Panggung Gembira 636 Hadirkan Mahakarya Seni Sarat Nilai Pendidikan

Panggung Gembira 636 Hadirkan Mahakarya Seni Sarat Nilai Pendidikan

RAUDHAH –Santri dan santriwati Akhir KMI Angkatan ke-36 sukses melaksanakan Pagelaran Seni Akbar Panggung Gembira 636 pada Kamis–Jumat malam, 27–28 Agustus 2026, bertempat di Gedung Serbaguna Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Kegiatan yang dimulai pukul 20.15 WIB tersebut berlangsung meriah dan spektakuler. Para penonton tampak antusias menyaksikan setiap penampilan yang dipersembahkan oleh santri/wati.

Panggung Gembira 636 merupakan mahakarya santri akhir kelas 6 KMI yang hadir sebagai salah satu puncak rangkaian Khutbatul ‘Arsy. Mengusung tema “Khalifah 636” dengan tagline “Khairul A’immah fil ‘Ilmi wal Iffah”, yang berarti sebaik-baik pemimpin adalah yang berilmu dan kehormatan. Konsep tersebut menggambarkan perjalanan, perjuangan, serta berbagai nilai yang ditempuh seorang santri selama menjalani kehidupan di pesantren.

Selama dua malam pelaksanaan, berbagai pertunjukan seni ditampilkan secara apik oleh santri/wati. Pada malam putri, Kamis, 27 Agustus 2026, penampilan yang disuguhkan di antaranya nasyid, master of ceremony, reading of Holy Qur’an, kata sambutan ketua panitia, tari persembahan, grand opening*, drama inspiratif “Sulthanah Syajarah Dur”, We Are the Best, Wayang Khalifah, shalawat dan Melodi Hijrah, Power Rangers, Wushu, drama musikal “Jangan Ragu”, Batak Rhythm, Rising of Garuda, drama kabaret “JAP (Jadi Apa Prok-Prok)”, *About You*, hingga Folksong.

Sementara itu, malam putra yang dilaksanakan pada Jumat, 28 Agustus 2026, menghadirkan sejumlah penampilan seperti nasyid, master of ceremony, reading of Holy Qur’an, kata sambutan ketua panitia, tari persembahan, grand opening, Sandang (Santri Berdendang), shalawat dan seruan umat, drama inspiratif, Thariq bin Ziyad, IGD (Internasional Great Dance), Khalifah Band, ceramah singkat, GTA (Gemilang Tari Aceh), Mills (Man of Indonesian X Light Stick), RCB 2 (Rawan Curigai Besi 2), BOS (Battle of Shinobi), KPK (Kritik Publik Kebijakan), Suara Hati Pohon, hingga Folksong.

Beragam penampilan tersebut menjadi bukti kreativitas dan kerja keras santri/wati dalam mempersiapkan sebuah pagelaran besar. Di balik setiap pertunjukan terdapat proses panjang yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari seni peran, musik, tari, puisi, dekorasi, kostum, kepanitiaan, hingga tata cahaya. Seluruh proses tersebut menjadi ruang bagi santri untuk belajar bekerja sama, bertanggung jawab, berdisiplin, berkomunikasi, serta mengembangkan jiwa kepemimpinan.

Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustaz KH. Miftakhuddin, MM., menegaskan bahwa Panggung Gembira di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah bukan semata-mata sebuah panggung pertunjukan, melainkan bagian dari proses pendidikan santri. Menurutnya, berbagai unsur yang terdapat dalam Panggung Gembira merupakan sarana atau wasilah untuk mencapai tujuan utama, yaitu pendidikan.

“Panggung Gembira di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah bukan hanya sekadar panggung, tapi panggung pendidikan. Ada dramanya, ada tarinya, ada musiknya, puisinya, dekorasinya, kostumnya, kepanitiaan, lighting-nya. Semua hal ini hanya sebagai wasilah untuk tujuan utama, yakni pendidikan,” ungkap Ustaz KH. Miftakhuddin, MM.

Ia menambahkan bahwa ukuran utama dari sebuah kegiatan bukanlah semata-mata pada sarana yang digunakan, tetapi pada tujuan pendidikan yang ingin dicapai melalui kegiatan tersebut. “Yang menjadi ukurannya adalah tujuan, bukan semata-mata sarana. Maka apa yang ditampilkan tujuannya adalah sebagai wasilah untuk mendidik,” lanjutnya.

Semangat tersebut sejalan dengan gagasan Khalifah 636 yang menempatkan ilmu dan akhlak sebagai fondasi penting dalam membentuk seorang pemimpin. Sosok khalifah yang diharapkan bukan hanya mereka yang mampu memimpin orang lain, tetapi juga pribadi yang mampu mengendalikan dan memimpin dirinya sendiri dengan ilmu, akhlak, dan kehormatan.

Pesan tentang perjalanan dan tanggung jawab seorang santri juga dituangkan melalui lagu-lagu yang menjadi bagian dari Khalifah 636, di antaranya “Ridho-Mu”, “Khalifah”, “Khalifah Bumi”, dan “Jadi Sang Khalifah”. Lagu-lagu tersebut membawa pesan tentang perjuangan, keikhlasan, pengabdian, harapan, serta tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.

Melalui Panggung Gembira 636, Santri/Wati Akhir KMI Angkatan ke-36 tidak hanya memberikan hiburan dan persembahan seni kepada para penonton, tetapi juga memperlihatkan hasil dari proses pendidikan yang mereka jalani selama berada di pesantren. Setiap latihan, pembagian tugas, persiapan panggung, hingga penampilan menjadi pengalaman berharga yang diharapkan membentuk pribadi mereka untuk kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan di Ar-Raudlatul Hasanah.

