keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan agama. “Hiduplah dengan ilmu, akhlak, dan agama,” pesannya.
Selain Syekh Muhammad Auf, Al-Ustadz Orhan Akzade juga memberikan orasi yang tidak kalah menarik dan menggugah. Dalam orasinya, ia menyampaikan berbagai pesan yang berkaitan dengan kecintaan kepada Negara Indonesia serta pentingnya peran generasi muda dalam membangun masa depan bangsa. Ia mengajak untuk memahami bahwa pendidikan bukan sekadar proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga proses membentuk pribadi yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat, dan negara.
Semangat mencintai Indonesia, menurut Al-Ustadz Orhan Akzade, harus tumbuh seiring dengan semangat menuntut ilmu dan memperbaiki kualitas diri. Generasi muda yang memiliki ilmu, akhlak, dan kecintaan kepada tanah air merupakan modal penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Karena itu, para santri diharapkan mampu memanfaatkan masa pendidikan di pesantren untuk membangun kapasitas diri dan mempersiapkan kontribusi terbaik bagi Indonesia di masa mendatang.
Kunjungan Syekh Muhammad Auf dan Al-Ustadz Orhan Akzade ke Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah selama dua hari tersebut menjadi momentum penting dalam memperluas wawasan para santri dan pendidik melalui pertukaran gagasan, pengalaman, serta nilai-nilai pendidikan. Kehadiran keduanya juga memberikan penguatan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan generasi yang berilmu, berakhlak, memiliki wawasan luas, serta mencintai bangsa dan negaranya.
by Ar-Raudlatul Hasanah | Aug 17, 2026 | Berita
RAUDHAH – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah melaksanakan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin, 17 Agustus 2026/4 Rabiul Awal 1448 H. Upacara berlangsung di dua lokasi, yakni Lapangan Sepak Bola Pesantren untuk santri putra dan Lapangan Olahraga untuk santriwati.
Upacara diikuti oleh Direktur dan Wakil Direktur Pesantren, Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah, para ustaz dan ustazah, serta seluruh santri dan santriwati. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini mengusung semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, sebuah tema yang menjadi refleksi penting bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan bangsa ke depan.
Pada upacara putra, Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustadz KH. Miftakhuddin, MM., bertindak sebagai inspektur upacara. Sementara itu, Wakil Direktur Pesantren, Ustadz Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom., bertindak sebagai inspektur upacara pada upacara putri.
Dalam amanatnya, Ustadz Carles Ginting menekankan bahwa kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan secara fisik. Kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui kemampuan bangsa untuk berdiri sendiri, memiliki ilmu pengetahuan, serta mampu menentukan arah masa depannya.
Menurutnya, berdaulat berarti memperkuat kemampuan bangsa untuk mandiri sekaligus menjaga kedaulatan negara. Karena itu, generasi muda perlu memahami apa yang menjadi arah perjalanan Indonesia ke depan.
“Kita sebagai pemuda harus mengerti apa dan ke mana arah negara Indonesia ke depan. Jika kemandirian terwujud, maka wibawa akan muncul untuk negara ini. Kita bertanggung jawab atas negeri ini,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa keadilan tidak dapat dipisahkan dari kualitas manusia yang memimpin bangsa. Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk melahirkan generasi yang memiliki ilmu, keimanan, dan tanggung jawab.
Dalam konteks tersebut, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah memiliki peran strategis sebagai lembaga pendidikan yang turut mempersiapkan anak-anak bangsa. Para santri dan santriwati tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan agama, tetapi juga harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan zaman.
“Untuk memakmurkan Indonesia, kita membutuhkan ilmu yang luas. Caranya adalah belajar dengan baik. Santri harus paham sebagai anak bangsa yang memiliki tanggung jawab besar untuk bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Ustadz Carles juga mengajak para santri untuk tidak membangun mentalitas yang mudah mengeluh dan menyalahkan keadaan. Menurutnya, peringatan kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk membangun kesadaran bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab dalam melanjutkan perjuangan bangsa.
Sementara itu, dalam amanatnya kepada santri putra, Ustadz KH. Miftakhuddin, MM., mengajak seluruh santri untuk belajar dari sejarah perjuangan bangsa sekaligus meneladani tokoh-tokoh besar yang memiliki cita-cita, keberanian, ilmu, dan akhlak yang kuat.
Ia menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari keberanian manusia-manusia yang berani bercita-cita ketika cita-cita tersebut dianggap mustahil, berani berjuang ketika kemenangan belum terlihat, dan berani berkorban ketika hasil perjuangan belum dapat dinikmati.
