RAUDHAH — Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menggelar ceramah umum bertema “Seni Berpidato dan Berorasi (Al-Khithabah wa Al-Ilqa’)” pada Selasa, 13 Oktober 2026/ 2 Jumadil Awal 1448.

Acara tersebut menghadirkan pakar dakwah sekaligus Wakil Dekan Fakultas Dakwah Islamiyah untuk Pascasarjana dan Penelitian Universitas Al-Azhar Kairo, Prof. Dr. Shalah Mahmud Al-Bajuri.

Di hadapan ratusan santri kelas 4 hingga 6 Kulliytul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), Syekh Shalah membedah secara mendalam tentang hakikat retorika dan seni olah vokal di atas panggung. Ia menegaskan bahwa orasi bukan sekadar keterampilan berbicara di depan khalayak, melainkan sebuah ikhtiar untuk menyentuh kedalaman jiwa pendengar.

“Khutbah itu adalah sebuah seni—seni berhadap-hadapan secara langsung dengan khalayak ramai, meyakinkan argumentasi mereka, serta menarik dan memikat hati mereka,” ujar Syekh Shalah di awal paparan tausiyahnya.

Dalam mengulas anatomi pidato yang ideal, Syekh Shalah menekankan pentingnya bagian pendahuluan (mukaddimah). Untuk mempermudah pemahaman para santri, ulama asal Mesir ini mengibaratkan struktur panggung dakwah layaknya susunan gerbong kereta api.

“Apakah kalian tahu kereta? Kereta terdiri dari rangkaian gerbong, dan bagian paling depan tempat masinis mengemudikannya disebut kepala kereta. Kepala kereta itulah analogi dari mukaddimah dalam sebuah khotbah,” tuturnya.

Menurutnya, bagian pembuka harus dirancang secara matang karena menentukan keberhasilan keseluruhan isi ceramah. “Mukaddimah itu harus kuat, fasih, dan berkaitan erat dengan topik utama. Manfaat utamanya adalah untuk memantik perhatian dan mengunci fokus pendengar sejak awal,” tegas Syekh Shalah.

Ia juga membeberkan dua pilar utama agar seseorang bisa menjadi orator yang handal. Menurutnya, bakat alami perlu disempurnakan dengan latihan yang konsisten.

“Rāsul khithābah at-thab’u wa ‘amūduhā ad-durbah—inti dari khotbah adalah tabiat atau bawaan jiwa, namun tiang penyangganya adalah latihan yang terus-menerus,” kata ulama lulusan Al-Azhar tersebut.

Sesi pencerahan semakin hidup ketika Syekh Shalah membagikan resep bagi orator muda yang kerap merasa cemas atau takut saat berada di mimbar panggung. Ia mengingatkan agar santri senantiasa menyandarkan ikhtiar pada kekuatan ilahi.

“Kuncinya adalah memohon pertolongan kepada Allah Jalla Jalaluh, lalu basahi lidah dengan berdoa: ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku’,” ucapnya mengutip doa Nabi Musa A.S.

Tidak hanya membekali santri dengan teknik retorika, Syekh Shalah menuturkan pesan mendalam mengenai konsistensi dan kewajiban hidup sesuai peran masing-masing.

“Jika kamu seorang penuntut ilmu, maka kewajiban utamamu adalah terus belajar, belajar, dan belajar hingga kamu menemui Allah. Begitu pula jika kamu kelak menjadi kepala keluarga, kewajibanmu adalah mengurus anak-anakmu dan mendidik mereka,” pukasnya penuh penekanan.

Rangkaian acara diawali dengan sambutan hangat dari Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah yang menyampaikan apresiasi atas kedatangan Syekh Shalah. Setelah pemaparan materi, suasana menjadi kian interaktif saat beberapa perwakilan santri maju ke panggung untuk mempraktikkan langsung gaya berorasi.

Syekh Shalah menyimak dengan cermat setiap penampilan santri, lalu memberikan penilaian langsung (feed forward), evaluasi teknik vokal, hingga koreksi struktur pidato secara mendetail. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif, doa bersama yang dipimpin langsung oleh Syekh Shalah Al-Bajuri, dan ditutup oleh pembawa acara.

Chat Via WhatsApp