Pada akhirnya, Khalifah 636 menjadi simbol perjalanan seorang santri menuju kehidupan yang lebih luas. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan di pesantren, mereka diharapkan mampu membawa ilmu dan akhlak dalam setiap langkah, menjadi pribadi yang bermanfaat, serta mengambil peran dalam menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.

Perkuat Tata Kelola Wakaf, Tiga Delegasi Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Ikuti SWBI

Perkuat Tata Kelola Wakaf, Tiga Delegasi Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Ikuti SWBI

RAUDHAH — Langkah strategis menuju tata kelola aset yang profesional dan berdampak luas kembali ditunjukkan oleh Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Tiga delegasi resmi melangkah ke ajang nasional dengan mengikuti program Sekolah Wakaf Berkah Indonesia (SWBI). Ketiga delegasi tersebut adalah Ustaz Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom (Wakil Direktur), Bapak H. M. Hardisyah Ndaramta Keloko, S.H., M.Kn. (Sekretaris Umum Badan Wakaf), serta Ustazah Dr. Arridha Harahap, M.E.I. (Guru). Keikutsertaan ini menjadi bukti komitmen kuat lembaga dalam memperkokoh fondasi keumatan melalui penguatan kapasitas pengelolaan wakaf.

Program bergengsi ini diselenggarakan oleh Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melalui kolaborasi strategis bersama Bank Indonesia (BI), Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah, Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG), serta Kementerian Agama RI. Berlangsung selama enam bulan, SWBI diawali dengan sesi pelatihan tatap muka (offline) secara intensif pada 24–28 Agustus 2026 di Ponorogo, Jawa Timur, sebelum nantinya dilanjutkan dengan pendampingan dan implementasi proyek secara berkala melalui platform Learning Management System (LMS).

Selama program berlangsung, para peserta dibekali cakupan materi yang komprehensif, mulai dari eksplorasi regulasi perundang-undangan, tata kelola kelembagaan (good nazhir governance), hingga penguatan ekosistem wakaf modern. Tidak hanya berfokus pada teori dasar, SWBI memberikan porsi besar pada praktik penggunaan sistem digital perwakafan serta strategi penghimpunan dana (fundraising). Penekanan utama pelatihan ini bermuara pada transformasi paradigma; bagaimana mengoptimalkan dan mengembangkan harta wakaf agar nilainya terus bertumbuh secara produktif, sehingga mampu menghasilkan kemaslahatan yang jauh lebih besar dan inklusif bagi masyarakat.

Melalui partisipasi aktif dalam program SWBI ini, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menargetkan lahirnya inovasi dan akselerasi dalam pengelolaan aset wakaf di lingkungan pesantren. Pembekalan yang didapat diharapkan mampu mentransformasi potensi aset yang ada agar terkelola secara lebih akuntabel, transparan, dan berbasis teknologi digital. Langkah ini menjadi pijakan nyata Ar-Raudlatul Hasanah dalam mewujudkan kemandirian lembaga sekaligus memperluas kontribusi sosialnya bagi kemajuan umat dan bangsa.

Guru Raudhah Ikuti Training of Trainers Nazhir Wakaf

Guru Raudhah Ikuti Training of Trainers Nazhir Wakaf

RAUDHAH – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah turut berpartisipasi dalam kegiatan Training of Trainers (TOT) dengan tema “Optimalisasi Peran Nazhir Wakaf Sumut melalui Integrasi Sistem yang Transparan dan Profesional” yang diselenggarakan pada Senin, 24 Agustus 2026, di Hotel Santika Premiere Dyandra Medan.

Dalam kegiatan tersebut, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah mengutus Ustaz H. Joko Kuncoro, S.H., S.Pd.I., M.Kn., sebagai perwakilan pesantren. Kegiatan yang diikuti oleh 70 nazhir wakaf se-Sumatera Utara ini menjadi ruang penguatan kapasitas dan wawasan dalam pengelolaan wakaf yang transparan, profesional, serta berorientasi pada produktivitas dan kebermanfaatan.

Kegiatan TOT diawali dengan registrasi peserta, pembagian materi dan pre-test, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa, laporan ketua panitia, serta sambutan dan arahan dari penyelenggara. Agenda berikutnya diisi dengan keynote speech mengenai penguatan ekosistem perwakafan Sumatera Utara.

Salah satu materi utama dalam kegiatan tersebut adalah kebijakan, regulasi, dan tata kelola wakaf yang transparan yang disampaikan oleh Ir. Arief Rohman Yulianto, M.M. Materi ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan aset wakaf secara produktif sesuai dengan regulasi yang berlaku. Dalam materi disebutkan bahwa pengelolaan harta benda wakaf diarahkan untuk dilakukan secara produktif sebagaimana amanah regulasi perwakafan nasional.

Selain itu, peserta mendapatkan materi mengenai profesionalisme nazhir dan optimalisasi pengelolaan wakaf yang disampaikan oleh Dr. Mayurida, M.Pd. Materi tersebut dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab sehingga peserta dapat memperdalam pemahaman terhadap pengelolaan wakaf.

Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan materi tentang integrasi sistem pengelolaan wakaf yang transparan dan profesional yang disampaikan oleh Ali Fahmi Perwira Negara. Materi kemudian diperdalam melalui praktik dan simulasi implementasi sistem nazhir serta pelaporan wakaf melalui aplikasi Wakaf Sumut Berkah.

Dalam pemaparan materi, peserta juga diperkenalkan dengan konsep wakaf produktif yang diarahkan untuk menghasilkan surplus secara berkelanjutan. Pengembangan wakaf produktif dapat dilakukan melalui berbagai sektor, di antaranya pendidikan, kesehatan, pertanian, ritel, serta sektor riil lainnya.

