Language Expo Award 2026: Apresiasi Prestasi dan Pengembangan Kemampuan Bahasa Santriwati Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah

Language Expo Award 2026: Apresiasi Prestasi dan Pengembangan Kemampuan Bahasa Santriwati Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah

RAUDHAH – Pembimbing Bahasa Santriwati yakni Language Advisory Council (LAC) Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah kembali menggelar Language Expo Award pada tahun 2026, sebuah ajang tahunan yang menjadi wadah pengembangan kemampuan bahasa Arab dan Inggris sekaligus mendorong kreativitas, kepercayaan diri, serta semangat berkompetisi santriwati.

Rangkaian perlombaan yang berlangsung secara bertahap ini ditutup dengan malam puncak pada Kamis, 15 Oktober 2026/4 Jumadal Awal 1448, bertempat di Gedung Fatimah. Kegiatan ini menghadirkan berbagai cabang perlombaan yang mengasah keterampilan berbahasa santriwati, mulai dari choral speaking, storytelling, singing like a star, wall magazine, ma huwa, scrabble, washlu kalimah, tasrif competition, fathul mu’jam, fathul qomus, spelling bee, hingga debate competition.

Dalam kompetisi scrabble senior, tiga nama yang tercatat sebagai pemenang ialah Syifa Najwa dari kelas 6E, Nazwa Zaliha dari kelas 6C, dan Azra Alifah dari kelas 6C. Sementara itu, pada kategori scrabble junior, para pemenangnya adalah Nazifa Mahira, Dyah Ayu, dan Khadijah Latifah. Dalam kompetisi Fathul Mu’jam, penghargaan diberikan kepada Balqis Mahira dari kelas 6C, Juwita Rahmi dari kelas 6E, dan Haifa Ananda dari kelas 6C. Adapun pada kompetisi Fathul Qomus, para pemenangnya ialah Zuhra Arifah, Anggita Ramadhani, dan Nur Alfina, yang seluruhnya berasal dari kelas 3XC. Sementara itu, kategori spelling bee dimenangkan oleh Humairo Aulia dari kelas 3C, Aqila Khairina dari kelas 1XC, dan Raisya Namira dari kelas 1C.

Pada kategori singing like a star junior, penghargaan diraih oleh Tiara Zahrani, Afifah Talita, dan Asthree Lumban Gaol, yang tercatat berasal dari kelas 2. Untuk kategori senior, para pemenangnya ialah Khairunnisa Berutu dari kelas 5A2, Melly Penalemen dari kelas 6G, dan Safa Salsabila dari kelas 3XC. Kompetisi ma huwa menghadirkan tiga pasangan pemenang, yaitu Azra Fauza dan Syifa Humayrah, Shifwa Aulia dan Arumi Latifah, serta Naura Putri dan Nazwa Fitria. Sementara itu, kompetisi tasrif dimenangkan oleh Sabika Aufa dan Izzah Maghfirah dari kelas 5A2, serta Arumi Latifah dari kelas 5C.

Dalam kategori storytelling, penghargaan untuk tingkat senior diraih oleh Dinka Shafitri, Saqila Najmi, dan Wafa Irdina, yang berasal dari kelas 3XC. Adapun pada kategori storytelling competition, para pemenangnya ialah Syifa Hammiyah dari kelas 3C, Qisya Elfatiha dari kelas 3I, dan Naura Aizara dari kelas 1XC.

Pada kompetisi choral speaking, kategori antarkelas 1 dan 1INT diikuti oleh perwakilan kelas 1O, 1XC, dan 1XE. Sementara itu, kategori antarkelas 2 dan 3 mencantumkan kelas 2C, 3C, 3G, 2E, dan 2G sebagai peserta yang tercatat dalam daftar pemenang. Pada kompetisi washlu kalimah, penghargaan diberikan kepada Ruqayyah 3rd A yang menempati kamar keenam, Ruqayyah 3rd B dari kamar keempat, dan Ruqayyah 3rd C dari kamar keenam. Adapun kompetisi wall magazine dimenangkan oleh Ruqoyyah 2B, Ruqoyyah 3A, dan Ruqoyyah 3C.

Sementara itu, dalam debate competition, Club 6 yang terdiri atas Aisyah Azhari, K.M Aisyah, dan Qinsha Salsabila tercatat sebagai tim oposisi. Club 1 yang beranggotakan Alfath Arrizka, Najiha Balqis, dan Tengku Latifah merupakan tim pemerintah. Adapun Club 2 yang terdiri atas Keisya Althafunnisa, Chaira Nabila, dan Isma Nawa juga tercatat sebagai tim oposisi.

