RAUDHAH – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menerima kunjungan dan silaturahmi dari Syekh Muhammad Auf, Sekretaris Umum Yayasan Pendidikan dan Budaya Manarah, Turki, bersama Al-Ustadz Orhan Akzade yang mengelola Pusat Penelitian dan Kajian Ufuk (Ufuk-cû), Turki, pada Rabu–Kamis, 12–13 Agustus 2026. Kunjungan tersebut diisi dengan rangkaian tausiah, motivasi, dan orasi pendidikan yang disampaikan kepada santri, santriwati, serta para ustadz dan ustadzah.

 

Pada Rabu siang, 12 Agustus 2026, Syekh Muhammad Auf menyampaikan tausiah dan motivasi di hadapan seluruh santri yang berlangsung di lantai 2 Masjid Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Dalam kesempatan tersebut, Syekh Muhammad Auf mengingatkan para santri bahwa mereka merupakan generasi yang memiliki peran penting dalam menentukan masa depan Indonesia. “Kalian adalah generasi yang diharapkan Indonesia. Kalian adalah kekayaan terbesar Indonesia,” ujarnya di hadapan para santri.

 

Syekh Muhammad Auf menegaskan bahwa kekayaan Indonesia tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga pada kualitas generasi mudanya. Karena itu, para pemuda harus dipersiapkan dengan ilmu, karakter, dan kecintaan kepada tanah air. Ia juga mengingatkan tentang tantangan yang dihadapi generasi muda pada era digital.

 

Menurutnya, banyak generasi muda lebih mencintai dan menghabiskan waktunya untuk media sosial, seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan berbagai bentuk hiburan digital lainnya, sementara waktu dan potensi mereka seharusnya digunakan untuk belajar dan mempersiapkan masa depan.

 

“Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan alam terbesar di dunia. Kekayaan utama Indonesia adalah pemuda. Tanpa pemuda, Indonesia tidak akan merdeka,” tegas Syekh Muhammad Auf.

 

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa pendidikan yang mereka jalani bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan juga merupakan bagian dari persiapan untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa.

 

Rangkaian kegiatan berlanjut pada Kamis pagi, 13 Agustus 2026, ketika Syekh Muhammad Auf memberikan tausiah dan motivasi di hadapan seluruh santriwati yang bertempat di Gedung Fatimah lantai 3. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menekankan pentingnya mempersiapkan generasi yang memiliki ilmu, karakter, dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

 

Para santriwati diajak untuk tidak hanya menjadi generasi yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara.

 

Pada Kamis siang, kegiatan dilanjutkan dengan tausiah dan motivasi di hadapan seluruh ustadz dan ustadzah Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah di Gedung Hafsah lantai 3. Kepada para pendidik, Syekh Muhammad Auf menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh metode, kurikulum, maupun fasilitas, tetapi juga oleh hubungan batin antara pendidik dan peserta didik.

 

“Aspek utama dalam pendidikan adalah cinta,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan para pendidik agar pendidikan senantiasa diarahkan pada pembentukan manusia yang memiliki keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan agama. “Hiduplah dengan ilmu, akhlak, dan agama,” pesannya.

 

Selain Syekh Muhammad Auf, Al-Ustadz Orhan Akzade juga memberikan orasi yang tidak kalah menarik dan menggugah. Dalam orasinya, ia menyampaikan berbagai pesan yang berkaitan dengan kecintaan kepada Negara Indonesia serta pentingnya peran generasi muda dalam membangun masa depan bangsa. Ia mengajak untuk memahami bahwa pendidikan bukan sekadar proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga proses membentuk pribadi yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat, dan negara.

 

Semangat mencintai Indonesia, menurut Al-Ustadz Orhan Akzade, harus tumbuh seiring dengan semangat menuntut ilmu dan memperbaiki kualitas diri. Generasi muda yang memiliki ilmu, akhlak, dan kecintaan kepada tanah air merupakan modal penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Karena itu, para santri diharapkan mampu memanfaatkan masa pendidikan di pesantren untuk membangun kapasitas diri dan mempersiapkan kontribusi terbaik bagi Indonesia di masa mendatang.

 

Kunjungan Syekh Muhammad Auf dan Al-Ustadz Orhan Akzade ke Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah selama dua hari tersebut menjadi momentum penting dalam memperluas wawasan para santri dan pendidik melalui pertukaran gagasan, pengalaman, serta nilai-nilai pendidikan. Kehadiran keduanya juga memberikan penguatan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan generasi yang berilmu, berakhlak, memiliki wawasan luas, serta mencintai bangsa dan negaranya.

Chat Via WhatsApp