Muhadharah Akbar; Raudlah 2 Tampilkan Santri & Santriwati Terbaik Sebagai Contoh

Muhadharah Akbar; Raudlah 2 Tampilkan Santri & Santriwati Terbaik Sebagai Contoh

Raudlah 2 Lumut, Pembukaan latihan pidato 3 Bahasa di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 dimulai dengan menampilkan santri/santriwati terbaik dari ruangan muhadarahnya tahun lalu. Acara berlangsung di masjid Baitul Mughni Pesantren dengan dihadiri bapak-bapak kepala bidang, para ustadz dan ustadzah serta seluruh santri-santriwati dari kelas 1 hingga kelas 6, kamis malam, 11/07.

Dalam Muhadarah Akbar ini pesantren ingin menunjukkan contoh yang baik bagi seluruh santri/santriwatinya terkhusus bagi santri/santriwati baru, berharap dengan melihat kakakannya bisa, mereka akan termotivasi juga menjadi lebih baik. 

Selain sebagai percontohan, pesantren juga melatih mental keberanian mereka untuk berbicara di depan orang banyak, dengan tutur kata yang teratur, bahasa yang sopan, serta sikap penuh rasa percaya diri dan tidak arogan.

Dan terakhir tujuan dari pidato ini adalah agar Anak kami tahu dan tidak tertipu oleh karena bahasa. Sebagaimana pepatah arab yang sering kita dengar, “Man ‘arofa lughota qoumin salima min makrihim”: Barang siapa memahami bahasa suatu kaum maka dia akan selamat dari tipu daya kaum tersebut. Sampai kesanalah kira-kira upaya pidato 3 bahasa ini di laksanakan. 

Besar keinginan kami, santri raudlah 2 Lumut bisa piawai dalam berbahasa dan berorasi. Tinggi cita-cita kami terhadap kalian, kelak akan lahir dari santri-santriwati pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Lumut ini singa-singa podium, seperti Alm. Ust. KH. Zainuddin MZ, Ustadz Abdul Somad dan santriwatinya seperti Mama dedeh atau usth. Oki Setiana Dewi. Aamiin ya Rabbal’alamiin. Sambutan Kepala bidang pengasuhan Al-Ustadz Jainal Abidin, Lc, ketika membuka acara  Muhadarah Akbar tersebut.

Selanjutnya ada sebuah pantun sebagai penutup: 

Pergi ke pantai bersama ayah

Membawa apel, jangan sampai jatuh

Wabillahit taufiq wal hidayah

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Ed. Irhas

Silaturrahim Keluarga Besar; Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Lumut Menjelaskan Arah dan Tujuannya.

Silaturrahim Keluarga Besar; Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Lumut Menjelaskan Arah dan Tujuannya.

Raudlah 2 Lumut. “Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Lumut bukan bengkel, bukan tukang sulap yang mampu merubah sesuatu dari buruk menjadi baik dalam waktu sekejab, perlu ada waktu yang panjang dalam mendidik, perlu ada kesabaran lebih mendalam ketika mengajar dan dibutuhkan pemikiran mendasar untuk memberikan pencerahan dan terobosan agar pesantren dan santri/santriwatinya dapat menjadi lebih baik.” Sambut pewakif Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Lumut, Drs. H. Abdul Aman Nasution saat mengucapkan kalimat selamat datang dalam acara “Silaturrahim Keluarga Besar Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Dengan Wali Santri/Wati Baru Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Lumut.” di Masjid Pesantren. Ahad, 7/7.

Selain silaturrahim, pesantren juga menerangkan bagaimana arah, kiprah, serta visi-misi pesantren dan juga cita-cita pesantren ke depannya. Diantaranya terangkum dalam sambutan Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Lumut, Al-Ustadz Supriadi, M.Pd.I bahwa: “Pesantren ini adalah wakaf, milik kita bersama, harus sama-sama kita jaga, kita kembangkan dan kita perjuangkan bersama. Dalam upaya menjaganya bapak-ibu kami harapkan bisa memahami pesantren dan ikut serta dalam menjalankan disiplin serta aturan yang berlaku di pesantren, saat waktu shalat biarkan anak shalat berjama’ah jangan di panggil, di saat anak masuk kelas, tunggu hingga waktu istirahat atau usai pulang sekolah baru di jumpai, intinya jangan merusak aturan pondok, sebab kami sebagai guru-guru di sini juga benar-benar berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik anak-anak kami dengan sepenuh hati, memantau shalat mereka, makan mereka, bahasa mereka serta perkembangan keilmuan mereka. Mendidik mereka menjadi diri yang mandiri dengan jiwa kesederhanaan adalah terget utama kami saat ini.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang kami hormati, Raudlah tidak pernah membeda-bedakan anak-anak kami dari status sosial orang tuanya, siapapun dia tetap di perlakukan sesuai dengan porsinya masing-masing, tetap tinggal dalam kamar yang sama, makan dan minum di dapur yang sama, mandi di kamar mandi yang sama, hingga belajar di kelas dan guru yang sama, tidak ada pengkotak-kotakan menurut strata sosial orang tuanya, seperti yang terangkum dalam semboyan pesantren, Raudlah Di Atas Dan Untuk Semua Golongan.”