Melalui penyelenggaraan Language Expo Award ini, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah terus berupaya membangun lingkungan kebahasaan yang aktif dan kompetitif. Ajang ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap prestasi santriwati, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan dan kehidupan di masa mendatang.

Santriwati Raudhah Ikuti Simulasi Penanggulangan Bencana Kebakaran

Santriwati Raudhah Ikuti Simulasi Penanggulangan Bencana Kebakaran

RAUDHAH — Ratusan santriwati Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah antusias mengikuti Simulasi Penanggulangan Bencana Kebakaran pada Kamis, 15 Oktober 2026/ 4 Jumadil Awal 1448. Kegiatan yang digelar di lapangan hijau Khadijah ini merupakan hasil kerja sama Pesantren dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Laucih, Medan Tuntungan.

Dalam pelatihan tersebut, tim pemadam kebakaran memberikan edukasi secara langsung mengenai langkah-langkah pencegahan kebakaran, prosedur pengoperasian Alat Pemadam Api Ringan (APAR), hingga teknik pemadaman api skala besar menggunakan selang air.

Tidak hanya menerima teori, para santriwati juga berkesempatan mempraktikkan langsung cara memadamkan kobaran api di dalam tong simulasi di bawah bimbingan dan pengawasan ketat para petugas di lapangan.

Petugas Damkar menekankan bahwa pemahaman teknis dan kesiapsiagaan mental sangat krusial dalam menghadapi situasi darurat. Pengetahuan mendasar mengenai mitigasi bencana diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan seluruh warga pesantren agar lebih tanggap dan sigap apabila terjadi kebakaran.

Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menyambut positif penyelenggaraan simulasi ini. Kegiatan ini dinilai sebagai langkah konkret dalam memperkuat aspek keamanan serta jaminan keselamatan di lingkungan lembaga pendidikan.

Pesantren Huda Wan Nur Lakukan Kunjungan Studi dan Observasi ke Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah

Pesantren Huda Wan Nur Lakukan Kunjungan Studi dan Observasi ke Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah

RAUDHAH – Pesantren Internasional Tahfizh Qur’an (PITQ) Huda Wan Nur melakukan kunjungan studi dan observasi ke Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah pada Senin, 12 Oktober 2026. Kunjungan yang berlangsung dari waktu Subuh hingga pukul 22.00 WIB ini bertujuan untuk memperluas wawasan serta mempelajari sistem pendidikan, pembinaan santri, dan manajemen kepesantrenan yang diterapkan di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah.

Kedatangan rombongan yang terdiri dari pimpinan, para ustaz, dan ummi PITQ Huda Wan Nur tersebut disambut hangat oleh Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ust. KH. Miftakhuddin, MM. Agenda utama kunjungan mencakup observasi lapangan secara langsung, diskusi interaktif, serta pertukaran pengalaman dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam.

Selama berada di lokasi, rombongan mengamati berbagai aspek kehidupan pesantren, mulai dari pelaksanaan ibadah, aktivitas pendidikan, kedisiplinan santri, hingga sistem pengelolaan lingkungan. Observasi ini memberikan gambaran langsung mengenai dinamika kegiatan harian dan tata kelola yang mendukung keberlangsungannya.

Selain peninjauan lapangan, rombongan PITQ Huda Wan Nur menggelar sesi diskusi dan sharing session bersama para ustaz dan ustazah Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Forum ini menjadi ruang bertukar informasi seputar pelaksanaan tugas musyrif, pola pembinaan, penerapan disiplin, serta pengalaman praktis dalam mendampingi santri sehari-hari.

Sinergi dan silaturahmi antarlembaga pendidikan Islam ini diharapkan dapat mempererat hubungan baik sekaligus menjadi bahan evaluasi positif bagi pengembangan sistem kepesantrenan di PITQ Huda Wan Nur. Melalui kolaborasi semacam ini, kedua lembaga berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan demi mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan berkarakter islami.

