RAUDHAH — Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan menerima kunjungan benchmarking dari delegasi Bahagian Pendidikan Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Pulau Pinang (JHEAIPP), Malaysia, Jumat, 9 Oktober 2026/28 Rabi’ul Akhir 1448. Kunjungan ini menjadi wadah pertukaran gagasan terkait pengelolaan ekosistem pendidikan berbasis wakaf, kemandirian lembaga, serta penguatan jiwa pengabdian para pendidik.
Rombongan delegasi dipimpin langsung oleh Ustaz Muhammad Aziz bin Abdullah selaku Pengerusi Jawatankuasa Pendidikan di Majlis Agama Islam Negeri Pulau Pinang bersama Ustaz Nasrun bin Abdullah selaku Ketua Penolong Pengarah Bahagian Pendidikan JHEAIPP. Dalam kesempatan tersebut, keduanya mengungkapkan rasa takjub mereka atas pengelolaan pesantren yang begitu tertata, sekaligus menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam atas penyambutan yang sangat hangat serta baik dari Ustaz dan Ustazah Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah.

Dalam sesi pemaparannya, Ustadz Carles Ginting selaku Wakil Direktur menjelaskan sejarah perjalanan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah yang resmi berdiri pada 18 Oktober 1982 bertepatan dengan 1 Muharram 1403 Hijriah. Bermula dari lahan seluas 4.000 meter persegi, pesantren ini terus berkembang pesat.
Beliau menegaskan bahwa Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah merupakan aset wakaf milik umat Islam yang harus senantiasa dijaga, dibela, dan diperjuangkan. Seluruh sistem pendidikan yang diterapkan mengacu pada panca jiwa, motto pesantren, serta kurikulum yang dirancang untuk membina karakter dan keilmuan para santri.

Menjawab pertanyaan dari salah satu rombongan mengenai rahasia keberhasilan pengelolaan ekosistem pesantren berbasis wakaf dan strategi kaderisasi pendiri, Ustadz Carles menceritakan akar sejarah berdirinya pesantren. Gagasan ini berawal dari pengajian masyarakat di Paya Bundung dan sekitarnya, yang kemudian melahirkan impian besar keluarga pewakif untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam yang berkelanjutan.
“Pengabdian para guru di pesantren ini dilandasi oleh semangat wakaf. Di sini, para guru diajarkan untuk mengabdi, berjuang, dan mencari keberkahan—bukan semata-mata mengejar materi atau jabatan. Jika kita berbuat kebaikan, niscaya Allah SWT akan memberikan kebaikan pula kepada kita,” ujar Ustadz Carles.
Meski menanamkan jiwa keikhlasan, Ustadz Carles menambahkan bahwa pesantren tetap berkomitmen memberikan fasilitas dan kesejahteraan yang baik bagi para pendidik, di samping menerapkan aturan serta regulasi tertulis yang ketat demi menjaga kedisiplinan dan nilai-nilai kepesantrenan.
Selain fokus pada pengembangan karakter dan kurikulum pendidikan, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah juga menunjukkan kemandirian finansial dalam mengelola lembaga. Kemandirian ini diwujudkan melalui unit-unit usaha internal, di antaranya produksi air minum kemasan (Raudhah Water) dan unit usaha roti (Raudhah Bakery).

Melalui pengelolaan usaha mandiri dan nilai-nilai wakaf yang dipegang teguh, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah terus menjadi contoh bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat berdiri kokoh, mandiri, dan berkelanjutan dalam mencetak generasi penerus bangsa.