Raudlah. Banyak orang yang akan tersinggung ketika dinasihati. Saat ini nasihat menjadi hal yang paling tidak berharga di dunia bahkan sebagian orang mungkin akan langsung marah dan memendam dendam dalam hatinya. Tetapi nasihat bahkan kritik pedas akan terasa lebih hangat dan lebih manis bila diungkapkan dengan humor. Sebab orang yang dinasihati atau dikritik akan lebih dulu tertawa sebelum menyadari kekhilafannya. Seperti nasihat-nasihat dan kritik pedas Nasruddin bisa menjadi contoh yang pas. Contoh:

                                                                GELAR TIMUR LENK

Timur lenk mulai mempercayai Nasruddin dan kadang-kadang mengajaknya berbincang soal kekuasaan.

“Nasruddin,” katanya suatu hari, “Setiap khalifah disini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwwaffiq Billah, Al-Mutawakkil ‘Alallah, Al-Mu’tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku?”

Cukup sulit bagi Nasruddin untuk menjawab, mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tetapi tak lama kemudian Nasruddin menemukan jawabannya, “Saya kira, gelar yang pantas untuk paduka adalah Nau’dzu Billah saja.”

Nasruddin adalah seorang ulama turki dan merupakan seorang guru sufi yang arif dan kaya dengan humor.

Nasruddin adalah seorang ulama turki dan merupakan seorang guru sufi yang arif dan kaya dengan humor.

Ada banyak hal yang bisa kita serap dari kisah-kisah Mullah Nasruddin, disamping tawa atau senyum simpul beliau tak hanya mengajak kita untuk memandang realitas dunia dengan kacamata canda & gelak tawa, tetapi juga mengajak kita untuk merenungkan dan kembali memikirkan makna keberadaan kita sebagai manusia. Bahkan, diantara kisah-kisah Nasruddin, ada yang langsung membetot dengan keras kesadaran kita, atau tiba-tiba menggebuk dan mencambuk kesombongan kita, dan mengembalikan kita pada realitas dunia.

Melalui kisah-kisah Nasruddin ini , santri/wati Raudlah mampu belajar bahwa menegur kesalahan seseorang itu tidak hanya dengan amarah atau kekerasan. Tetapi, bisa juga dengan humor yang standar agar tidak menimbulkan pertengkaran atau perselisihan ketika saling menegur baik antara santri/wati maupun pembimbingnya. Ed. Citra