Ar-Raudlatul Hasanah Hadiri Relay Silaturahmi Pesantren Binaan Bank Indonesia, AMDK Raudhah Turut Disajikan

Ar-Raudlatul Hasanah Hadiri Relay Silaturahmi Pesantren Binaan Bank Indonesia, AMDK Raudhah Turut Disajikan

RAUDHAH – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menghadiri kegiatan Relay Silaturahim Pesantren Binaan Bank Indonesia yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, dengan melibatkan pesantren binaan Bank Indonesia dari berbagai wilayah di Indonesia melalui Zoom Meeting serta pertemuan langsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Medan.

Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah diwakili oleh Wakil Direktur Pesantren, Ustadz Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 tahun 2026, yang mengangkat tema “Transformasi dan Inovasi Pesantren untuk Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ekonomi Berkelanjutan.”

Sejumlah pesantren dari Sumatera Utara dan sekitarnya turut diundang dalam kegiatan ini, di antaranya Pesantren Al Kautsar Al Akbar, Pesantren Hidayatullah, Pesantren Mawaridussalam, Pesantren Al Hidayah, Pesantren Tahfidz Taruna Al Qolam, Pesantren Darularafah Raya, Pesantren Darul Ilmi Murni, Pesantren Muhammadiyah Kwala Madu, Pesantren Al Uswah, dan Pesantren Al Habib. Turut tercantum pula Pesantren Darussalam, Pesantren Zakiyun Najah, Pesantren Al Hasyimiyah, Pesantren Dairi, Pesantren Taman Pendidikan Islam (TPI) Darul Hikmah Medan, serta Pesantren Tarbiyah Islamiyah Amrullah Akbar.

Kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antarpesantren sekaligus mendorong transformasi dan inovasi dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Melalui forum ini, pesantren diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, memperluas jejaring kerja sama, serta mengoptimalkan potensi usaha yang dimiliki untuk mendukung kemandirian ekonomi dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Hal menarik dalam kegiatan yang berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara tersebut adalah penyajian AMDK Raudhah, air minum dalam kemasan yang diproduksi oleh Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, sebagai air minum bagi para peserta. Kehadiran produk pesantren ini menjadi salah satu wujud nyata pengembangan unit usaha yang dimiliki pesantren sekaligus memperkenalkan produk Raudhah dalam forum silaturahmi antarpesantren dan pemangku kepentingan ekonomi syariah.

Rangkaian acara meliputi registrasi peserta, salat dan makan malam bersama, pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa, laporan, sambutan Ketua Umum MUI, keynote speech oleh ADG 6 Bank Indonesia, penampilan hadrah, penayangan video, hingga sesi talkshow. Sesi diskusi tersebut menjadi salah satu ruang untuk membahas transformasi dan inovasi pesantren dalam pemberdayaan masyarakat melalui ekonomi berkelanjutan.

Keikutsertaan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat silaturahmi dan sinergi dengan Bank Indonesia serta pesantren-pesantren lainnya. Di sisi lain, penyajian AMDK Raudhah turut memperlihatkan potensi unit usaha pesantren dalam mendukung kemandirian ekonomi lembaga pendidikan Islam.

Melalui semangat kolaborasi, transformasi, dan inovasi, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah terus berupaya mengembangkan potensi yang dimiliki agar dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat, sekaligus memperkuat peran pesantren dalam pembangunan ekonomi umat yang inklusif dan berkelanjutan.

Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo Bagikan Kunci Seni Berpidato di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah

Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo Bagikan Kunci Seni Berpidato di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah

RAUDHAH — Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menggelar ceramah umum bertema “Seni Berpidato dan Berorasi (Al-Khithabah wa Al-Ilqa’)” pada Selasa, 13 Oktober 2026/ 2 Jumadil Awal 1448.

Acara tersebut menghadirkan pakar dakwah sekaligus Wakil Dekan Fakultas Dakwah Islamiyah untuk Pascasarjana dan Penelitian Universitas Al-Azhar Kairo, Prof. Dr. Shalah Mahmud Al-Bajuri.

Di hadapan ratusan santri kelas 4 hingga 6 Kulliytul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), Syekh Shalah membedah secara mendalam tentang hakikat retorika dan seni olah vokal di atas panggung. Ia menegaskan bahwa orasi bukan sekadar keterampilan berbicara di depan khalayak, melainkan sebuah ikhtiar untuk menyentuh kedalaman jiwa pendengar.

“Khutbah itu adalah sebuah seni—seni berhadap-hadapan secara langsung dengan khalayak ramai, meyakinkan argumentasi mereka, serta menarik dan memikat hati mereka,” ujar Syekh Shalah di awal paparan tausiyahnya.