Kegiatan ini turut menekankan pentingnya transformasi kapasitas nazhir. Nazhir tidak hanya dituntut mampu menjaga dan mengelola aset wakaf, tetapi juga diarahkan untuk memiliki kemampuan sebagai asset and investment manager sehingga aset wakaf dapat dikembangkan secara optimal dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Keikutsertaan Ustaz Joko Kuncoro sebagai utusan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah diharapkan dapat menambah wawasan dan kapasitas dalam bidang pengelolaan wakaf, khususnya terkait tata kelola yang transparan, profesional, dan terintegrasi. Pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan pengelolaan aset wakaf di lingkungan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan menggelar peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang penuh khidmat bersama Da’i Nasional asal Papua Barat, KH. Fadlan Garamatan, serta anggota DPR RI, Dr. H. Musa Rajekshah, M.Hum., pada Senin, 24 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di kompleks pesantren pada pukul 10.00 hingga 12.25 WIB tersebut dihadiri oleh seluruh santri dan santriwati, dewan ustaz dan ustazah, serta jajaran pimpinan pesantren; Ketua Umum Badan Wakaf, Pimpinan, Direktur, Wakil Direktur, Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah, dan para Kepala Bidang.

Dalam tausiahnya, KH. Fadlan Garamatan membagikan kisah penuh haru dan motivasi tentang perjalanan dakwahnya di pelosok pedalaman Papua (Nuu Waar). Julukan khas “Ustaz Sabun” melekat padanya karena cara dakwahnya yang unik dan menyentuh hati masyarakat pedalaman. Di wilayah tempat masyarakat suku lokal belum mengenal cara membersihkan diri, Ustaz Fadlan memulai dakwahnya dengan penuh kesabaran; mengajari para kepala suku dan warga mandi menggunakan sabun serta keramas dengan sampo.

Pendekatan kemanusiaan dan kebersihan yang menyegarkan tubuh tersebut berbuah manis. Melalui kelembutan, perjumpaan dakwah, dan dialog seusai shalat berjamaah, sebanyak 3.712 warga pedalaman beserta para kepala sukunya tergerak hati untuk memeluk agama Islam dan bersyahadat bersama di atas panggung dakwah. Perjuangan ini bukannya tanpa halangan, beliau pernah dipanah, ditombak, hingga beberapa kali mendekam di penjara demi memperjuangkan hidayah bagi masyarakat pedalaman.

Ustaz Fadlan juga menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat pada masa itu yang telah memberikan bantuan pembangunan hingga 300 masjid di Papua serta memfasilitasi keberangkatan haji bagi para kepala suku. Lebih lanjut, beliau mengumumkan pergerakan dakwah bersama Yayasan H. Anif yang menargetkan pembangunan 99 masjid, di mana pembangunan masjid ke-70 dijadwalkan berdiri kokoh di tanah Papua. “Kami akan melanjutkan terus pergerakan dakwah ini, terkhusus di daerah-daerah minoritas Muslim,” tegas beliau.

Sementara itu, Dr. H. Musa Rajekshah, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kesempatan dapat berjumpa langsung dengan sang Da’i Nasional Papua di Medan. Beliau menegaskan bahwa kisah perjuangan Ustaz Fadlan di daerah pelosok yang sulit dijangkau harus menjadi pelecut semangat dakwah bagi generasi muda.

“Dunia ini hanya sementara. Kami berharap seluruh santri dan santriwati siap meneruskan estafet dakwah Islam hingga masa depan. Kalian tentu menjadi harapan besar orang tua untuk sukses, baik di dunia maupun di akhirat,” pesan Musa Rajekshah kepada seluruh santri.

Acara diakhiri dengan doa bersama, menyatukan harapan agar pesan kebaikan dan semangat dakwah yang disampaikan hari ini terus bergema dalam jiwa seluruh santri dan santriwati Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah.

Risaalah Membawa Pesan, Drama Arena 537 Tampil Memukau

RAUDHAH – Santri dan santriwati kelas 5 KMI Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menghadirkan penampilan terbaik melalui Maha Karya Akbar Drama Arena 537 yang digelar pada Kamis–Jumat malam, 21–22 Agustus 2026/7–8 Rabi’ul Awal 1448 H. Mengusung tema “Risaalah”, Drama Arena tahun ini tidak hanya menjadi panggung kreativitas seni, tetapi juga ruang untuk menyampaikan pesan pendidikan, keteladanan, dan semangat perubahan.

Drama Arena merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Kegiatan ini menjadi wadah bagi santri dan santriwati kelas 5 KMI untuk menampilkan berbagai kreativitas yang telah dipersiapkan secara kolektif, sekaligus melatih keberanian, kepemimpinan, kerja sama, kedisiplinan, dan kemampuan menyampaikan pesan melalui seni.

Pada DA 537, tema “Risaalah” memiliki makna yang sangat mendalam. Melalui “Risaalah”, santri dan santriwati kelas 5 KMI diharapkan mampu meneladani perjuangan Rasulullah ﷺ dengan memulai perubahan dari diri sendiri.

Dari pribadi yang baik diharapkan lahir keluarga yang baik, masyarakat yang baik, hingga peradaban yang lebih baik. Semangat tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah As-Saffat ayat 37:

 

﴿بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ﴾

 

“Sebenarnya, dia (Muhammad) datang membawa kebenaran dan membenarkan para rasul.”

Ayat tersebut menjadi doa dan harapan bagi mereka agar senantiasa dekat dengan Al-Qur’an, menjadikannya sebagai pedoman hidup, serta tumbuh sebagai generasi yang membawa kebenaran, menjaga amanah, dan menghadirkan keteladanan di mana pun mereka berada.

Rangkaian acara Drama Arena 537 dirancang secara terstruktur dengan memadukan seni, musik, drama, tari, video, sastra, dakwah, dan pesan moral. Penampilan diawali dengan video ucapan selamat dan nasyid, kemudian dilanjutkan dengan penampilan tilawah Al-Qur’an, sambutan, tari persembahan, serta pembukaan acara.

