by Ar-Raudlatul Hasanah | Oct 25, 2026 | Berita
RAUDHAH — Sebanyak 28 orang dari Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Darul Zakir Alwi, Serdang Bedagai, mengunjungi Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah pada Ahad, 25 Oktober 2026, bertepatan dengan 14 Jumadil Awal 1448 H. Kunjungan ini menjadi ruang pertukaran pengalaman dalam pengelolaan dan pengembangan organisasi pelajar di lingkungan pesantren.
Rombongan yang terdiri atas 12 santri, 12 santriwati, dua ustaz, dan dua ustazah tersebut disambut oleh Ustaz Fadlan Habibi Harahap, guru Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, bersama sejumlah Ustaz dan Ustazah lainnya. Rombongan dipimpin oleh Direktur Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Darul Zakir Alwi, Ustaz Dr. Dianto, M.Pd.
Agenda kunjungan diawali dengan ramah tamah bersama Wakil Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustaz Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom., di kantor kedirekturan. Dalam pertemuan tersebut, Beliau menyampaikan sejumlah pandangan mengenai kepemimpinan, tanggung jawab, dan peran organisasi dalam membentuk karakter santri.

Menurut Ustaz Carles Ginting, jabatan dalam organisasi bukan semata-mata kedudukan yang harus dijalankan, melainkan amanah yang dapat menjadi sarana pengabdian. Beliau mengingatkan para santri agar mampu menikmati tanggung jawab yang diberikan dan memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk belajar.
“Apapun jabatan yang diamanahkan, hal itu akan bermanfaat bagi yang menjalankannya. Kalau kalian mendapatkan jabatan apa pun, maka nikmatilah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa menjalankan amanah merupakan bagian dari pengabdian. Dalam konteks pendidikan pesantren, organisasi pelajar menjadi salah satu instrumen untuk menempa santri dan santriwati agar terbiasa menghadapi tanggung jawab, mengambil keputusan, serta bekerja bersama dalam mencapai tujuan.
“Kita sebagai pengurus harus menjadi pengayom dan pengajak,” kata Ustaz Carles Ginting, menekankan pentingnya keteladanan dalam menjalankan kepemimpinan. Ia juga mengingatkan bahwa seorang pengurus perlu bersikap bijak, menyusun strategi yang tepat, dan mampu mengarahkan anggotanya tanpa mengabaikan nilai kebersamaan.
Sementara itu, Ustaz Dianto menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh pihak Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Dalam kesempatan tersebut, ia memperkenalkan sejumlah anggota rombongan sekaligus menyampaikan harapan agar kunjungan ini dapat memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi para peserta.

Usai pertemuan di kantor kedirekturan, rombongan melanjutkan kegiatan dengan berkeliling area Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Mereka juga berdiskusi secara langsung dengan para santri dan santriwati yang tergabung dalam Organisasi Pelajar Ar-Raudlatul Hasanah (OPRH). Interaksi tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat pelaksanaan kegiatan organisasi serta kehidupan santri.
Lebih dari sekadar kunjungan kelembagaan, pertemuan ini memperlihatkan pentingnya pertukaran pengalaman dalam pendidikan kepemimpinan santri. Organisasi pelajar tidak hanya menjadi wadah menjalankan program, tetapi juga ruang pembelajaran untuk menumbuhkan tanggung jawab, kepedulian, dan kemampuan bekerja bersama sebagai bekal pengabdian di tengah masyarakat.
by Ar-Raudlatul Hasanah | Oct 23, 2026 | Berita
RAUDHAH – Suasana cerah menyelimuti kompleks Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah pada Jumat pagi (23/10/2026), bertepatan dengan 12 Jumadil Ula 1448 H. Berbalut jas hitam yang rapi dan elegan, sebanyak ratusan santri dan santriwati Kelas 6 KMI Angkatan ke-36 berkumpul dengan penuh antusias untuk mengikuti agenda tahunan Perfotoan Santri/wati Kelas Akhir KMI.