Dalam mengulas anatomi pidato yang ideal, Syekh Shalah menekankan pentingnya bagian pendahuluan (mukaddimah). Untuk mempermudah pemahaman para santri, ulama asal Mesir ini mengibaratkan struktur panggung dakwah layaknya susunan gerbong kereta api.

“Apakah kalian tahu kereta? Kereta terdiri dari rangkaian gerbong, dan bagian paling depan tempat masinis mengemudikannya disebut kepala kereta. Kepala kereta itulah analogi dari mukaddimah dalam sebuah khotbah,” tuturnya.

Menurutnya, bagian pembuka harus dirancang secara matang karena menentukan keberhasilan keseluruhan isi ceramah. “Mukaddimah itu harus kuat, fasih, dan berkaitan erat dengan topik utama. Manfaat utamanya adalah untuk memantik perhatian dan mengunci fokus pendengar sejak awal,” tegas Syekh Shalah.

Ia juga membeberkan dua pilar utama agar seseorang bisa menjadi orator yang handal. Menurutnya, bakat alami perlu disempurnakan dengan latihan yang konsisten.

“Rāsul khithābah at-thab’u wa ‘amūduhā ad-durbah—inti dari khotbah adalah tabiat atau bawaan jiwa, namun tiang penyangganya adalah latihan yang terus-menerus,” kata ulama lulusan Al-Azhar tersebut.

Sesi pencerahan semakin hidup ketika Syekh Shalah membagikan resep bagi orator muda yang kerap merasa cemas atau takut saat berada di mimbar panggung. Ia mengingatkan agar santri senantiasa menyandarkan ikhtiar pada kekuatan ilahi.

“Kuncinya adalah memohon pertolongan kepada Allah Jalla Jalaluh, lalu basahi lidah dengan berdoa: ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku’,” ucapnya mengutip doa Nabi Musa A.S.

Tidak hanya membekali santri dengan teknik retorika, Syekh Shalah menuturkan pesan mendalam mengenai konsistensi dan kewajiban hidup sesuai peran masing-masing.

“Jika kamu seorang penuntut ilmu, maka kewajiban utamamu adalah terus belajar, belajar, dan belajar hingga kamu menemui Allah. Begitu pula jika kamu kelak menjadi kepala keluarga, kewajibanmu adalah mengurus anak-anakmu dan mendidik mereka,” pukasnya penuh penekanan.

Rangkaian acara diawali dengan sambutan hangat dari Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah yang menyampaikan apresiasi atas kedatangan Syekh Shalah. Setelah pemaparan materi, suasana menjadi kian interaktif saat beberapa perwakilan santri maju ke panggung untuk mempraktikkan langsung gaya berorasi.

Syekh Shalah menyimak dengan cermat setiap penampilan santri, lalu memberikan penilaian langsung (feed forward), evaluasi teknik vokal, hingga koreksi struktur pidato secara mendetail. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif, doa bersama yang dipimpin langsung oleh Syekh Shalah Al-Bajuri, dan ditutup oleh pembawa acara.

Silaturahmi dan Tajammu’ FPAG Sumut di Asahan: Perkuat Sinergi, Kemandirian, dan Komitmen Menjaga Nilai

Silaturahmi dan Tajammu’ FPAG Sumut di Asahan: Perkuat Sinergi, Kemandirian, dan Komitmen Menjaga Nilai

RAUDHAH — Rombongan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah melawat ke Pesantren Darul Hikmah, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara, pada Ahad, 11 Oktober 2026/29 Rabi’ul Akhir 1448.

Kunjungan yang dipimpin Direktur Pesantren, Ustaz KH. Miftakhuddin, M.M., dan Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah, Ustaz Assoc. Prof. Dr. H. Rasyidin, M.A., tersebut berlangsung dalam rangka menghadiri ajang silaturahmi dan tajammu’ Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) Sumatra Utara. Pertemuan berkala ini digagas untuk merawat tali silaturahmi sekaligus membangun sinergi pendidikan antarpesantren alumni Gontor di wilayah Sumatera Utara.

Suasana hangat dan kekeluargaan menyelimuti kedatangan rombongan. Sebelum agenda resmi dimulai pukul 14.00 WIB, para Pimpinan Pesantren dan Asatidz yang hadir menyempatkan diri makan bersama.

