RAUDHAH — Dalam upaya menumbuhkan budaya literasi sekaligus meningkatkan keterampilan komunikasi santri dan santriwati, Seksi Perpustakaan dan Kajian Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menyelenggarakan Workshop Jurnalistik Dasar pada Sabtu–Ahad, 19–20 September 2026, bertepatan dengan 7–8 Rabi’ul Akhir 1448 H.
Kegiatan ini diikuti oleh santri dan santriwati kelas 4 serta kelas 3 Intensif KMI. Workshop tersebut menjadi wadah bagi mereka untuk mengenal dunia jurnalistik sekaligus membekali mereka dengan kemampuan dasar dalam menulis, melakukan peliputan, serta menyajikan informasi secara baik dan bertanggung jawab.
Untuk menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif, kegiatan dilaksanakan di dua lokasi berbeda. Para santri mengikuti workshop di Gedung Cordova lantai 3, sementara santriwati bertempat di Gedung Hafsah lantai 3.
Raudhah menghadirkan dua pemateri yang berpengalaman di bidang jurnalistik, yakni Rahmat Utomo, jurnalis Kompas.com, serta Adelina Savitri Lubis, jurnalis sekaligus editor Harian Analisa. Keduanya menyampaikan materi mulai dari pengenalan dasar jurnalistik, teknik peliputan dan wawancara, hingga praktik penulisan berita.
Pada sesi awal, peserta diperkenalkan dengan konsep dasar jurnalistik. Dijelaskan bahwa jurnalistik merupakan proses pengumpulan, pengolahan, penulisan, dan penyajian informasi kepada publik dengan mengedepankan akurasi, objektivitas, serta kebermanfaatan bagi masyarakat.
Peserta juga diperkenalkan pada sejumlah prinsip dasar jurnalistik, seperti keakuratan, objektivitas, kecepatan, keterbukaan, dan tanggung jawab sosial. Selain itu, pemateri menjelaskan berbagai produk jurnalistik, mulai dari berita faktual (news), opini (views), hingga feature yang mengangkat kisah dan sisi human interest.
Materi kemudian berlanjut pada teknik reportase dan wawancara jurnalistik. Peserta diajak memahami bahwa reportase bukan sekadar kegiatan mencari informasi, tetapi merupakan proses peliputan peristiwa secara langsung melalui observasi, wawancara, serta riset dan verifikasi data.
Dalam sesi wawancara, pemateri menekankan pentingnya menggali informasi dari narasumber yang kompeten dengan tetap memperhatikan akurasi, objektivitas, keberimbangan, dan etika komunikasi. Peserta juga dibekali pemahaman mengenai cara menyusun pertanyaan yang efektif agar informasi yang diperoleh dapat mendukung sebuah berita secara utuh.
Selanjutnya, peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik penulisan berita. Pemateri menjelaskan pentingnya memenuhi unsur 5W+1H (what, who, when, where, why, dan how) dalam sebuah berita. Penulisan berita juga harus dilakukan secara ringkas, jelas, faktual, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan dengan struktur berita menggunakan konsep piramida terbalik, yakni menempatkan informasi paling penting pada bagian awal, kemudian diikuti informasi pendukung dan keterangan tambahan. Peserta juga dilatih menyusun judul dan teras berita yang menarik perhatian pembaca tanpa mengesampingkan ketepatan serta akurasi informasi.
Tidak hanya berhenti pada teori, workshop juga diisi dengan praktik langsung. Para santri dan santriwati melakukan simulasi observasi serta wawancara, kemudian mengolah hasil temuan tersebut menjadi sebuah tulisan berita.
Pada sesi akhir, peserta mempresentasikan hasil tulisan mereka di hadapan pemateri. Setiap karya kemudian mendapatkan evaluasi dan masukan konstruktif sebagai bahan perbaikan.
Melalui kegiatan ini, para santri dan santriwati diharapkan agar tidak hanya memahami dasar-dasar jurnalistik, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan literasi, menulis, dan berkomunikasi secara lebih baik. Bekal tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya santri dan santriwati yang mampu mengolah serta menyampaikan informasi secara kritis, akurat, dan bertanggung jawab.