Kegiatan istimewa ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Badan Wakaf, Direktur, Wakil Direktur, Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah, para Kepala Bidang, serta Asatidzah lainnya.
Sesi pemotretan berlangsung hangat dan tertib di beberapa titik ikonik pesantren yang telah disiapkan oleh panitia, meliputi: Halaman Masjid Pesantren, halaman Gedung Serbaguna, Lapangan Sepak Bola, tangga utama Masjid, dan halaman Gedung Rabi‘ah Adawiyah.

Usai sesi foto angkatan secara menyeluruh, jepretan kamera dilanjutkan dengan foto per kelas bersama Wali Kelas masing-masing di lokasi yang telah ditentukan.
Persiapan matang yang telah dilakukan panitia jauh-jauh hari berbuah manis. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan penuh kehangatan. Senyum bahagia terpancar jelas dari raut wajah para santri/wati yang kini resmi terabadikan sebagai Angkatan ke-36.
Melalui dokumentasi ini, Angkatan ke-36 tidak hanya mengukir kenangan, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk terus menjunjung tinggi al-akhlak al-karimah dan menjadi khairul ummah saat berkiprah di masyarakat nantinya.
by Ar-Raudlatul Hasanah | Oct 23, 2026 | Berita
RAUDHAH — Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustaz KH. Miftakhuddin, M.M., menghadiri upacara Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026 tingkat Kota Medan pada Kamis, 22 Oktober 2026/ 12 Jumadil Awal 1448 H. Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Taman Pendidikan Islam (PPMDH TPI) Medan.
Acara yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang hari ini dihadiri oleh Muhammad Sofyan, S.Sos, M.A.P. selaku Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Medan yang mewakili Wali Kota Medan, para pimpinan pesantren se-Kota Medan, tamu undangan, serta ratusan perwakilan santri dari pelbagai lembaga pendidikan Islam di Kota Medan. Seluruh rangkaian upacara berjalan dengan khidmat, tertib, dan penuh semangat kebangsaan.
Kehadiran Ustaz KH. Miftakhuddin dalam peringatan HSN ini merupakan wujud nyata partisipasi aktif dan komitmen Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah untuk terus menyemarakkan momentum nasional. Kehadiran ini juga menegaskan kembali peran strategis santri sebagai garda terdepan penjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Peringatan Hari Santri Nasional tahun 2026 ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini menjadi refleksi penting akan kontribusi nyata santri dalam menjaga kedaulatan, martabat, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
by Ar-Raudlatul Hasanah | Oct 22, 2026 | Berita
RAUDHAH – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah kembali menggelar kegiatan Fath Kutub At-Turats Al-Islamiy sebagai bagian dari upaya mendalami dan memperluas wawasan santri/wati dalam memahami kitab kuning. Kegiatan ini diperuntukkan bagi santri kelas 5 Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) dan berlangsung pada dua periode, yakni 10-15 Oktober 2026 untuk santri dan 17-22 Oktober 2026 untuk santriwati.

Pembelajaran kitab kuning merupakan bagian integral dalam kurikulum Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Sejumlah kitab klasik, seperti Bulughul Maram dan Bidayatul Mujtahid, menjadi materi utama yang dipelajari oleh para santri setiap harinya. Untuk memperdalam pemahaman mereka, pesantren menyelenggarakan kegiatan khusus ini sebagai wadah diskusi dan eksplorasi lebih lanjut mengenai berbagai disiplin ilmu Islam.
Acara ini resmi dibuka oleh Direktur dan Wakil Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, yang kemudian dilanjutkan dengan pengarahan berbagai materi terkait Fathul Kutub, mencakup bidang Aqidah/Tauhid, Hadits, Fiqh, dan Tafsir. Setiap harinya, pembahasan kitab dan diskusi permasalahan dalam tiap materi dilakukan secara intensif.

