RAUDHAH – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah melaksanakan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin, 17 Agustus 2026/4 Rabiul Awal 1448 H. Upacara berlangsung di dua lokasi, yakni Lapangan Sepak Bola Pesantren untuk santri putra dan Lapangan Olahraga untuk santriwati.
Upacara diikuti oleh Direktur dan Wakil Direktur Pesantren, Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah, para ustaz dan ustazah, serta seluruh santri dan santriwati. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini mengusung semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, sebuah tema yang menjadi refleksi penting bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan bangsa ke depan.
Pada upacara putra, Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustadz KH. Miftakhuddin, MM., bertindak sebagai inspektur upacara. Sementara itu, Wakil Direktur Pesantren, Ustadz Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom., bertindak sebagai inspektur upacara pada upacara putri.
Dalam amanatnya, Ustadz Carles Ginting menekankan bahwa kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan secara fisik. Kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui kemampuan bangsa untuk berdiri sendiri, memiliki ilmu pengetahuan, serta mampu menentukan arah masa depannya.
Menurutnya, berdaulat berarti memperkuat kemampuan bangsa untuk mandiri sekaligus menjaga kedaulatan negara. Karena itu, generasi muda perlu memahami apa yang menjadi arah perjalanan Indonesia ke depan.
“Kita sebagai pemuda harus mengerti apa dan ke mana arah negara Indonesia ke depan. Jika kemandirian terwujud, maka wibawa akan muncul untuk negara ini. Kita bertanggung jawab atas negeri ini,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa keadilan tidak dapat dipisahkan dari kualitas manusia yang memimpin bangsa. Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk melahirkan generasi yang memiliki ilmu, keimanan, dan tanggung jawab.
Dalam konteks tersebut, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah memiliki peran strategis sebagai lembaga pendidikan yang turut mempersiapkan anak-anak bangsa. Para santri dan santriwati tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan agama, tetapi juga harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan zaman.
“Untuk memakmurkan Indonesia, kita membutuhkan ilmu yang luas. Caranya adalah belajar dengan baik. Santri harus paham sebagai anak bangsa yang memiliki tanggung jawab besar untuk bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Ustadz Carles juga mengajak para santri untuk tidak membangun mentalitas yang mudah mengeluh dan menyalahkan keadaan. Menurutnya, peringatan kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk membangun kesadaran bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab dalam melanjutkan perjuangan bangsa.
Sementara itu, dalam amanatnya kepada santri putra, Ustadz KH. Miftakhuddin, MM., mengajak seluruh santri untuk belajar dari sejarah perjuangan bangsa sekaligus meneladani tokoh-tokoh besar yang memiliki cita-cita, keberanian, ilmu, dan akhlak yang kuat.
Ia menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari keberanian manusia-manusia yang berani bercita-cita ketika cita-cita tersebut dianggap mustahil, berani berjuang ketika kemenangan belum terlihat, dan berani berkorban ketika hasil perjuangan belum dapat dinikmati.
“Bangsa besar tidak lahir dari cita-cita kecil. Perjuangan besar tidak lahir dari jiwa yang kerdil. Dan kemenangan besar tidak lahir dari ikhtiar yang setengah-setengah,” tegasnya.
Semangat tersebut, lanjutnya, juga menjadi bagian dari perjalanan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Pesantren tidak bermula dari gedung yang megah, kekayaan yang melimpah, ataupun fasilitas yang lengkap. Ia lahir dari gagasan besar, cita-cita besar, keikhlasan, keberanian, dan pengorbanan para perintisnya.
Para pendiri dan perintis pesantren, menurutnya, telah melihat sesuatu yang mungkin belum dilihat banyak orang pada masanya, yakni bahwa masa depan umat harus dipersiapkan melalui pendidikan generasi muda.
Karena itu, kekayaan terbesar Indonesia sesungguhnya bukan hanya tanah yang luas, laut yang kaya, atau sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan terbesar Indonesia adalah manusianya, sementara kekuatan terbesar masa depan Indonesia adalah pemudanya.
“Di antara pemuda-pemuda itu adalah kalian, santri-santri Ar-Raudlatul Hasanah,” pesannya.
Dalam amanat tersebut, santri juga diajak untuk belajar dari sosok Muhammad Al-Fatih, seorang tokoh yang memiliki tujuan besar, kemauan belajar yang besar, serta akhlak yang besar. Ketiga hal tersebut menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan kehidupan.
Menurut Ustadz KH. Miftakhuddin, musuh dari cita-cita besar sering kali bukan orang lain, melainkan kelemahan yang ada di dalam diri sendiri, seperti kemalasan, ketakutan, mudah menyerah, suka mengeluh, mencari alasan, dan menyalahkan orang lain.
Sedikit kesulitan tidak boleh membuat seorang santri menyerah. Sedikit kegagalan tidak boleh menjadikannya putus asa. Kritik tidak seharusnya membuat kehilangan semangat, begitu pula tekanan tidak boleh membuat perjuangan berhenti.
“Bagi seorang santri, kemerdekaan berarti membebaskan diri dari kebodohan, kemalasan, ketakutan, ketergantungan, hawa nafsu, dan mentalitas menyerah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang merdeka, yaitu manusia yang mampu menguasai dirinya sebelum memimpin orang lain. Sebab, cita-cita besar selalu menuntut pengorbanan besar.
Lebih lanjut, ia mengingatkan para santri agar kebanggaan terhadap Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah tidak berhenti pada ungkapan bahwa pesantren mereka adalah pesantren besar. Justru semakin besar sebuah lembaga, semakin besar pula harapan, amanah, tanggung jawab, perjuangan, dan manfaat yang harus diberikan oleh para alumninya.
“Jangan hanya bangga menjadi bagian dari Ar-Raudlatul Hasanah. Buatlah Ar-Raudlatul Hasanah bangga karena perjuangan dan karya kita,” pesannya.
Para santri juga diajak mengubah cara pandang dari sekadar bertanya tentang apa yang telah diberikan pesantren kepada mereka, menjadi pertanyaan tentang apa yang telah mereka berikan kepada pesantren. Begitu pula terhadap Indonesia, kelak mereka diharapkan tidak hanya bertanya apa yang telah diberikan Indonesia kepada dirinya, tetapi apa karya besar yang dapat dipersembahkan untuk agama, umat, bangsa, dan dunia.
Semarak peringatan kemerdekaan di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah kemudian dilanjutkan dengan berbagai perlombaan yang berlangsung sejak 13 hingga 17 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi santri dan santriwati untuk membangun kebersamaan, sportivitas, kreativitas, serta semangat persaudaraan.
Berbagai perlombaan yang digelar di antaranya tarik tambang, panjat pinang, estafet rubik, makan kerupuk, paku dalam botol, pecah balon, catur, balap karung, voli sarung, trigling, dan berbagai perlombaan lainnya.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari cara Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah memaknai kemerdekaan: bukan hanya dengan mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga dengan mempersiapkan generasi yang memiliki ilmu, akhlak, kemandirian, keberanian, dan semangat perjuangan.
Dari pesantren, semangat kemerdekaan itu diharapkan terus tumbuh menjadi cita-cita besar: melahirkan generasi yang mampu menjaga kedaulatan, menegakkan keadilan, ikut mewujudkan kemakmuran, serta memberikan manfaat bagi agama, umat, bangsa, dan dunia.