“Bangsa besar tidak lahir dari cita-cita kecil. Perjuangan besar tidak lahir dari jiwa yang kerdil. Dan kemenangan besar tidak lahir dari ikhtiar yang setengah-setengah,” tegasnya.
Semangat tersebut, lanjutnya, juga menjadi bagian dari perjalanan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Pesantren tidak bermula dari gedung yang megah, kekayaan yang melimpah, ataupun fasilitas yang lengkap. Ia lahir dari gagasan besar, cita-cita besar, keikhlasan, keberanian, dan pengorbanan para perintisnya.
Para pendiri dan perintis pesantren, menurutnya, telah melihat sesuatu yang mungkin belum dilihat banyak orang pada masanya, yakni bahwa masa depan umat harus dipersiapkan melalui pendidikan generasi muda.
Karena itu, kekayaan terbesar Indonesia sesungguhnya bukan hanya tanah yang luas, laut yang kaya, atau sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan terbesar Indonesia adalah manusianya, sementara kekuatan terbesar masa depan Indonesia adalah pemudanya.
“Di antara pemuda-pemuda itu adalah kalian, santri-santri Ar-Raudlatul Hasanah,” pesannya.
Dalam amanat tersebut, santri juga diajak untuk belajar dari sosok Muhammad Al-Fatih, seorang tokoh yang memiliki tujuan besar, kemauan belajar yang besar, serta akhlak yang besar. Ketiga hal tersebut menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan kehidupan.
Menurut Ustadz KH. Miftakhuddin, musuh dari cita-cita besar sering kali bukan orang lain, melainkan kelemahan yang ada di dalam diri sendiri, seperti kemalasan, ketakutan, mudah menyerah, suka mengeluh, mencari alasan, dan menyalahkan orang lain.
Sedikit kesulitan tidak boleh membuat seorang santri menyerah. Sedikit kegagalan tidak boleh menjadikannya putus asa. Kritik tidak seharusnya membuat kehilangan semangat, begitu pula tekanan tidak boleh membuat perjuangan berhenti.
“Bagi seorang santri, kemerdekaan berarti membebaskan diri dari kebodohan, kemalasan, ketakutan, ketergantungan, hawa nafsu, dan mentalitas menyerah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang merdeka, yaitu manusia yang mampu menguasai dirinya sebelum memimpin orang lain. Sebab, cita-cita besar selalu menuntut pengorbanan besar.
Lebih lanjut, ia mengingatkan para santri agar kebanggaan terhadap Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah tidak berhenti pada ungkapan bahwa pesantren mereka adalah pesantren besar. Justru semakin besar sebuah lembaga, semakin besar pula harapan, amanah, tanggung jawab, perjuangan, dan manfaat yang harus diberikan oleh para alumninya.
“Jangan hanya bangga menjadi bagian dari Ar-Raudlatul Hasanah. Buatlah Ar-Raudlatul Hasanah bangga karena perjuangan dan karya kita,” pesannya.
Para santri juga diajak mengubah cara pandang dari sekadar bertanya tentang apa yang telah diberikan pesantren kepada mereka, menjadi pertanyaan tentang apa yang telah mereka berikan kepada pesantren. Begitu pula terhadap Indonesia, kelak mereka diharapkan tidak hanya bertanya apa yang telah diberikan Indonesia kepada dirinya, tetapi apa karya besar yang dapat dipersembahkan untuk agama, umat, bangsa, dan dunia.
Semarak peringatan kemerdekaan di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah kemudian dilanjutkan dengan berbagai perlombaan yang berlangsung sejak 13 hingga 17 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi santri dan santriwati untuk membangun kebersamaan, sportivitas, kreativitas, serta semangat persaudaraan.
Berbagai perlombaan yang digelar di antaranya tarik tambang, panjat pinang, estafet rubik, makan kerupuk, paku dalam botol, pecah balon, catur, balap karung, voli sarung, trigling, dan berbagai perlombaan lainnya.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari cara Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah memaknai kemerdekaan: bukan hanya dengan mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga dengan mempersiapkan generasi yang memiliki ilmu, akhlak, kemandirian, keberanian, dan semangat perjuangan.
Dari pesantren, semangat kemerdekaan itu diharapkan terus tumbuh menjadi cita-cita besar: melahirkan generasi yang mampu menjaga kedaulatan, menegakkan keadilan, ikut mewujudkan kemakmuran, serta memberikan manfaat bagi agama, umat, bangsa, dan dunia.