Guna mempermudah jalannya kegiatan, para peserta dibagi dalam 4 unit atau syu’bah. Setiap unit terdiri dari beberapa kelompok, dengan masing-masing kelompok beranggotakan kurang lebih 8-10 santri/wati. Pembagian ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran serta memfasilitasi diskusi yang lebih mendalam.
Kemudian, para peserta diharapkan tidak hanya memperluas wawasan keilmuan dalam bidang Kutub At-Turats, tetapi memiliki kemampuan untuk menganalisis problematika furu’iyah (cabang hukum Islam) dengan perspektif yang luas. Juga, mereka tidak bersikap fanatik terhadap satu madzhab tertentu, melainkan mampu meneliti keabsahan setiap madzhab berdasarkan dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Kegiatan Fath Kutub At-Turats Al-Islamiy ini menjadi salah satu bentuk komitmen Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah dalam mencetak santri yang memiliki pemahaman mendalam terhadap ilmu-ilmu keislaman serta mampu berpikir kritis dalam menyikapi berbagai permasalahan fiqih di tengah masyarakat.
by Ar-Raudlatul Hasanah | Oct 22, 2026 | Berita
RAUDHAH — Riuh suara santri dan dentuman musik dari Raudhah Band yang menghentak malam itu membuka panggung ART FEST 2026 di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah pada Rabu, 21 Oktober 2026 pukul 20.30 WIB. Dipandu oleh MC pembawa acara, suasana acara langsung hidup dan mendongkrak atmosfer kompetisi yang hangat di tengah para santri yang antusias menyaksikan festival tahunan tersebut.
Acara dibuka secara resmi dan simbolis oleh Wakil Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustaz Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom. Dalam pidato sambutannya, beliau memetik hadis “Innalillaha jamiilun yuhibbul jamaal” (Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan) serta menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya mengembangkan bakat.
“Setiap manusia memiliki kelebihan masing-masing. Bakat tidak boleh dipendam, namun harus dikeluarkan dan ditunjukkan agar orang tahu dan kita bisa berkembang. Orang yang diam dan tidak mengeluarkan bakatnya akan begitu-begitu saja, berbeda dengan orang yang mau menunjukkan bakatnya maka akan maju dan menjadi terpakai di mana-mana,” tegas Ustaz Carles. Rangkaian pembukaan ini dilanjutkan dengan pembacaan kriteria oleh Dewan Juri.
Ajang yang menguji kreativitas ini melahirkan deretan nama pemenang berprestasi dari berbagai cabang lomba:
Kaligrafi Kontemporer: Syauqi Abrar (6B) meraih Juara 1, disusul M. Reda (5D) Juara 2, Hafiz Yuhan (5D) Juara 3, dan Alzio Affandy (3D) Juara Harapan 1.
Kaligrafi Naskhi: Hanafi Ansari (4F) keluar sebagai Juara 1, Achmad Fachmizan (3B) Juara 2, Asfa Rayhan (1 Intensif) Juara 3, dan Lindan Aditya (1 Intensif) Juara Harapan 1.
Komik: Imam Hidayatullah (4F) menyabet Juara 1, Dzaki Adli (4J) Juara 2, Ghany Almuzah (5) Juara 3, dan Rifqi Aqil (4J) Juara Harapan 1.
Raudhah Amazing Sound (RAS): Kompetisi ini dimenangkan oleh Abid Fakhry bersama Ustaz Hendra Gunawan sebagai Juara 1, Kholis Akhdan bersama Ustaz Pardamean Juara 2, Zulfatan Ustaz Candra Kirana Juara 3, dan Nabil Dzaki Ustaz Harry Shobari sebagai Juara Harapan 1.
by Ar-Raudlatul Hasanah | Oct 20, 2026 | Berita
RAUDHAH — Pesantren Ar-Raudhah kembali menggelar agenda tahunan Haflah Tilawah pada Rabu malam, 20 Oktober 2026/10 Jumadil Awal 1448. Kegiatan yang dimulai pukul 20.30 WIB ini diselenggarakan sebagai syiar Islam sekaligus ikhtiar memperkuat ketakwaan dan memperdalam mahabbah (rasa cinta) para santri terhadap Al-Qur’an.
Rangkaian acara diawali dengan lantunan nasyid yang menghadirkan suasana penuh kekhusyukan dan ketenangan batin. Dalam pembukaannya, Ketua Panitia, Akh Fikri Yamin bersama Wakil Ketua, Khairul Rifai memaparkan sejumlah cabang musabaqah yang diperlombakan, meliputi Tilawah Al-Qur’an, Tartil, dan Hifzul Qur’an.
Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustaz KH. Miftakhuddin, MM, menegaskan bahwa Haflah Tilawah bukan sekadar ajang perlombaan atau mencari kemenangan semata. Namun, agenda rutin ini merupakan sarana bagi para santri untuk makin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang hakiki.
“Manusia bergerak dengan menunjukkan bakat yang dianugerahkan Allah. Namun, majlis ini bukan untuk sekadar kompetisi, melainkan untuk mutaqarrib (mendekatkan diri) kepada Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup,” ujar Ustaz KH Miftakhuddin seraya mengutip hadis Nabi, “Khoirukum man ta’allamal Qur’aana wa ‘allamah” (Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya).
Beliau juga mengingatkan pentingnya menuntut ilmu Al-Qur’an secara kaffah. Juga, mengimbau para santri untuk tidak hanya memperindah bacaan lewat tajwid dan makhraj, tetapi juga mendalami ilmu alat seperti Nahwu dan Shorof agar dapat memahami serta membumikan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah ummat.
Setelah doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz Marnang Saing, S.Pd., dan penyampaian kriteria penilaian oleh Ustaz Candra Kirana M.Pd. acara memasuki agenda utama. Suasana majlis kian khidmat saat dilanjutkan dengan penampilan para finalis yang menguji kemampuannya dalam dua cabang utama, yaitu Tilawah Al-Qur’an secara berkelompok serta Tahfidz Al-Qur’an secara personal.
Berikut adalah narasi lengkap berbentuk paragraf yang sudah disusun secara sistematis berdasarkan urutan peringkat/juara:
Berdasarkan hasil penilaian Dewan Juri pada lomba tilawah kelompok, Kelompok 2 berhasil keluar sebagai Juara Pertama dengan total perolehan nilai tertinggi sebesar 171. Kelompok yang beranggotakan Rafiq Wafy (4 H), Wahyu Hrp (3XB), Aiman Hariri (3 F), Abdul Nasir (3XB), dan Raffa Rafik (1XB) ini membawakan surah Al-Hujurat ayat 10. Mereka tampil memukau dengan komposisi irama Bayyati, Hijaz, Nahawand, dan Ras,
Posisi Juara Kedua diraih oleh Kelompok 1 dengan akumulasi nilai sebanyak 157. Kelompok ini beranggotakan Ikhwan Mujahid (1xD), Arkana Ramadhan (4 F), Fitrah Ridwan (3 D), Raiz Al Muzakky (2 B), dan Irhamullah (3XD). Membawakan surah Al-Imran ayat 102.
Sementara itu, Kelompok 3 menempati posisi Juara Ketiga dengan total nilai 152. Kelompok yang terdiri dari Ihsan Al Fariq (3 D), Khalis Akhdan (2 H), M Fathansyah (1 B), Aisiy Hafy Siagian (1 L), dan Habib Hasyim Marpaung (1 B) ini membawakan surah Al-Hujurat ayat 13.
Berdasarkan hasil penilaian Dewan Juri pada kategori Tahfizh Senior, Salman Hadi dari kelas 6 B berhasil meraih posisi Juara 1. Ia Posisi Juara 2 ditempati oleh Hunaifi Imaroh dari kelas 1XB, disusul oleh Zidan Azky Al Musyaffa dari kelas 3XB sebagai Juara 3.
Selain itu, posisi Juara Harapan berturut-turut diraih oleh Ikhdam Adam (kelas 5D) sebagai Harapan 1, Asfa Raihan Dhani (kelas 1XB) sebagai Harapan 2, dan Izul Arafat (kelas 6A1) sebagai Harapan 3.
by Ar-Raudlatul Hasanah | Oct 18, 2026 | Berita
RAUDHAH – Selepas perhelatan Tabligh Akbar rangkaian Kesyukuran Milad ke-44 Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, atmosfer kekhidmatan masih menyelimuti Gedung Hafsah lantai 3, Ahad, 18 Oktober 2026.
Ketua Umum Badan Wakaf, Pimpinan, Direktur, Wakil Direktur, para Kepala Bidang, seluruh Ustaz dan Ustazah berkumpul menyimak pemikiran Prof. Dr. KH. Husnan Bey Fananie, M.A., Sekretaris Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor, dalam sesi capacity building bertajuk “Pengembangan Pesantren yang Berkelanjutan: Belajar dari Pengalaman Gontor”.
Di hadapan Asatidzah, K.H. Husnan Bey Fananie mengungkapkan rahasia ketahanan Gontor yang terus relevan melintasi zaman. Kuncinya terletak pada kedisiplinan mengelola sistem wakaf dan kerapian tata kelola administrasi.