Memasuki pertunjukan utama, suasana panggung semakin hidup melalui Grand Opening yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan tematik. Pada penampilan putra, di antaranya terdapat Buya Hamka, Shalawat Akbar, Tundang-Tundangan, Pantomim, Tazkir, La Fuerza, Fighter, Sirat (Sidang Rakyat), Pudar, Becaks, T.K.P (The King of Pop), D.K.S (Dukun Katanya Sakti), A.O.T (Art of Talent), hingga Folk Song.

Sementara itu, penampilan putri menghadirkan rangkaian karya seperti Grand Opening, Drama “Rahma El Yunusiyah”, Gen Berkata, Shalawat Akbar, SHS (Suara Hati Santriwati), Ignite, Sang Garuda, Ibadah, Drama Kabaret, ASEAN Dance, hingga Folk Song.

Keunikan Drama Arena 537 juga terlihat dari penggunaan video-video pendek sebagai penghubung antarrangkaian penampilan. Video tersebut memuat pesan moral, pendidikan, kehidupan santri, keteladanan, serta berbagai refleksi yang bernuansa nilai-nilai Islam. Kehadiran video membuat pertunjukan tidak hanya berfokus pada panggung, tetapi juga menghadirkan pesan yang dapat direnungkan oleh para penonton.

Rundown yang telah disusun menunjukkan bahwa pertunjukan berlangsung dalam rangkaian panjang dengan perpaduan antara penampilan langsung dan multimedia. Pada penampilan putra, keseluruhan rangkaian tercatat memiliki durasi sekitar 3 jam 18 menit, sedangkan rangkaian putri berlangsung sekitar 3 jam 24 menit. Pengelolaan panggung, tata cahaya, suara, mikrofon, video, serta perpindahan antarpementasan menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran pertunjukan.

Di balik kemeriahan tersebut, terdapat proses panjang yang menuntut kekompakan seluruh anggota angkatan. Setiap santri dan santriwati mengambil peran masing-masing, baik sebagai pemain drama, penari, penyanyi, pembawa acara, pengisi video, pengisi musik, maupun bagian teknis pertunjukan.

Hal ini menjadikan Drama Arena sebagai bagian dari pendidikan yang berlangsung melalui pengalaman langsung. Santri belajar bagaimana sebuah karya besar tidak dapat diwujudkan oleh satu orang, melainkan membutuhkan kerja sama, pengorbanan, kedisiplinan, tanggung jawab, kreativitas, dan kesungguhan.

 

Kunjungan dan Silaturahmi Syekh Muhammad Auf dan Al-Ustadz Orhan Akzade

Kunjungan dan Silaturahmi Syekh Muhammad Auf dan Al-Ustadz Orhan Akzade

RAUDHAH – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menerima kunjungan dan silaturahmi dari Syekh Muhammad Auf, Sekretaris Umum Yayasan Pendidikan dan Budaya Manarah, Turki, bersama Al-Ustadz Orhan Akzade yang mengelola Pusat Penelitian dan Kajian Ufuk (Ufuk-cû), Turki, pada Rabu–Kamis, 12–13 Agustus 2026. Kunjungan tersebut diisi dengan rangkaian tausiah, motivasi, dan orasi pendidikan yang disampaikan kepada santri, santriwati, serta para ustadz dan ustadzah.

 

Pada Rabu siang, 12 Agustus 2026, Syekh Muhammad Auf menyampaikan tausiah dan motivasi di hadapan seluruh santri yang berlangsung di lantai 2 Masjid Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Dalam kesempatan tersebut, Syekh Muhammad Auf mengingatkan para santri bahwa mereka merupakan generasi yang memiliki peran penting dalam menentukan masa depan Indonesia. “Kalian adalah generasi yang diharapkan Indonesia. Kalian adalah kekayaan terbesar Indonesia,” ujarnya di hadapan para santri.

 

Syekh Muhammad Auf menegaskan bahwa kekayaan Indonesia tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga pada kualitas generasi mudanya. Karena itu, para pemuda harus dipersiapkan dengan ilmu, karakter, dan kecintaan kepada tanah air. Ia juga mengingatkan tentang tantangan yang dihadapi generasi muda pada era digital.

 

Menurutnya, banyak generasi muda lebih mencintai dan menghabiskan waktunya untuk media sosial, seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan berbagai bentuk hiburan digital lainnya, sementara waktu dan potensi mereka seharusnya digunakan untuk belajar dan mempersiapkan masa depan.

 

“Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan alam terbesar di dunia. Kekayaan utama Indonesia adalah pemuda. Tanpa pemuda, Indonesia tidak akan merdeka,” tegas Syekh Muhammad Auf.

 

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa pendidikan yang mereka jalani bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan juga merupakan bagian dari persiapan untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa.

 

Rangkaian kegiatan berlanjut pada Kamis pagi, 13 Agustus 2026, ketika Syekh Muhammad Auf memberikan tausiah dan motivasi di hadapan seluruh santriwati yang bertempat di Gedung Fatimah lantai 3. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menekankan pentingnya mempersiapkan generasi yang memiliki ilmu, karakter, dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

 

Para santriwati diajak untuk tidak hanya menjadi generasi yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara.

 

Pada Kamis siang, kegiatan dilanjutkan dengan tausiah dan motivasi di hadapan seluruh ustadz dan ustadzah Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah di Gedung Hafsah lantai 3. Kepada para pendidik, Syekh Muhammad Auf menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh metode, kurikulum, maupun fasilitas, tetapi juga oleh hubungan batin antara pendidik dan peserta didik.

 

“Aspek utama dalam pendidikan adalah cinta,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan para pendidik agar pendidikan senantiasa diarahkan pada pembentukan manusia yang memiliki keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan agama. “Hiduplah dengan ilmu, akhlak, dan agama,” pesannya.

