RAUDHAH – Selepas perhelatan Tabligh Akbar rangkaian Kesyukuran Milad ke-44 Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, atmosfer kekhidmatan masih menyelimuti Gedung Hafsah lantai 3, Ahad, 18 Oktober 2026.
Ketua Umum Badan Wakaf, Pimpinan, Direktur, Wakil Direktur, para Kepala Bidang, seluruh Ustaz dan Ustazah berkumpul menyimak pemikiran Prof. Dr. KH. Husnan Bey Fananie, M.A., Sekretaris Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor, dalam sesi capacity building bertajuk “Pengembangan Pesantren yang Berkelanjutan: Belajar dari Pengalaman Gontor”.
Di hadapan Asatidzah, K.H. Husnan Bey Fananie mengungkapkan rahasia ketahanan Gontor yang terus relevan melintasi zaman. Kuncinya terletak pada kedisiplinan mengelola sistem wakaf dan kerapian tata kelola administrasi.

Menurutnya, napas panjang sebuah lembaga pendidikan Islam sangat bergantung pada keikhlasan serta profesionalisme pengelolanya. Ia mengingatkan para guru bahwa pengabdian di pesantren tak bisa diukur dengan hitung-hitungan finansial semata, sebab takaran ihsan dan rezeki para pendidik pada hakikatnya berada di tangan Allah Ta’ala.

KH. Husnan Bey Fananie menambahkan bahwa Gontor memegang teguh Panca Jangka sebagai kompas pergerakan, terutama dalam hal pendidikan dan kaderisasi berkelanjutan. Ia menaruh harapan besar agar Ar-Raudlatul Hasanah terus mencetak kader-kader tangguh di berbagai bidang ilmu.
Apalagi, kedua pesantren ini sama-sama mengusung sistem Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI). Model pendidikan modern ini dinilainya sangat fleksibel dan tempaannya dirancang agar para alumni memiliki daya adaptasi tinggi. Santri tak hanya dibentuk menjadi tokoh agama, tetapi disiapkan untuk mampu berani berkiprah di lini profesi apa pun.

Penyampaian KH. Husnan Bey Fananie semakin menghidupkan suasana tatkala ia menyisipkan kilas balik perjalanan hidupnya yang kaya warna. Ia menceritakan rekannya di masa muda yang begitu gandrung bermain sepak bola hingga sempat tak naik kelas, namun berkat tempaan karakter pesantren, kini menjelma menjadi ulama besar yang memimpin pesantren luas.

Cerita itu menjadi bukti bahwa proses pembentukan akhlak karimah, keluhuran budi, dan kesantunan berbahasa jauh lebih menentukan masa depan seseorang ketimbang angka-angka di atas kertas. Menjadi pendidik di pesantren, tegasnya, adalah bentuk pengabdian tertinggi yang melampaui keikhlasan biasa.
Pengalaman hidup Kyai Husnan sendiri menjadi cermin hidup dari fleksibilitas alumni pesantren. Ia membagikan rekam jejak perjuangannya melewati dinamika era Reformasi 1998, pertemuannya dengan tokoh bangsa KH Idham Chalid, hingga kiprahnya di panggung politik dan diplomasi nasional—mulai dari Sekretaris Wakil Presiden RI Hamzah Haz, anggota DPR RI, hingga menjadi diplomat yang mewakili negara di kancah internasional.

Lewat rekam jejak itu, Kyai Husnan menegaskan bahwa anak pesantren tidak boleh merasa kerdil. Pendidikan modern yang mereka terima telah membekali mereka dengan mentalitas global dan wawasan internasional.
Pesan lainnya dari KH. Husnan Bey Fananie menegaskan pentingnya menggeser fokus dari sekadar promosi duniawi menuju pencitraan ilahi melalui kualitas pendidikan dan keikhlasan. Beliau menyampaikan bahwa Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah tidak membutuhkan pencitraan buatan manusia, karena Allah SWT sendiri yang akan menanamkan rasa cinta dan kepercayaan ke dalam hati masyarakat apabila melihat ketulusan serta mutu pendidikan di dalam pondok.
Ketika civitas akademika menjalankan Tiga Tugas Ilahi dengan penuh pengabdian dan mahabbah kepada Allah, Dia tidak hanya akan mengabulkan cita-cita perjuangan pesantren, tetapi juga mengangkat derajat serta citra kemuliaan bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, amanah sebagai khalifah di muka bumi ini harus diemban dengan kesadaran penuh sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Zalzalah, di mana setiap sekecil apa pun ikhtiar kebaikan dalam membimbing umat akan diperhitungkan dan membuahkan keberkahan yang hakiki di hadapan Allah SWT.
Sesi penguatan kapasitas sore itu pun ditutup dengan optimisme baru bagi keluarga besar Ar-Raudlatul Hasanah untuk terus merawat warisan pendidikan dan melangkah mantap menuju masa depan.