RAUDHAH — Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustaz KH. Miftakhuddin, M.M., bersama Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudlatul Hasanah, Ustaz Assoc. Prof. Dr. KH. Rasyidin, MA., dengan penuh khidmat menghadiri forum internasional Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.
Acara bergengsi ini diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 5–6 September 2026, sebagai bagian dari rangkaian momentum satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor (1926–2026).
Menghadirkan pesantren sebagai model pendidikan global, mengangkat tema utama “Exploring and Revealing the Pesantren Education System” dengan sub-tema “Saat dunia belajar dari pesantren: Pesantren tidak hanya perlu belajar dari dunia, tetapi dunia juga perlu belajar dari pesantren”, forum ini mempertemukan lebih dari 300 tokoh penting, mulai dari pimpinan lembaga pendidikan, praktisi, akademisi, pemikir, pembuat kebijakan, hingga mitra internasional dari berbagai negara.
Kehadiran Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah dan Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah dalam summit ini menegaskan komitmen kuat untuk mengkaji, mengadopsi, dan mengembangkan sistem pendidikan Islam holistik yang berakar pada tradisi pesantren, namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman global.
Berdasarkan materi dan pembahasan mendalam dalam GIHES 2026, sistem pendidikan pesantren dinilai memiliki kekhasan unik yang mampu menjawab krisis kompetensi global masa kini—dimana banyak lulusan institusi modern unggul secara akademik namun lemah dalam soft skills (kepemimpinan, etos kerja, kolaborasi, dan karakter).
Di pesantren, pendidikan tidak terbatas pada transfer ilmu formal di dalam ruang kelas saja. Seluruh ekosistem kehidupan santri selama 24 jam adalah kurikulum nyata. Mulai dari kelas, perpustakaan, masjid, asrama, disiplin, bahasa, organisasi, olahraga, seni, hingga pengabdian.
Puncak dari rangkaian acara GIHES 2026 ini menghasilkan Deklarasi GIHES 2026, yang menyoroti beberapa poin krusial bagi transformasi pendidikan Islam global. Pertama, pusat pada manusia dan batasan AI: di tengah disrupsi teknologi dan Artificial Intelligence (AI), deklarasi menegaskan bahwa AI harus ditempatkan sekadar sebagai alat pendukung (tools) pendidikan, bukan sebagai penentu utama kepribadian dan nilai moral peserta didik. Kedua, integrasi ilmu dan adab: mendorong keterpaduan antara sains modern, ilmu keagamaan, dan pembentukan adab (integrasi disiplin ilmu dan integrasi kehidupan), sehingga lulusan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas tinggi. Ketiga, penguatan ekosistem karakter: menjadikan lingkungan hidup berasrama sebagai model unggulan pembentukan manusia seutuhnya (complete human being).
Sepulangnya dari forum internasional ini, keikutsertaan Direktur bersama Ketua STIT diharapkan menjadi momentum akselerasi strategis bagi pengembangan lembaga, sehingga menjadikan Ar-Raudlatul Hasanah sebagai institusi yang terus melahirkan generasi berilmu luas, berakhlak mulia, mandiri, berjiwa pemimpin, serta bermanfaat bagi masyarakat luas dan peradaban dunia.