by Ar-Raudlatul Hasanah | Aug 15, 2026 | Berita
RAUDHAH – Pekan Olahraga dan Seni Khutbatul ‘Arsy (PORSEKA) 2026 resmi berakhir setelah seluruh rangkaian perlombaan olahraga dan seni yang diikuti santri dan wati Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah selesai dilaksanakan. Upacara penutupan digelar pada Jum’at, 14 Agustus 2026, di Lapangan Sepak Bola Pesantren untuk santri putra dan Lapangan Belakang Gedung Khadijah untuk santri putri.
Prosesi penutupan berlangsung sebagaimana pembukaan PORSEKA beberapa hari sebelumnya pada tanggal 7 Agustus 2026. Penurunan bendera dan pemadaman api PORSEKA menjadi simbol berakhirnya salah satu agenda dalam rangkaian Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy.
PORSEKA tidak hanya menjadi ajang untuk memperebutkan gelar juara, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan santri. Melalui berbagai pertandingan dan perlombaan, para santri dilatih untuk memiliki sikap sportif, disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, serta menghargai hasil perjuangan orang lain.
Dalam sambutannya, Wakil Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Al-Ustadz H. Miftakhuddin, S.S., S.Pd.I., MM., menyampaikan bahwa PORSEKA memiliki nilai pendidikan yang berkaitan erat dengan pembentukan karakter.
Usai upacara penutupan, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian hadiah kepada para pemenang. Para juara berasal dari berbagai asrama dan kategori, baik dalam cabang olahraga maupun kesenian.
Berakhirnya PORSEKA 2026 menjadi penanda selesainya rangkaian kompetisi, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan selama kegiatan diharapkan tetap melekat dalam kehidupan para santri dan santriwati.
Sportivitas, kejujuran, kerja sama, disiplin, keberanian, kreativitas, serta ukhuwah menjadi bagian penting dari proses pendidikan yang berlangsung di balik setiap pertandingan.
Adapun hasil lengkap cabang olahraga putra senior adalah sebagai berikut:
Tenis Meja:
Juara 1: ASAATIDZ
Juara 2: SAUDI 2
Juara 3: JIHAD 3
Badminton:
Juara 1: ALL STAR 3 & 1INT
Juara 2: JIHAD 3
Juara 3: SAUDI 2
Sepak Takraw:
Juara 1: SAUDI 2
Juara 2: MAKKAH 1B
Juara 3: JIHAD 1
Voli:
* Juara 1: SAUDI 2
* Juara 2: MAKKAH 1B
* Juara 3: MAKKAH 1A
Basket:
Juara 1: SAUDI 2
Juara 2: ASAATIDZ
Juara 3: MAKKAH 1A
Sepak Bola:
Juara 1: JIHAD 1
Juara 2: ASAATIDZ
Juara 3: SAUDI 2
Sementara kategori junior menghasilkan sejumlah juara dari berbagai asrama.
Tenis Meja:
Juara 1: SAUDI 3
Juara 2: MAKKAH 3B
Juara 3: RAMADHAN 2
Badminton:
Juara 1: RAMADHAN 1
Juara 2: RAMADHAN 3
Juara 3: RAMADHAN 2
Sepak Takraw:
Juara 1: RAMADHAN 1
Juara 2: MAKKAH 2A
Juara 3: MAKKAH 3A
Voli:
Juara 1: SAUDI 3
Juara 2: MAKKAH 3A
Juara 3: RAMADHAN 3
Basket:
Juara 1: MAKKAH 3A
Juara 2: RAMADHAN 3
Juara 3: SAUDI 3
Sepak Bola:
Juara 1: MAKKAH 2A
Juara 2: MAKKAH 3B
Juara 3: RAMADHAN 1
Pada cabang kesenian, para santri menunjukkan kemampuan melalui kaligrafi, sketsa, handycraft, dan kaligrafi dekorasi.