Acara kemudian dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, disusul pemutaran video profil Pondok Pesantren Darul Hikmah sebagai pengetahuan gambaran umum lembaga tuan rumah.

Dalam sambutannya, Direktur Pondok Pesantren Darul Hikmah, Ustaz H. Yahya Ishak, M.A. menyampaikan ucapan selamat datang (ahlan wa sahlan) sekaligus memaparkan rekam jejak sejarah serta perjalanan dinamika pesantren yang dipimpinnya.

Gubernur FPAG, Ustaz H. Abdul Wahid Sulaiman, Lc., M.M. menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga serta konsolidasi sistem kemandirian ekonomi pesantren—mengadopsi jaringan pesantren yang telah berkembang pesat di Yogyakarta.

Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, KH. Miftakhuddin, menegaskan bahwa kurikulum Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) merupakan inti (core), ruh, dan jati diri pendidikan pesantren yang harus terus dijaga dan diperkuat.

“KMI bukan sekadar kurikulum akademik, melainkan sistem pendidikan integral selama 24 jam yang membentuk keilmuan, karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan jiwa pengabdian santri.”

Menurutnya, mempertahankan KMI tidak berarti mengabaikan masa depan santri. Pesantren harus tetap memperkuat kompetensi akademik dan keterampilan agar lulusannya mampu bersaing melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi unggulan, baik di dalam maupun luar negeri.

“Prinsip kami jelas: KMI tetap menjadi inti pendidikan, sementara penguatan akademik menjadi pendukung untuk mempersiapkan masa depan santri. Pendidikan pesantren harus tuntas, pendidikan lanjutan harus dipersiapkan.”

Senada dengan hal tersebut, Wakil Gubernur FPAG Ustaz H. Sulaiman Harahap mengajak seluruh pengasuh pesantren untuk berefleksi atas nilai-nilai kepesantrenan, terutama jiwa besar. Jiwa besar ini dinilai sebagai bahan bakar utama untuk memupuk semangat juang dan pengabdian dalam mengelola lembaga.

Rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama. Silaturahmi lintas pesantren alumni Gontor se-Sumatra Utara ini disepakati akan diselenggarakan secara rutin setiap tiga bulan sekali.

Kunjungan JHEAIPP Malaysia: Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Berbagi Inspirasi Pengelolaan Wakaf dan Nilai Kepesantrenan

Kunjungan JHEAIPP Malaysia: Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Berbagi Inspirasi Pengelolaan Wakaf dan Nilai Kepesantrenan

RAUDHAH — Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan menerima kunjungan benchmarking dari delegasi Bahagian Pendidikan Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Pulau Pinang (JHEAIPP), Malaysia, Jumat, 9 Oktober 2026/28 Rabi’ul Akhir 1448. Kunjungan ini menjadi wadah pertukaran gagasan terkait pengelolaan ekosistem pendidikan berbasis wakaf, kemandirian lembaga, serta penguatan jiwa pengabdian para pendidik.

Rombongan delegasi dipimpin langsung oleh Ustaz Muhammad Aziz bin Abdullah selaku Pengerusi Jawatankuasa Pendidikan di Majlis Agama Islam Negeri Pulau Pinang bersama Ustaz Nasrun bin Abdullah selaku Ketua Penolong Pengarah Bahagian Pendidikan JHEAIPP. Dalam kesempatan tersebut, keduanya mengungkapkan rasa takjub mereka atas pengelolaan pesantren yang begitu tertata, sekaligus menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam atas penyambutan yang sangat hangat serta baik dari Ustaz dan Ustazah Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah.

Dalam sesi pemaparannya, Ustadz Carles Ginting selaku Wakil Direktur menjelaskan sejarah perjalanan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah yang resmi berdiri pada 18 Oktober 1982 bertepatan dengan 1 Muharram 1403 Hijriah. Bermula dari lahan seluas 4.000 meter persegi, pesantren ini terus berkembang pesat.

Beliau menegaskan bahwa Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah merupakan aset wakaf milik umat Islam yang harus senantiasa dijaga, dibela, dan diperjuangkan. Seluruh sistem pendidikan yang diterapkan mengacu pada panca jiwa, motto pesantren, serta kurikulum yang dirancang untuk membina karakter dan keilmuan para santri.