Menurutnya, napas panjang sebuah lembaga pendidikan Islam sangat bergantung pada keikhlasan serta profesionalisme pengelolanya. Ia mengingatkan para guru bahwa pengabdian di pesantren tak bisa diukur dengan hitung-hitungan finansial semata, sebab takaran ihsan dan rezeki para pendidik pada hakikatnya berada di tangan Allah Ta’ala.

KH. Husnan Bey Fananie menambahkan bahwa Gontor memegang teguh Panca Jangka sebagai kompas pergerakan, terutama dalam hal pendidikan dan kaderisasi berkelanjutan. Ia menaruh harapan besar agar Ar-Raudlatul Hasanah terus mencetak kader-kader tangguh di berbagai bidang ilmu.
Apalagi, kedua pesantren ini sama-sama mengusung sistem Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI). Model pendidikan modern ini dinilainya sangat fleksibel dan tempaannya dirancang agar para alumni memiliki daya adaptasi tinggi. Santri tak hanya dibentuk menjadi tokoh agama, tetapi disiapkan untuk mampu berani berkiprah di lini profesi apa pun.

Penyampaian KH. Husnan Bey Fananie semakin menghidupkan suasana tatkala ia menyisipkan kilas balik perjalanan hidupnya yang kaya warna. Ia menceritakan rekannya di masa muda yang begitu gandrung bermain sepak bola hingga sempat tak naik kelas, namun berkat tempaan karakter pesantren, kini menjelma menjadi ulama besar yang memimpin pesantren luas.

Cerita itu menjadi bukti bahwa proses pembentukan akhlak karimah, keluhuran budi, dan kesantunan berbahasa jauh lebih menentukan masa depan seseorang ketimbang angka-angka di atas kertas. Menjadi pendidik di pesantren, tegasnya, adalah bentuk pengabdian tertinggi yang melampaui keikhlasan biasa.
Pengalaman hidup Kyai Husnan sendiri menjadi cermin hidup dari fleksibilitas alumni pesantren. Ia membagikan rekam jejak perjuangannya melewati dinamika era Reformasi 1998, pertemuannya dengan tokoh bangsa KH Idham Chalid, hingga kiprahnya di panggung politik dan diplomasi nasional—mulai dari Sekretaris Wakil Presiden RI Hamzah Haz, anggota DPR RI, hingga menjadi diplomat yang mewakili negara di kancah internasional.