 

Selain Syekh Muhammad Auf, Al-Ustadz Orhan Akzade juga memberikan orasi yang tidak kalah menarik dan menggugah. Dalam orasinya, ia menyampaikan berbagai pesan yang berkaitan dengan kecintaan kepada Negara Indonesia serta pentingnya peran generasi muda dalam membangun masa depan bangsa. Ia mengajak untuk memahami bahwa pendidikan bukan sekadar proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga proses membentuk pribadi yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat, dan negara.

 

Semangat mencintai Indonesia, menurut Al-Ustadz Orhan Akzade, harus tumbuh seiring dengan semangat menuntut ilmu dan memperbaiki kualitas diri. Generasi muda yang memiliki ilmu, akhlak, dan kecintaan kepada tanah air merupakan modal penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Karena itu, para santri diharapkan mampu memanfaatkan masa pendidikan di pesantren untuk membangun kapasitas diri dan mempersiapkan kontribusi terbaik bagi Indonesia di masa mendatang.

 

Kunjungan Syekh Muhammad Auf dan Al-Ustadz Orhan Akzade ke Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah selama dua hari tersebut menjadi momentum penting dalam memperluas wawasan para santri dan pendidik melalui pertukaran gagasan, pengalaman, serta nilai-nilai pendidikan. Kehadiran keduanya juga memberikan penguatan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan generasi yang berilmu, berakhlak, memiliki wawasan luas, serta mencintai bangsa dan negaranya.

HUT RI ke-81, Raudhah Tanamkan Cita-Cita Besar dan Jiwa Perjuangan kepada Santri dan Santriwati

HUT RI ke-81, Raudhah Tanamkan Cita-Cita Besar dan Jiwa Perjuangan kepada Santri dan Santriwati

RAUDHAH  – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah melaksanakan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin, 17 Agustus 2026/4 Rabiul Awal 1448 H. Upacara berlangsung di dua lokasi, yakni Lapangan Sepak Bola Pesantren untuk santri putra dan Lapangan Olahraga untuk santriwati.

Upacara diikuti oleh Direktur dan Wakil Direktur Pesantren, Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah, para ustaz dan ustazah, serta seluruh santri dan santriwati. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini mengusung semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, sebuah tema yang menjadi refleksi penting bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan bangsa ke depan.

Pada upacara putra, Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustadz KH. Miftakhuddin, MM., bertindak sebagai inspektur upacara. Sementara itu, Wakil Direktur Pesantren, Ustadz Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom., bertindak sebagai inspektur upacara pada upacara putri.

Dalam amanatnya, Ustadz Carles Ginting menekankan bahwa kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan secara fisik. Kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui kemampuan bangsa untuk berdiri sendiri, memiliki ilmu pengetahuan, serta mampu menentukan arah masa depannya.

Menurutnya, berdaulat berarti memperkuat kemampuan bangsa untuk mandiri sekaligus menjaga kedaulatan negara. Karena itu, generasi muda perlu memahami apa yang menjadi arah perjalanan Indonesia ke depan.

“Kita sebagai pemuda harus mengerti apa dan ke mana arah negara Indonesia ke depan. Jika kemandirian terwujud, maka wibawa akan muncul untuk negara ini. Kita bertanggung jawab atas negeri ini,” pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa keadilan tidak dapat dipisahkan dari kualitas manusia yang memimpin bangsa. Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk melahirkan generasi yang memiliki ilmu, keimanan, dan tanggung jawab.

Dalam konteks tersebut, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah memiliki peran strategis sebagai lembaga pendidikan yang turut mempersiapkan anak-anak bangsa. Para santri dan santriwati tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan agama, tetapi juga harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan zaman.

“Untuk memakmurkan Indonesia, kita membutuhkan ilmu yang luas. Caranya adalah belajar dengan baik. Santri harus paham sebagai anak bangsa yang memiliki tanggung jawab besar untuk bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Ustadz Carles juga mengajak para santri untuk tidak membangun mentalitas yang mudah mengeluh dan menyalahkan keadaan. Menurutnya, peringatan kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk membangun kesadaran bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab dalam melanjutkan perjuangan bangsa.

Sementara itu, dalam amanatnya kepada santri putra, Ustadz KH. Miftakhuddin, MM., mengajak seluruh santri untuk belajar dari sejarah perjuangan bangsa sekaligus meneladani tokoh-tokoh besar yang memiliki cita-cita, keberanian, ilmu, dan akhlak yang kuat.

Ia menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari keberanian manusia-manusia yang berani bercita-cita ketika cita-cita tersebut dianggap mustahil, berani berjuang ketika kemenangan belum terlihat, dan berani berkorban ketika hasil perjuangan belum dapat dinikmati.

“Bangsa besar tidak lahir dari cita-cita kecil. Perjuangan besar tidak lahir dari jiwa yang kerdil. Dan kemenangan besar tidak lahir dari ikhtiar yang setengah-setengah,” tegasnya.

Semangat tersebut, lanjutnya, juga menjadi bagian dari perjalanan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Pesantren tidak bermula dari gedung yang megah, kekayaan yang melimpah, ataupun fasilitas yang lengkap. Ia lahir dari gagasan besar, cita-cita besar, keikhlasan, keberanian, dan pengorbanan para perintisnya.

Para pendiri dan perintis pesantren, menurutnya, telah melihat sesuatu yang mungkin belum dilihat banyak orang pada masanya, yakni bahwa masa depan umat harus dipersiapkan melalui pendidikan generasi muda.

Karena itu, kekayaan terbesar Indonesia sesungguhnya bukan hanya tanah yang luas, laut yang kaya, atau sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan terbesar Indonesia adalah manusianya, sementara kekuatan terbesar masa depan Indonesia adalah pemudanya.