Menjawab pertanyaan dari salah satu rombongan mengenai rahasia keberhasilan pengelolaan ekosistem pesantren berbasis wakaf dan strategi kaderisasi pendiri, Ustadz Carles menceritakan akar sejarah berdirinya pesantren. Gagasan ini berawal dari pengajian masyarakat di Paya Bundung dan sekitarnya, yang kemudian melahirkan impian besar keluarga pewakif untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam yang berkelanjutan.

“Pengabdian para guru di pesantren ini dilandasi oleh semangat wakaf. Di sini, para guru diajarkan untuk mengabdi, berjuang, dan mencari keberkahan—bukan semata-mata mengejar materi atau jabatan. Jika kita berbuat kebaikan, niscaya Allah SWT akan memberikan kebaikan pula kepada kita,” ujar Ustadz Carles.

Meski menanamkan jiwa keikhlasan, Ustadz Carles menambahkan bahwa pesantren tetap berkomitmen memberikan fasilitas dan kesejahteraan yang baik bagi para pendidik, di samping menerapkan aturan serta regulasi tertulis yang ketat demi menjaga kedisiplinan dan nilai-nilai kepesantrenan.

Selain fokus pada pengembangan karakter dan kurikulum pendidikan, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah juga menunjukkan kemandirian finansial dalam mengelola lembaga. Kemandirian ini diwujudkan melalui unit-unit usaha internal, di antaranya produksi air minum kemasan (Raudhah Water) dan unit usaha roti (Raudhah Bakery).

Melalui pengelolaan usaha mandiri dan nilai-nilai wakaf yang dipegang teguh, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah terus menjadi contoh bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat berdiri kokoh, mandiri, dan berkelanjutan dalam mencetak generasi penerus bangsa.

Terima Kunjungan MAS Plus Al-Ulum Medan, Raudhah Bahas Penguatan Pendidikan

Terima Kunjungan MAS Plus Al-Ulum Medan, Raudhah Bahas Penguatan Pendidikan

RAUDHAH — Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Plus Al-Ulum Medan melakukan kunjungan silaturahmi ke Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan, pada Senin pagi, 28 September 2026. Kegiatan ini diikuti oleh tujuh orang guru dari MAS Plus Al-Ulum Medan.

Kunjungan tersebut disambut oleh Wakil Kepala Bidang Pendidikan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ust. Muhammad Ilyas, S.Pd., M.Si. Silaturahmi ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarlembaga pendidikan sekaligus bertukar informasi dan pengalaman dalam pengembangan pendidikan.

Dalam pertemuan tersebut, beberapa hal menjadi pokok pembahasan, di antaranya persamaan dan pengembangan kurikulum dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), baik guru maupun santri. Selain itu, turut dibahas proses pembelajaran pada jurusan agama serta berbagai upaya dalam mempersiapkan santri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Timur Tengah.

Dalam sambutannya, Ust. Muhammad Ilyas menyampaikan bahwa Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah dalam sistem pendidikannya menerapkan Kurikulum Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) yang dikembangkan berdasarkan sistem pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor. Di samping itu, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah juga menerapkan kurikulum Kementerian Agama dengan penyesuaian.

Penerapan kedua kurikulum tersebut menjadi bagian dari upaya Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah dalam memberikan pendidikan yang seimbang, baik dalam aspek keislaman maupun akademik. Hal ini sekaligus menjadi bekal bagi para santri dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk perguruan tinggi di kawasan Timur Tengah.

Pertemuan antara MAS Plus Al-Ulum Medan dan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah diharapkan dapat membuka ruang kerja sama dan pertukaran pengalaman yang lebih luas dalam bidang pendidikan, khususnya dalam pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, pembinaan santri pada bidang keagamaan, serta persiapan studi ke perguruan tinggi di Timur Tengah.

Kegiatan silaturahmi berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta mencetak generasi yang memiliki kompetensi akademik dan keagamaan yang baik.


 

Ulangan Semester Ganjil T.P. 2026-2027 Dimulai, Santri/wati Diingatkan Makna Ujian

Ulangan Semester Ganjil T.P. 2026-2027 Dimulai, Santri/wati Diingatkan Makna Ujian

RAUDHAH — Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah resmi memulai pelaksanaan ulangan umum semester ganjil tahun pelajaran 2026/2027. Pembukaan ujian ditandai dengan upacara resmi di Lapangan Sepak Bola Pesantren pada Sabtu, 26 September 2026, yang bertepatan dengan 14 Rabi’ul Akhir 1448 Hijriah.

