RAUDHAH — Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah mendapat kehormatan menerima kunjungan silaturahmi dari mantan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Dr. Drs. Apt. H. Sampurno, MBA, pada Ahad, 2 Juli 2026 bertepatan dengan 17 Muharram 1448 Hijriyah. Kunjungan ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Badan Wakaf, Wakil Direktur Pesantren, serta diikuti oleh seluruh Ustaz dan Ustazah Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah.
Selain mempererat tali silaturahmi, Dr. Sampurno juga memberikan kuliah umum bertajuk “Misteri Al-Qur’an Dalam Penciptaan dan Kisah Sunyi Pejalan Ruhani: Integrasi Iman dan Sains” yang menyajikan pencerahan ilmiah berbasis nilai-nilai spiritual.
Dalam pemaparannya, Dr. Sampurno menguraikan harmoni mendalam antara temuan sains modern dengan petunjuk suci Al-Qur’an terkait penciptaan alam semesta. Beliau menjelaskan bagaimana Teori Big Bang dan fenomena meluasnya kosmos selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 30 dan Surah Adz-Dzariyat ayat 47. Lebih lanjut, beliau menekankan adanya keteraturan presisi tinggi (fine-tuning) di alam semesta—seperti jarak Bumi ke Matahari, komposisi atmosfer, hingga rotasi dan pencahayaan Bulan—yang membuktikan keberadaan Sang Maha Pencipta, sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Al-Qamar ayat 49, Surah Ar-Rahman ayat 7, dan Surah Yunus ayat 5.
Tak hanya membahas alam raya, Dr. Sampurno juga membedah keajaiban biologi tubuh manusia mengenai rahasia jantung sebagai pusat kesadaran spiritual. Sains menemukan keberadaan ribuan serabut saraf pada jantung (Intrinsic Cardiac Nervous System) yang membuktikan bahwa jantung bukan sekadar pemompa darah, melainkan tempat bersemayamnya qalbu.
Beliau menegaskan bahwa jika qalbu disucikan melalui tazkiyatun nafs, ia akan menjadi cermin jernih yang memantulkan kebenaran Ilahi. Keharmonisan antara ritme jantung dan otak inilah yang menuntun intuisi serta batin manusia.
Sesi pembekalan ditutup dengan penjelasan mengenai hakikat tasawuf sebagai laku spiritual para pejalan sunyi. Dr. Sampurno meluruskan pandangan bahwa tasawuf bukanlah bentuk pelarian dari kehidupan nyata, melainkan metode penataan batin agar Allah SWT tetap menjadi pusat dari seluruh aktivitas duniawi. Laku sufi ini berakar dari keteladanan Rasulullah SAW serta para Sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, Umar bin Khattab r.a, Utsman bin Affan r.a, dan Ali bin Abi Thalib r.a.
Kunjungan dan pemaparan materi bernas dari Dr. Sampurno ini disambut hangat oleh seluruh civitas akademika Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah sebagai momentum berharga dalam memperluas wawasan keilmuan dan mengokohkan keimanan.