“Di antara pemuda-pemuda itu adalah kalian, santri-santri Ar-Raudlatul Hasanah,” pesannya.

Dalam amanat tersebut, santri juga diajak untuk belajar dari sosok Muhammad Al-Fatih, seorang tokoh yang memiliki tujuan besar, kemauan belajar yang besar, serta akhlak yang besar. Ketiga hal tersebut menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan kehidupan.

Menurut Ustadz KH. Miftakhuddin, musuh dari cita-cita besar sering kali bukan orang lain, melainkan kelemahan yang ada di dalam diri sendiri, seperti kemalasan, ketakutan, mudah menyerah, suka mengeluh, mencari alasan, dan menyalahkan orang lain.

Sedikit kesulitan tidak boleh membuat seorang santri menyerah. Sedikit kegagalan tidak boleh menjadikannya putus asa. Kritik tidak seharusnya membuat kehilangan semangat, begitu pula tekanan tidak boleh membuat perjuangan berhenti.

“Bagi seorang santri, kemerdekaan berarti membebaskan diri dari kebodohan, kemalasan, ketakutan, ketergantungan, hawa nafsu, dan mentalitas menyerah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang merdeka, yaitu manusia yang mampu menguasai dirinya sebelum memimpin orang lain. Sebab, cita-cita besar selalu menuntut pengorbanan besar.

Lebih lanjut, ia mengingatkan para santri agar kebanggaan terhadap Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah tidak berhenti pada ungkapan bahwa pesantren mereka adalah pesantren besar. Justru semakin besar sebuah lembaga, semakin besar pula harapan, amanah, tanggung jawab, perjuangan, dan manfaat yang harus diberikan oleh para alumninya.

“Jangan hanya bangga menjadi bagian dari Ar-Raudlatul Hasanah. Buatlah Ar-Raudlatul Hasanah bangga karena perjuangan dan karya kita,” pesannya.

Para santri juga diajak mengubah cara pandang dari sekadar bertanya tentang apa yang telah diberikan pesantren kepada mereka, menjadi pertanyaan tentang apa yang telah mereka berikan kepada pesantren. Begitu pula terhadap Indonesia, kelak mereka diharapkan tidak hanya bertanya apa yang telah diberikan Indonesia kepada dirinya, tetapi apa karya besar yang dapat dipersembahkan untuk agama, umat, bangsa, dan dunia.

Semarak peringatan kemerdekaan di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah kemudian dilanjutkan dengan berbagai perlombaan yang berlangsung sejak 13 hingga 17 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi santri dan santriwati untuk membangun kebersamaan, sportivitas, kreativitas, serta semangat persaudaraan.

Berbagai perlombaan yang digelar di antaranya tarik tambang, panjat pinang, estafet rubik, makan kerupuk, paku dalam botol, pecah balon, catur, balap karung, voli sarung, trigling, dan berbagai perlombaan lainnya.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari cara Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah memaknai kemerdekaan: bukan hanya dengan mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga dengan mempersiapkan generasi yang memiliki ilmu, akhlak, kemandirian, keberanian, dan semangat perjuangan.

Dari pesantren, semangat kemerdekaan itu diharapkan terus tumbuh menjadi cita-cita besar: melahirkan generasi yang mampu menjaga kedaulatan, menegakkan keadilan, ikut mewujudkan kemakmuran, serta memberikan manfaat bagi agama, umat, bangsa, dan dunia.

Gali Potensi Santri dan Santriwati, PORSEKA 2026 Wadahi Bakat Olahraga hingga Seni Islami

Gali Potensi Santri dan Santriwati, PORSEKA 2026 Wadahi Bakat Olahraga hingga Seni Islami

RAUDHAH – Pekan Olahraga dan Seni Khutbatul ‘Arsy (PORSEKA) 2026 resmi berakhir setelah seluruh rangkaian perlombaan olahraga dan seni yang diikuti santri dan wati Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah selesai dilaksanakan. Upacara penutupan digelar pada Jum’at, 14 Agustus 2026, di Lapangan Sepak Bola Pesantren untuk santri putra dan Lapangan Belakang Gedung Khadijah untuk santri putri.

Prosesi penutupan berlangsung sebagaimana pembukaan PORSEKA beberapa hari sebelumnya pada tanggal 7 Agustus 2026. Penurunan bendera dan pemadaman api PORSEKA menjadi simbol berakhirnya salah satu agenda dalam rangkaian Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy.

PORSEKA tidak hanya menjadi ajang untuk memperebutkan gelar juara, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan santri. Melalui berbagai pertandingan dan perlombaan, para santri dilatih untuk memiliki sikap sportif, disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, serta menghargai hasil perjuangan orang lain.

Dalam sambutannya, Wakil Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Al-Ustadz H. Miftakhuddin, S.S., S.Pd.I., MM., menyampaikan bahwa PORSEKA memiliki nilai pendidikan yang berkaitan erat dengan pembentukan karakter.

Usai upacara penutupan, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian hadiah kepada para pemenang. Para juara berasal dari berbagai asrama dan kategori, baik dalam cabang olahraga maupun kesenian.

Berakhirnya PORSEKA 2026 menjadi penanda selesainya rangkaian kompetisi, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan selama kegiatan diharapkan tetap melekat dalam kehidupan para santri dan santriwati.

Sportivitas, kejujuran, kerja sama, disiplin, keberanian, kreativitas, serta ukhuwah menjadi bagian penting dari proses pendidikan yang berlangsung di balik setiap pertandingan.