Sejak pukul 07.00 WIB, ribuan santri, santriwati, beserta jajaran ustadz dan ustadzah tampak memadati lapangan untuk mengikuti jalannya upacara pembukaan.

Dalam amanatnya, Wakil Direktur Pesantren, Ustadz Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom., menekankan pentingnya kesungguhan dan profesionalisme para santri selama menempuh masa ujian. Ia mengingatkan bahwa momentum ujian harus dimaknai sebagai sarana penempaan diri.

“Ujian itu untuk belajar, bukan belajar untuk ujian,” tegas Ustadz Carles Ginting di hadapan para peserta upacara.

Ia menambahkan, bertambahnya usia para santri dan santriwati harus diimbangi dengan peningkatan wawasan dan pengetahuan. Menurutnya, seseorang yang bertambah umur tanpa mengalami peningkatan kualitas ilmu termasuk dalam golongan orang yang merugi.

Selama masa ulangan umum berlangsung, para peserta didik akan diuji 2 hingga 3 mata pelajaran setiap harinya. Masing-masing ruang ujian diisi oleh 38 sampai 40 santri/wati dari tingkatan kelas yang acak, serta diawasi secara ketat oleh 2 hingga 3 Ustaz ataupun Ustazah. Panitia mengalokasikan waktu selama satu jam untuk setiap sesi pengerjaan soal.

Guna menjaga fokus dan kualitas persiapan santri/wati, Pesantren membebastugaskan seluruh kegiatan ekstrakurikuler untuk sementara waktu. Selain itu, Bidang Pendidikan mewajibkan seluruh santri dan santriwati mengikuti sesi belajar malam di area yang telah ditentukan di bawah pendampingan Ustaz dan Ustazah.

Skema ini diterapkan agar santri dapat langsung berkonsultasi jika menemukan materi pelajaran yang sulit dipahami. Melalui rangkaian persiapan dan pelaksanaan yang disiplin ini, diharapkan seluruh santri mampu meraih hasil optimal.

 

LDRH Perluas Dakwah: Dari Pembinaan Al-Qur’an hingga Rencana Pembangunan Hidayah Center

LDRH Perluas Dakwah: Dari Pembinaan Al-Qur’an hingga Rencana Pembangunan Hidayah Center

RAUDHAH — Lembaga Dakwah Ar-Raudlatul Hasanah (LDRH) memperluas jangkauan pembinaan keagamaan hingga ke Desa Limang, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Program yang berlangsung sejak Agustus 2026 ini menerjunkan dua ustaz muda serta empat santri kelas 5 dan 6 KMI untuk mendampingi masyarakat secara langsung.

Proses dakwah dilakukan secara bertahap melalui pendekatan personal guna membangun kepercayaan warga dan tokoh masyarakat setempat. LDRH menekankan bahwa dakwah tidak cukup sebatas ceramah atau penyampaian teori, tetapi memerlukan keteladanan dan interaksi sosial.

“Dakwah diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan agama, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ustaz Yudi Irawan, salah satu penanggung jawab program.

Dampak positif dari kehadiran tim dakwah mulai dirasakan warga. Aktivitas di masjid setempat kian hidup melalui tradisi salat berjamaah, azan, hingga majelis kajian. Anak-anak mendapat bimbingan membaca Iqra dan Al-Qur’an—mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga hukum tajwid—sementara para ibu difasilitasi wadah belajar Al-Qur’an dan kajian keislaman. Selain itu, dinamika dakwah ini juga diwarnai momen hangat ketika seorang warga setempat, Dedi Damianus Sembiring, memutuskan untuk menguncapkan dua kalimat syahadat usai berniat meminang seorang Muslimah.

Rangkaian kegiatan keberlanjutan yang telah terlaksana meliputi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, pelatihan praktik salat, hingga penguatan bimbingan Al-Qur’an harian.

Guna menjaga keberlanjutan pembinaan, LDRH kini tengah mempersiapkan pembangunan Hidayah Center di Desa Limang. Pusat kegiatan ini rencananya dilengkapi fasilitas musala dan taman kanak-kanak untuk menunjang pendidikan serta aktivitas keagamaan masyarakat. Tak hanya di Desa Limang, LDRH juga menjalin kerja sama dengan Yayasan Haji Hanif untuk membangun musala di Desa Kuta Mbelin sebagai bagian dari komitmen dakwah yang lebih luas di Kabupaten Karo.