RAUDHAH –Santri dan santriwati Akhir KMI Angkatan ke-36 sukses melaksanakan Pagelaran Seni Akbar Panggung Gembira 636 pada Kamis–Jumat malam, 27–28 Agustus 2026, bertempat di Gedung Serbaguna Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Kegiatan yang dimulai pukul 20.15 WIB tersebut berlangsung meriah dan spektakuler. Para penonton tampak antusias menyaksikan setiap penampilan yang dipersembahkan oleh santri/wati.

Panggung Gembira 636 merupakan mahakarya santri akhir kelas 6 KMI yang hadir sebagai salah satu puncak rangkaian Khutbatul ‘Arsy. Mengusung tema “Khalifah 636” dengan tagline “Khairul A’immah fil ‘Ilmi wal Iffah”, yang berarti sebaik-baik pemimpin adalah yang berilmu dan kehormatan. Konsep tersebut menggambarkan perjalanan, perjuangan, serta berbagai nilai yang ditempuh seorang santri selama menjalani kehidupan di pesantren.

Selama dua malam pelaksanaan, berbagai pertunjukan seni ditampilkan secara apik oleh santri/wati. Pada malam putri, Kamis, 27 Agustus 2026, penampilan yang disuguhkan di antaranya nasyid, master of ceremony, reading of Holy Qur’an, kata sambutan ketua panitia, tari persembahan, grand opening*, drama inspiratif “Sulthanah Syajarah Dur”, We Are the Best, Wayang Khalifah, shalawat dan Melodi Hijrah, Power Rangers, Wushu, drama musikal “Jangan Ragu”, Batak Rhythm, Rising of Garuda, drama kabaret “JAP (Jadi Apa Prok-Prok)”, *About You*, hingga Folksong.

Sementara itu, malam putra yang dilaksanakan pada Jumat, 28 Agustus 2026, menghadirkan sejumlah penampilan seperti nasyid, master of ceremony, reading of Holy Qur’an, kata sambutan ketua panitia, tari persembahan, grand opening, Sandang (Santri Berdendang), shalawat dan seruan umat, drama inspiratif, Thariq bin Ziyad, IGD (Internasional Great Dance), Khalifah Band, ceramah singkat, GTA (Gemilang Tari Aceh), Mills (Man of Indonesian X Light Stick), RCB 2 (Rawan Curigai Besi 2), BOS (Battle of Shinobi), KPK (Kritik Publik Kebijakan), Suara Hati Pohon, hingga Folksong.

Beragam penampilan tersebut menjadi bukti kreativitas dan kerja keras santri/wati dalam mempersiapkan sebuah pagelaran besar. Di balik setiap pertunjukan terdapat proses panjang yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari seni peran, musik, tari, puisi, dekorasi, kostum, kepanitiaan, hingga tata cahaya. Seluruh proses tersebut menjadi ruang bagi santri untuk belajar bekerja sama, bertanggung jawab, berdisiplin, berkomunikasi, serta mengembangkan jiwa kepemimpinan.

Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ustaz KH. Miftakhuddin, MM., menegaskan bahwa Panggung Gembira di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah bukan semata-mata sebuah panggung pertunjukan, melainkan bagian dari proses pendidikan santri. Menurutnya, berbagai unsur yang terdapat dalam Panggung Gembira merupakan sarana atau wasilah untuk mencapai tujuan utama, yaitu pendidikan.

“Panggung Gembira di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah bukan hanya sekadar panggung, tapi panggung pendidikan. Ada dramanya, ada tarinya, ada musiknya, puisinya, dekorasinya, kostumnya, kepanitiaan, lighting-nya. Semua hal ini hanya sebagai wasilah untuk tujuan utama, yakni pendidikan,” ungkap Ustaz KH. Miftakhuddin, MM.

Ia menambahkan bahwa ukuran utama dari sebuah kegiatan bukanlah semata-mata pada sarana yang digunakan, tetapi pada tujuan pendidikan yang ingin dicapai melalui kegiatan tersebut. “Yang menjadi ukurannya adalah tujuan, bukan semata-mata sarana. Maka apa yang ditampilkan tujuannya adalah sebagai wasilah untuk mendidik,” lanjutnya.

Semangat tersebut sejalan dengan gagasan Khalifah 636 yang menempatkan ilmu dan akhlak sebagai fondasi penting dalam membentuk seorang pemimpin. Sosok khalifah yang diharapkan bukan hanya mereka yang mampu memimpin orang lain, tetapi juga pribadi yang mampu mengendalikan dan memimpin dirinya sendiri dengan ilmu, akhlak, dan kehormatan.

Pesan tentang perjalanan dan tanggung jawab seorang santri juga dituangkan melalui lagu-lagu yang menjadi bagian dari Khalifah 636, di antaranya “Ridho-Mu”, “Khalifah”, “Khalifah Bumi”, dan “Jadi Sang Khalifah”. Lagu-lagu tersebut membawa pesan tentang perjuangan, keikhlasan, pengabdian, harapan, serta tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.

Melalui Panggung Gembira 636, Santri/Wati Akhir KMI Angkatan ke-36 tidak hanya memberikan hiburan dan persembahan seni kepada para penonton, tetapi juga memperlihatkan hasil dari proses pendidikan yang mereka jalani selama berada di pesantren. Setiap latihan, pembagian tugas, persiapan panggung, hingga penampilan menjadi pengalaman berharga yang diharapkan membentuk pribadi mereka untuk kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan di Ar-Raudlatul Hasanah.

Pada akhirnya, Khalifah 636 menjadi simbol perjalanan seorang santri menuju kehidupan yang lebih luas. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan di pesantren, mereka diharapkan mampu membawa ilmu dan akhlak dalam setiap langkah, menjadi pribadi yang bermanfaat, serta mengambil peran dalam menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.

Chat Via WhatsApp