Selain menjelaskan tentang aturan, disiplin, perkembangan pesantren dan juga memperkenalkan wali kelas 1 dan 1 Intensif kepada orang tua/wali santri/santriwati baru, bapak direktur juga menekankan bahwa segala bentuk pekerjaan anak-anak kita di pesantren ini tidak lepas dari nilai-nilai kepondokmodernan. Semboyannya: “Apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar dan apa yang kamu rasakan adalah pendidikan” begitulah pola pendidikan di pesantren modern ini. Maka dari itu, jangan pernah mengira piket rayonnya anak-anak, membuang sampah, piket kelas, diajak gotong royong oleh ustadz dan ustadzahnya adalah memanfaatkan tenaga mereka, tidak…. bukan…. sama sekali tidak demikian, akan tetapi ini adalah upaya mendidik mereka tentang bagaimana hidup dan kehidupan, bagaimana arti kebersamaan dan pola gotong royong di masyarakat, begitulah pesantren mengajarkan trilogi pendidikan melalui praktek lapangan langsung.

Di akhir sambutannya, bapak direktur menjelaskan bahwa seluruh guru (ustadz/ustadzah) yang ada di sini bukan pekerja tapi pejuang fi sabilillah, yang berfokus mencetak, mendidik dan mengajarkan santri/wati agar bisa menjadi santri yang memiliki potensi apa saja sehingga dapat terjun dan siap penjadi pejuang dimanapun dia berada, sebab dibumi manapun dia berpijak, maka dialah yang bertanggungjawab akan keislamannya.”

Tepat ketika MC menutup acara, di sambut dengan bergeraknya Direktur menyalami orang tua wali di dampingi bapak pewakif, bapak-bapak kepala bidang dan seluruh wali kelas, ustadz dan ustadzah yang dilanjutkan dengan temu akrab orang tua bersama wali kelas anaknya di dalam masjid pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Lumut. Ed. Irhas.

Pesantren RH 2 Lumut Terima Zakat Harta dan Infaq Tunai Rp. 10.000.000,- Dari ‘Muhsinin’

Pesantren RH 2 Lumut Terima Zakat Harta dan Infaq Tunai Rp. 10.000.000,- Dari ‘Muhsinin’

Raudlah 2 Lumut. 22/02/19. Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Lumut dalam upaya pembangunan serta peningkatan sarana dan prasarana mendapatkan zakat mal (harta) dari bapak Iqbal Pane (putra dari pendiri HMI) sebesar Rp. 5.000.000,- dan juga Infak atas nama Alm. Lafran Pane dan Alm. Marha Dewi (ayah dan ibu bapak Iqbal Pane dan juga orang tua angkat bapak Muhammad Ilyas Tarigan semasa tinggal di Jogja) sebesar Rp. 5.000.000,-, dikirimkan melalui rekening Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 Lumut.

Menurut perencanaannya Pesantren ingin membangun asrama putri, dapur putri, kelas putri, kelas putra, Gedung serbaguna pesantren, perkantoran pusat administrasi, pembebasan tanah, pemerataan tanah  dan pembangunan sarana prasarana pesantren seperti: Lapangan bola kaki, lapangan bola basket, lapangan takraw,  dan lain sebagainya.

Berdasarkan program dan cita-cita pembangunan pesantren yang lebih baik, kiranya masih membutuhkan dana yang tidak sedikit. Maka dari itu pesantren siap menjadi ladang amal bapak/ibu/saudara/i dalam hal menyalurkan wakaf, zakat mal, dan infaq terbaik Antum demi Pembangunan yang lebih baik lagi di tanah wakaf murni Allah swt ini.

Semoga setiap barang/rupiah yang diwakafkan/zakatkan/infaqkan mendapatkan balasan yang terus mengalir hingga akhir zaman dan harta yang ditinggalkan senantiasa diberikan keberkahan. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.