Lewat rekam jejak itu, Kyai Husnan menegaskan bahwa anak pesantren tidak boleh merasa kerdil. Pendidikan modern yang mereka terima telah membekali mereka dengan mentalitas global dan wawasan internasional.
Pesan lainnya dari KH. Husnan Bey Fananie menegaskan pentingnya menggeser fokus dari sekadar promosi duniawi menuju pencitraan ilahi melalui kualitas pendidikan dan keikhlasan. Beliau menyampaikan bahwa Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah tidak membutuhkan pencitraan buatan manusia, karena Allah SWT sendiri yang akan menanamkan rasa cinta dan kepercayaan ke dalam hati masyarakat apabila melihat ketulusan serta mutu pendidikan di dalam pondok.
Ketika civitas akademika menjalankan Tiga Tugas Ilahi dengan penuh pengabdian dan mahabbah kepada Allah, Dia tidak hanya akan mengabulkan cita-cita perjuangan pesantren, tetapi juga mengangkat derajat serta citra kemuliaan bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, amanah sebagai khalifah di muka bumi ini harus diemban dengan kesadaran penuh sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Zalzalah, di mana setiap sekecil apa pun ikhtiar kebaikan dalam membimbing umat akan diperhitungkan dan membuahkan keberkahan yang hakiki di hadapan Allah SWT.
Sesi penguatan kapasitas sore itu pun ditutup dengan optimisme baru bagi keluarga besar Ar-Raudlatul Hasanah untuk terus merawat warisan pendidikan dan melangkah mantap menuju masa depan.
by Ar-Raudlatul Hasanah | Oct 18, 2026 | Berita
RAUDHAH — Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menyemarakkan kesyukuran milad ke-44 tahun dengan menggelar Tabligh Akbar bersama Ustaz Abi Makki dan Prof. Dr. KH. Husnan Bey Fananie, M.A., pada Ahad, 18 Oktober 2026 bertepatan dengan 7 Jumadil Awal 1448 Hijriah.

Kedatangan kedua tokoh tersebut disambut hangat oleh Keluarga Besar Pesantren. Hadir dalam penyambutan tersebut Ketua Umum Badan Wakaf Bapak Drs. H. M. Ilyas Tarigan, Pimpinan Pesantren Bapak Ir. H. Achmad Prana Ruliato Tarigan, Direktur Ustaz KH. Miftakhuddin, MM., Wakil Direktur Ustaz Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom., Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah Assoc. Prof. KH. Rasyidin, M.A., serta para Kepala Bidang.
Gedung Serbaguna menjadi pusat berlangsungnya Tabligh Akbar. Ribuan santri dan santriwati tampak antusias menanti kehadiran Ustaz Abi Makki dan Prof. Dr. KH. Husnan Bey Fananie untuk menyimak tausiyah dan nasihat yang penuh hikmah serta inspirasi. Acara ini juga diisi dengan pembacaan takhtim, tahlil, dan doa bersama untuk memohon keberkahan serta kelancaran bagi perjalanan pesantren ke depan.

Dalam sambutannya, Direktur/Pengasuh Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustaz Miftakhuddin, M.M., menegaskan bahwa momentum tasyakuran ini merupakan sarana untuk mensyukuri nikmat Allah SWT sekaligus merefleksikan perjalanan 44 tahun (18 Oktober 1982 – 18 Oktober 2026) pesantren.
Beliau memaparkan empat fase perjalanan sejarah pesantren:
1. Fase Perintisan (1976–1985): Lahir dari keikhlasan, pengorbanan, dan cita-cita besar para pendiri.
2. Fase Perkembangan Awal (1985–1988): Membangun sistem kelembagaan, pengesahan Badan Wakaf, serta penerapan Kurikulum KMI.
3. Fase Konsolidasi dan Penguatan (1988–2010): Menjaga amanah, kedisiplinan, dan keberlanjutan regenerasi.
4. Fase Penguatan dan Pengembangan (2010–Sekarang): Meningkatkan mutu pendidikan serta mengembangkan sarana dan aset wakaf.
“Ar-Raudlatul Hasanah adalah lembaga wakaf milik umat. Keberhasilan pesantren bukan hanya diukur dari megahnya bangunan, melainkan ketika nilai-nilai pesantren tetap hidup dan karakter santri terbentuk,” ujar Direktur. Beliau menekankan prinsip المحافظة على القيم مع التغيير إلى الكمال (Menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan, sambil terus melakukan perubahan menuju kesempurnaan) melalui tiga amanah utama: menjaga nilai dan Panca Jiwa, meningkatkan mutu pendidikan, serta memperkuat kaderisasi.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Ustaz Abi Makki mengajak seluruh hadirin untuk merenungi takdir dan keagungan Allah SWT. Mengenang perjalanan hidupnya, beliau menyampaikan bahwa apa pun yang terjadi merupakan hal indah yang telah digariskan.

