RAUDHAH – Santri dan santriwati kelas 5 KMI Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menghadirkan penampilan terbaik melalui Maha Karya Akbar Drama Arena 537 yang digelar pada Kamis–Jumat malam, 21–22 Agustus 2026/7–8 Rabi’ul Awal 1448 H. Mengusung tema “Risaalah”, Drama Arena tahun ini tidak hanya menjadi panggung kreativitas seni, tetapi juga ruang untuk menyampaikan pesan pendidikan, keteladanan, dan semangat perubahan.

Drama Arena merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Kegiatan ini menjadi wadah bagi santri dan santriwati kelas 5 KMI untuk menampilkan berbagai kreativitas yang telah dipersiapkan secara kolektif, sekaligus melatih keberanian, kepemimpinan, kerja sama, kedisiplinan, dan kemampuan menyampaikan pesan melalui seni.

Pada DA 537, tema “Risaalah” memiliki makna yang sangat mendalam. Melalui “Risaalah”, santri dan santriwati kelas 5 KMI diharapkan mampu meneladani perjuangan Rasulullah ﷺ dengan memulai perubahan dari diri sendiri.

Dari pribadi yang baik diharapkan lahir keluarga yang baik, masyarakat yang baik, hingga peradaban yang lebih baik. Semangat tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah As-Saffat ayat 37:

 

﴿بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ﴾

 

“Sebenarnya, dia (Muhammad) datang membawa kebenaran dan membenarkan para rasul.”

Ayat tersebut menjadi doa dan harapan bagi mereka agar senantiasa dekat dengan Al-Qur’an, menjadikannya sebagai pedoman hidup, serta tumbuh sebagai generasi yang membawa kebenaran, menjaga amanah, dan menghadirkan keteladanan di mana pun mereka berada.

Rangkaian acara Drama Arena 537 dirancang secara terstruktur dengan memadukan seni, musik, drama, tari, video, sastra, dakwah, dan pesan moral. Penampilan diawali dengan video ucapan selamat dan nasyid, kemudian dilanjutkan dengan penampilan tilawah Al-Qur’an, sambutan, tari persembahan, serta pembukaan acara.

Memasuki pertunjukan utama, suasana panggung semakin hidup melalui Grand Opening yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan tematik. Pada penampilan putra, di antaranya terdapat Buya Hamka, Shalawat Akbar, Tundang-Tundangan, Pantomim, Tazkir, La Fuerza, Fighter, Sirat (Sidang Rakyat), Pudar, Becaks, T.K.P (The King of Pop), D.K.S (Dukun Katanya Sakti), A.O.T (Art of Talent), hingga Folk Song.

Sementara itu, penampilan putri menghadirkan rangkaian karya seperti Grand Opening, Drama “Rahma El Yunusiyah”, Gen Berkata, Shalawat Akbar, SHS (Suara Hati Santriwati), Ignite, Sang Garuda, Ibadah, Drama Kabaret, ASEAN Dance, hingga Folk Song.

Keunikan Drama Arena 537 juga terlihat dari penggunaan video-video pendek sebagai penghubung antarrangkaian penampilan. Video tersebut memuat pesan moral, pendidikan, kehidupan santri, keteladanan, serta berbagai refleksi yang bernuansa nilai-nilai Islam. Kehadiran video membuat pertunjukan tidak hanya berfokus pada panggung, tetapi juga menghadirkan pesan yang dapat direnungkan oleh para penonton.

Rundown yang telah disusun menunjukkan bahwa pertunjukan berlangsung dalam rangkaian panjang dengan perpaduan antara penampilan langsung dan multimedia. Pada penampilan putra, keseluruhan rangkaian tercatat memiliki durasi sekitar 3 jam 18 menit, sedangkan rangkaian putri berlangsung sekitar 3 jam 24 menit. Pengelolaan panggung, tata cahaya, suara, mikrofon, video, serta perpindahan antarpementasan menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran pertunjukan.

Di balik kemeriahan tersebut, terdapat proses panjang yang menuntut kekompakan seluruh anggota angkatan. Setiap santri dan santriwati mengambil peran masing-masing, baik sebagai pemain drama, penari, penyanyi, pembawa acara, pengisi video, pengisi musik, maupun bagian teknis pertunjukan.

Hal ini menjadikan Drama Arena sebagai bagian dari pendidikan yang berlangsung melalui pengalaman langsung. Santri belajar bagaimana sebuah karya besar tidak dapat diwujudkan oleh satu orang, melainkan membutuhkan kerja sama, pengorbanan, kedisiplinan, tanggung jawab, kreativitas, dan kesungguhan.

 

Chat Via WhatsApp