Kaligrafi Murni:
Juara 1: Hanafi Ansari — 4F — JHD 2
Juara 2: Asfa Raihan — 1xB — S3
Juara 3: Ray Naufal — 5J — JHD 3
Harapan 1: Saltan Taqi — 2D — MKH 2B
Kaligrafi Kontemporer:
Juara 1: M. Reda — 5D
Juara 2: Mustaqim Sihotang — 5F
Juara 3: Angga Tri — 5F
Harapan 1: Hafiz Yuhan — 5D
Sketsa:
Juara 1: Dzaki Adli — 4J — JHD 3
Juara 2: Rifqi Fattahillah — 5F — MKH 3A
Juara 3: Irfan Fakhri — 5N — JHD 2
Harapan 1: Ersya Afandi — 6N — MKH 1A
Harapan 2: Atar Huda — 5J — MKH 3B
Harapan 3: Athalariq Syach — 4D — JHD 2
Handycraft:
Juara 1: MAKKAH 2A
Juara 2: AL JIHAD 3
Juara 3: AL MAKKAH 2B
Kaligrafi Dekorasi:
Juara 1: MAKKAH 3A
Juara 2: SAUDI 3
Juara 3: AL JIHAD 3
Sementara itu, PORSEKA putri berlangsung dengan mempertandingkan berbagai cabang olahraga dan kesenian. Pada cabang olahraga, perlombaan meliputi pecah piring, basket, hadang, badminton tunggal, badminton ganda, senam, dan voli.
Pecah Piring:
Juara 1: Ruqayyah 1B
Juara 2: Khadijah 1
Juara 3: Ruqayyah 3A
Juara 4: Ruqayyah 2A
Juara 5: Ruqayyah 2B
Basket:
Juara 1: Khadijah 1
Juara 2: Ruqayyah 3A
Juara 3: Ruqayyah 3C
Juara 4: Khadijah 3
Juara 5: Khadijah 2
Hadang:
Juara 1: Ruqayyah 3A
Juara 2: Khadijah 1
Juara 3: Ruqayyah 2C
Juara 4: Khadijah 3
Juara 5: Khadijah 3
Badminton Tunggal:
Juara 1: Ruqayyah 3C
Juara 2: Khadijah 2
Juara 3: Ruqayyah 2A
Juara 4: Ruqayyah 3A
Juara 5: Khadijah 3
Badminton Ganda:
Juara 1: Ruqayyah 1B
Juara 2: Khadijah 3
Juara 3: Khadijah 1
Juara 4: Khadijah 2
Juara 5: Ruqayyah 3B
Senam
Juara 1: Ruqayyah 3C
Juara 2: Ruqayyah 2A
Juara 3: Ruqayyah 3B
Juara 4: Ruqayyah 3A
Juara 5: Ruqayyah 2C
Voli:
Juara 1: Khadijah 1
Juara 2: Ruqayyah 3A
Juara 3: Ruqayyah 2C
Juara 4: Khadijah 3
Juara 5: Ruqayyah 3C
Pertandingan juga melibatkan para ustadzah melalui cabang pecah piring dan badminton tunggal.
Pecah Piring Ustadzah
Juara 1: Tim Pengasuhan
Juara 2: Tim Najihah
Juara 3: Tim KMI
Juara 4: Tim STIT
Badminton Tunggal Ustadzah
Juara 1: Ush Dwi Ayu
Juara 2: Ush Nadya Rizky
Juara 3: Ush Elais Guineensis
Juara 4: Ush Dila Sari
Juara 5: Ush Cintia Dewi
Juara 6: Ush Fitri Randia
Pada cabang kesenian, kreativitas wati ditampilkan melalui nasyid, tari, kaligrafi kontemporer, menjahit, handycraft, memasak, dan karaoke.
Nasyid:
Juara 1: Ruqayyah C
Juara 2: Ruqayyah B
Juara 3: Ruqayyah A
Juara 4: Khadijah
Tari:
Juara 1: Ruqayyah B
Juara 2: Ruqayyah C
Juara 3: Ruqayyah A
Juara 4: Khadijah
Kaligrafi Kontemporer
Juara 1: Mesra Kezia
Juara 2: Cut Zahra
Juara 3: Naura Aizara
Juara 4: Romilja Zulfa
Juara 5: Diah Ayu
Menjahit
Juara 1: Aisyah
Juara 2: Khadijah
Juara 3: Ruqayyah B
Juara 4: Ruqayyah C
Handycraft:
Juara 1: Ruqayyah A
Juara 2: Ruqayyah B
Juara 3: Ruqayyah C
Juara 4: Khadijah
Juara 5: Aisyah
Memasak:
Juara 1: Aisyah
Juara 2: Ruqayyah C
Juara 3: Khadijah
Juara 4: Ruqayyah A
Juara 5: Ruqayyah C
Karaoke
Juara 1: Tiara Zahraini
Juara 2: Bunga Syakila
Juara 3: Adelia Maharani
Juara 4: Nurul Lathifa