Beliau menegaskan bahwa nama Ar-Raudlatul memiliki kemuliaan sebagaimana Raudhah yang diwakafkan oleh Rasulullah SAW. “Wakaf adalah amalan yang sangat bagus, ibarat keran yang terus meneteskan air pahala. Allah SWT akan mencatat setiap amalan tersebut. Karena itu, jangan pernah bertanya apa yang Raudhah berikan padamu, tetapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan untuk Raudhah,” pesan Ustaz Abi Makki.
Ustaz Abi Makki juga menyampaikan kekagumannya terhadap santri dan sistem pesantren. Menurutnya, para santri adalah benih unggul dan indah yang disimpan dan dipupuk di pesantren hingga kelak tumbuh menjadi manusia bermanfaat. Beliau menegaskan bahwa anak yang pintar bukan sekadar karena harapannya, melainkan karena proses belajar yang konsisten sebagaimana diajarkan di pesantren.
Beliau turut terpukau dengan Panca Motto Pesantren yang senantiasa menjiwai seluruh santri dan asatidz, yaitu: Berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas, Berpikiran Bebas, dan Beramal Ikhlas.

Dalam nasihatnya, Prof. Dr. KH. Husnan Bey Fananie, M.A., menguatkan bahwa Ar-Raudlatul Hasanah berdiri di atas fondasi yang kokoh. Bekas didikan pesantren ini kelak akan menjadi warisan berharga yang dipetik hasilnya hingga anak-cucu di masa depan. Santri digembleng untuk menjadi pribadi yang siap dipimpin sekaligus siap memimpin di tengah masyarakat.
Kesyukuran milad ke-44 Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali tekad dalam melanjutkan perjuangan para pendiri. Dengan semangat ukhuwah dan pengabdian, pesantren terus berkomitmen mencetak generasi unggul yang berpegang teguh pada ilmu, iman, dan amal saleh demi kejayaan Islam dan kemajuan bangsa.
by Ar-Raudlatul Hasanah | Oct 18, 2026 | Berita
RAUDHAH — Ahad, 18 Oktober 2026, bertepatan dengan 7 Jumadil Awal 1448 Hijriah, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah melaksankan Kesyukuran Milad ke-44 pesantren, alunan hadrah yang menenangkan hati melebur bersama derap langkah ratusan santri dan guru yang memenuhi ruangan. Gema energi hari itu tumpah ketika Prof. Dr. H. Husnan Bey Fananie, M.A. berdiri di atas panggung.
Sebagai Sekretaris Badan Wakaf Pesantren Modern Darussalam Gontor, pandangan KH. Husnan Bey Fananie melesat jauh melampaui sekat-sekat formalitas institusi pendidikan.

