RAUDHAH — Ahad, 18 Oktober 2026, bertepatan dengan 7 Jumadil Awal 1448 Hijriah, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah melaksankan Kesyukuran Milad ke-44 pesantren, alunan hadrah yang menenangkan hati melebur bersama derap langkah ratusan santri dan guru yang memenuhi ruangan. Gema energi hari itu tumpah ketika Prof. Dr. H. Husnan Bey Fananie, M.A. berdiri di atas panggung.

Sebagai Sekretaris Badan Wakaf Pesantren Modern Darussalam Gontor, pandangan KH. Husnan Bey Fananie melesat jauh melampaui sekat-sekat formalitas institusi pendidikan.

“Pesantren itu tak ada kurangnya dalam mencetak orang-orang yang bagus,” ujar KH Husnan Bey Fananie membuka pesannya. Ia mengingatkan agar para santri tidak terjebak pada rutinitas linier. “Jangan sekadar sekolah nyari ilmu. Sekolah saja tidak cukup, namun pondok itu membentuk jasmani, otak, dan pikiran agar berpikir cerdas.”

Di hadapan para santri, KH. Husnan Bey Fananie mengibaratkan proses pendidikan layaknya seni pembentukan gerabah. “Kita sedang dibentuk bagai tanah liat,” tuturnya. Proses itu panjang dan melelahkan, jauh berbeda dengan anak-anak di luar sana yang kerap lepas kendali di masa transisi dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) tanpa arah yang jelas.

Di luar pagar pesantren, kata KH. Husnan Bey Fananie, dunia luar kerap diwarnai tawuran dan pertengkaran bebas. Sebaliknya, di dalam pesantren, seluruh potensi diri santri dijaga ketat. “24 jam dikontrol: teng makan, teng kumpul, tak ada waktu kosong. Semua terkontrol,” tegasnya. Pengasuhan menyeluruh selama enam tahun di Ar-Raudlatul Hasanah adalah kawah candradimuka yang paling ideal untuk membentuk mentalitas baja.

Kedisiplinan ketat itu bukan tanpa hasil. Beliau menantang para santri untuk menguasai panggung global dengan penguasaan bahasa asing yang fasih. “Tamat pesantren, kita bantai cakap orang Arab, bahasa Inggris bisa kita bantai semua!” serunya membakar semangat.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa Ar-Raudlatul Hasanah berdiri di atas fondasi mulia: bermotto berbudi tinggi, berbadan sehat sebagai syarat utama, berpengetahuan luas, serta berorientasi menjadi manusia yang siap dipimpin sekaligus siap memimpin. Bekas didikan pesantren ini kelak akan menjadi warisan berharga yang bisa dibanggakan hingga ke anak-cucu di masa depan.

Poin-poin tersebut otomatis membentuk karakter santri dari dalam diri. “Santri otomatis sudah dibentuk nilai dalam diri, yaitu nyali yang sudah tertanam,” ungkap KH. Husnan Bey. Ia menutup orasinya dengan metafora yang menghujam tajam ke sanubari: “Santri itu ibarat harimau yang menolak semua apa yang dapat.”—simbol ketangguhan predator yang siap menelan dan menaklukkan segala tantangan zaman tanpa pernah kehilangan arah.

Ia lantas mengakhiri pesannya dengan kalimat pamungkas yang menggema di setiap sudut: “Jangan takut hidup, hiduplah yang berarti!”

Chat Via WhatsApp