Adapun hasil lengkap cabang olahraga putra senior adalah sebagai berikut:

Tenis Meja:

Juara 1: ASAATIDZ

Juara 2: SAUDI 2

Juara 3: JIHAD 3

 

Badminton:

Juara 1: ALL STAR 3 & 1INT

Juara 2: JIHAD 3

Juara 3: SAUDI 2

 

Sepak Takraw:

Juara 1: SAUDI 2

Juara 2: MAKKAH 1B

Juara 3: JIHAD 1

 

Voli:

* Juara 1: SAUDI 2

* Juara 2: MAKKAH 1B

* Juara 3: MAKKAH 1A

 

Basket:

Juara 1: SAUDI 2

Juara 2: ASAATIDZ

Juara 3: MAKKAH 1A

 

Sepak Bola:

Juara 1: JIHAD 1

Juara 2: ASAATIDZ

Juara 3: SAUDI 2

 

Sementara kategori junior menghasilkan sejumlah juara dari berbagai asrama.

Tenis Meja:

Juara 1: SAUDI 3

Juara 2: MAKKAH 3B

Juara 3: RAMADHAN 2

 

Badminton:

Juara 1: RAMADHAN 1

Juara 2: RAMADHAN 3

Juara 3: RAMADHAN 2

 

Sepak Takraw:

Juara 1: RAMADHAN 1

Juara 2: MAKKAH 2A

Juara 3: MAKKAH 3A

 

Voli:

Juara 1: SAUDI 3

Juara 2: MAKKAH 3A

Juara 3: RAMADHAN 3

 

Basket:

Juara 1: MAKKAH 3A

Juara 2: RAMADHAN 3

Juara 3: SAUDI 3

 

Sepak Bola:

Juara 1: MAKKAH 2A

Juara 2: MAKKAH 3B

Juara 3: RAMADHAN 1

 

Pada cabang kesenian, para santri menunjukkan kemampuan melalui kaligrafi, sketsa, handycraft, dan kaligrafi dekorasi.

Kaligrafi Murni:

Juara 1: Hanafi Ansari — 4F — JHD 2

Juara 2: Asfa Raihan — 1xB — S3

Juara 3: Ray Naufal — 5J — JHD 3

Harapan 1: Saltan Taqi — 2D — MKH 2B

 

Kaligrafi Kontemporer:

Juara 1: M. Reda — 5D

Juara 2: Mustaqim Sihotang — 5F

Juara 3: Angga Tri — 5F

Harapan 1: Hafiz Yuhan — 5D

 

Sketsa:

Juara 1: Dzaki Adli — 4J — JHD 3

Juara 2: Rifqi Fattahillah — 5F — MKH 3A

Juara 3: Irfan Fakhri — 5N — JHD 2

Harapan 1: Ersya Afandi — 6N — MKH 1A

Harapan 2: Atar Huda — 5J — MKH 3B

Harapan 3: Athalariq Syach — 4D — JHD 2

 

Handycraft:

Juara 1: MAKKAH 2A

Juara 2: AL JIHAD 3

Juara 3: AL MAKKAH 2B

 

Kaligrafi Dekorasi:

Juara 1: MAKKAH 3A

Juara 2: SAUDI 3

Juara 3: AL JIHAD 3

 

Sementara itu, PORSEKA putri berlangsung dengan mempertandingkan berbagai cabang olahraga dan kesenian. Pada cabang olahraga, perlombaan meliputi pecah piring, basket, hadang, badminton tunggal, badminton ganda, senam, dan voli.

Pecah Piring:

Juara 1: Ruqayyah 1B

Juara 2: Khadijah 1

Juara 3: Ruqayyah 3A

Juara 4: Ruqayyah 2A

Juara 5: Ruqayyah 2B

 

Basket:

Juara 1: Khadijah 1

Juara 2: Ruqayyah 3A

Juara 3: Ruqayyah 3C

Juara 4: Khadijah 3

Juara 5: Khadijah 2

 

Hadang:

Juara 1: Ruqayyah 3A

Juara 2: Khadijah 1

Juara 3: Ruqayyah 2C

Juara 4: Khadijah 3

Juara 5: Khadijah 3

 

Badminton Tunggal:

Juara 1: Ruqayyah 3C

Juara 2: Khadijah 2

Juara 3: Ruqayyah 2A

Juara 4: Ruqayyah 3A

Juara 5: Khadijah 3

 

Badminton Ganda:

Juara 1: Ruqayyah 1B

Juara 2: Khadijah 3

Juara 3: Khadijah 1

Juara 4: Khadijah 2

Juara 5: Ruqayyah 3B

 

Senam

Juara 1: Ruqayyah 3C

Juara 2: Ruqayyah 2A

Juara 3: Ruqayyah 3B

Juara 4: Ruqayyah 3A

Juara 5: Ruqayyah 2C

 

Voli:

Juara 1: Khadijah 1

Juara 2: Ruqayyah 3A

Juara 3: Ruqayyah 2C

Juara 4: Khadijah 3

Juara 5: Ruqayyah 3C

 

Pertandingan juga melibatkan para ustadzah melalui cabang pecah piring dan badminton tunggal.

Pecah Piring Ustadzah

Juara 1: Tim Pengasuhan

Juara 2: Tim Najihah

Juara 3: Tim KMI

Juara 4: Tim STIT

 

Badminton Tunggal Ustadzah

Juara 1: Ush Dwi Ayu

Juara 2: Ush Nadya Rizky

Juara 3: Ush Elais Guineensis

Juara 4: Ush Dila Sari

Juara 5: Ush Cintia Dewi

Juara 6: Ush Fitri Randia

 

Pada cabang kesenian, kreativitas wati ditampilkan melalui nasyid, tari, kaligrafi kontemporer, menjahit, handycraft, memasak, dan karaoke.