“Pesantren itu tak ada kurangnya dalam mencetak orang-orang yang bagus,” ujar KH Husnan Bey Fananie membuka pesannya. Ia mengingatkan agar para santri tidak terjebak pada rutinitas linier. “Jangan sekadar sekolah nyari ilmu. Sekolah saja tidak cukup, namun pondok itu membentuk jasmani, otak, dan pikiran agar berpikir cerdas.”
Di hadapan para santri, KH. Husnan Bey Fananie mengibaratkan proses pendidikan layaknya seni pembentukan gerabah. “Kita sedang dibentuk bagai tanah liat,” tuturnya. Proses itu panjang dan melelahkan, jauh berbeda dengan anak-anak di luar sana yang kerap lepas kendali di masa transisi dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) tanpa arah yang jelas.

Di luar pagar pesantren, kata KH. Husnan Bey Fananie, dunia luar kerap diwarnai tawuran dan pertengkaran bebas. Sebaliknya, di dalam pesantren, seluruh potensi diri santri dijaga ketat. “24 jam dikontrol: teng makan, teng kumpul, tak ada waktu kosong. Semua terkontrol,” tegasnya. Pengasuhan menyeluruh selama enam tahun di Ar-Raudlatul Hasanah adalah kawah candradimuka yang paling ideal untuk membentuk mentalitas baja.

Kedisiplinan ketat itu bukan tanpa hasil. Beliau menantang para santri untuk menguasai panggung global dengan penguasaan bahasa asing yang fasih. “Tamat pesantren, kita bantai cakap orang Arab, bahasa Inggris bisa kita bantai semua!” serunya membakar semangat.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa Ar-Raudlatul Hasanah berdiri di atas fondasi mulia: bermotto berbudi tinggi, berbadan sehat sebagai syarat utama, berpengetahuan luas, serta berorientasi menjadi manusia yang siap dipimpin sekaligus siap memimpin. Bekas didikan pesantren ini kelak akan menjadi warisan berharga yang bisa dibanggakan hingga ke anak-cucu di masa depan.
Poin-poin tersebut otomatis membentuk karakter santri dari dalam diri. “Santri otomatis sudah dibentuk nilai dalam diri, yaitu nyali yang sudah tertanam,” ungkap KH. Husnan Bey. Ia menutup orasinya dengan metafora yang menghujam tajam ke sanubari: “Santri itu ibarat harimau yang menolak semua apa yang dapat.”—simbol ketangguhan predator yang siap menelan dan menaklukkan segala tantangan zaman tanpa pernah kehilangan arah.
Ia lantas mengakhiri pesannya dengan kalimat pamungkas yang menggema di setiap sudut: “Jangan takut hidup, hiduplah yang berarti!”
by Ar-Raudlatul Hasanah | Oct 18, 2026 | Berita
RAUDHAH — Suasana khidmat menyelimuti Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah pada Minggu, 18 Oktober 2026 atau bertepatan dengan 7 Jumadil Awal 1448 Hijriah.

Rangkaian acara dibuka dengan ziarah serta doa bersama di area pemakaman para pewakif dan guru pesantren. Pembacaan doa dipimpin langsung oleh Ustadz Assoc. Prof. Dr. K.H. Rasyidin, M.A.

Momen penuh kekhusyukan ini turut dihadiri para ulama dan tamu kehormatan, di antaranya Ustadz Abi Makki serta Prof. Dr. H. Husnan Bey Fananie, M.A. Turut hadir pula Ketua Umum Badan Wakaf Pimpinan, Direktur dan Wakil Direktur, seluruh Kepala Bidang, anggota Badan Wakaf lainnya, dan Ustaz/ah.

Usai memanjatkan doa, rombongan bertolak menuju Gedung Olahraga (GOR) kompleks pesantren. Langkah mereka disambut hangat oleh lantunan hadrah yang menyemarakkan suasana. Memasuki pukul 08.45 WIB, kegiatan berlanjut ke agenda inti berupa Tabligh Akbar.
Melalui perayaan ke-44 tahun ini, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah berharap dapat terus mempererat tali silaturahmi sekaligus meneguhkan komitmen dalam menjaga nilai-nilai perjuangan para pendiri.