Nasyid:

Juara 1: Ruqayyah C

Juara 2: Ruqayyah B

Juara 3: Ruqayyah A

Juara 4: Khadijah

 

Tari:

Juara 1: Ruqayyah B

Juara 2: Ruqayyah C

Juara 3: Ruqayyah A

Juara 4: Khadijah

 

Kaligrafi Kontemporer

Juara 1: Mesra Kezia

Juara 2: Cut Zahra

Juara 3: Naura Aizara

Juara 4: Romilja Zulfa

Juara 5: Diah Ayu

 

Menjahit

Juara 1: Aisyah

Juara 2: Khadijah

Juara 3: Ruqayyah B

Juara 4: Ruqayyah C

 

Handycraft:

Juara 1: Ruqayyah A

Juara 2: Ruqayyah B

Juara 3: Ruqayyah C

Juara 4: Khadijah

Juara 5: Aisyah

 

Memasak:

 

Juara 1: Aisyah

Juara 2: Ruqayyah C

Juara 3: Khadijah

Juara 4: Ruqayyah A

Juara 5: Ruqayyah C

 

Karaoke

Juara 1: Tiara Zahraini

Juara 2: Bunga Syakila

Juara 3: Adelia Maharani

Juara 4: Nurul Lathifa

 

 

Aneka Ria Nusantara, Pemersatu Ragam Budaya Santri

Aneka Ria Nusantara, Pemersatu Ragam Budaya Santri

RAUDHAH — Panitia Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah kembali sukses menggelar acara tahunan megah bertajuk Aneka Ria Nusantara pada Rabu, 12 Agustus 2026. Pagelaran seni ini menjadi panggung khusus bagi para santri dan santriwati untuk menampilkan kekayaan warisan budaya bangsa melalui ragam tarian daerah, lagu tradisional, serta unjuk kebolehan berbahasa daerah dari berbagai penjuru Nusantara.

Acara yang berlangsung semarak ini diselenggarakan secara terpisah di dua lokasi utama, yaitu Gedung Serbaguna untuk santri putra dan Gedung Fatimah lantai 3 untuk santriwati. Seluruh santri dan santriwati mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 Kulliyatul Mu’allimin/Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI) antusias mengikuti dan menyaksikan jalannya acara. Kemeriahan pagelaran ini juga dihadiri langsung oleh Direktur Pesantren, Wakil Direktur, para Kepala Bidang, serta seluruh ustadz dan ustadzah yang turut memberikan dukungan moral dan apresiasi penuh.

Mengusung tema besar Khutbatul ‘Arsy 2026, yaitu “Dari Raudhah, Membina Insan, Mencerahkan Peradaban”, Aneka Ria Nusantara tahun ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan, melainkan sebuah kegiatan edukatif yang kaya akan makna penanaman karakter.

Para hadirin yang memadati ruangan dibuat terpukau oleh penampilan para peserta yang anggun dan gagah dalam balutan pakaian adat khas daerah masing-masing. Setiap gerak tari, alunan musik, hingga artikulasi pidato berbahasa daerah dibawakan dengan penuh kesungguhan dan kebanggaan.

Penyelenggaraan kegiatan ini secara khusus berfokus pada tiga tujuan utama. Pertama, mengenal budaya, yakni memperkenalkan secara mendalam seni, tarian, dan lagu-lagu tradisional kepada generasi muda santri.

Kedua, demonstrasi bahasa, di mana para santri tidak hanya memamerkan estetika pakaian adat, tetapi juga aktif berkomunikasi menggunakan bahasa daerah masing-masing sebagai bentuk pelestarian kebahasaan.

Ketiga, sebagai ajang persatuan, acara ini menjadi sarana nyata dalam mengajarkan nilai-nilai ukhuwah, saling menghargai keberagaman, serta menanamkan semangat Bhinneka Tunggal Ika di lingkungan pesantren.

Melalui pagelaran Aneka Ria Nusantara, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah berhasil membuktikan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berfokus pada keilmuan agama dan akademis, tetapi juga aktif memelihara keindahan seni, memperkuat rasa cinta tanah air, dan menumbuhkan kebanggaan mendalam terhadap warisan budaya bangsa.

Raudhah Gelar Pelatihan Tajwid dan Tahsin Tilawah Al-Qur’an Bagi Tenaga Pendidik

Raudhah Gelar Pelatihan Tajwid dan Tahsin Tilawah Al-Qur’an Bagi Tenaga Pendidik

RAUDHAH – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah sukses menyelenggarakan Pelatihan Tajwid dan Tahsin Tilawah Al-Qur’an yang berlangsung selama dua hari, mulai Senin hingga Selasa, 10–11 Agustus 2026. Kegiatan yang bertempat di Gedung Hafsah Lantai 3 ini dilaksanakan setiap pukul 07.30 hingga 12.00 WIB.

Pelatihan ini ditujukan secara khusus bagi seluruh Ustaz dan Ustazah pengampu mata pelajaran Tajwid dan Tahsin Tilawah Al-Qur’an, serta para wali kelas 1 dan 2 (putra dan putri). Langkah ini diambil sebagai komitmen pesantren dalam menjaga dan meningkatkan mutu pengajaran Al-Qur’an secara berkelanjutan.

Untuk memastikan kualitas materi yang disampaikan, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menghadirkan dua pakar di bidangnya sebagai narasumber, yaitu Ush. Ovi Ramadhani, S.Q., S.Pd.I. dan Ush. Rika Agustina, Lc. Fokus utama pembahasan mencakup penguatan pemahaman makharijul huruf (tempat keluar huruf), sifatul huruf (sifat-sifat huruf), serta pendalaman kaidah ilmu tajwid.

Pada akhir sesi pelatihan, seluruh peserta mengikuti evaluasi komprehensif yang meliputi ujian qira’ah* secara langsung (praktik membaca) dan ujian tulis. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman teori sekaligus ketepatan penerapan bacaan Al-Qur’an para pengajar.

Melalui penyelenggaraan pelatihan ini, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah berharap para tenaga pendidik memiliki standar bacaan yang seragam dan akurat, sehingga mampu membimbing dan mencetak generasi santri/wati yang mahir serta tepat dalam bertilawah.