Oleh Carles Ginting, BHSc

Berita yang diwartakan Waspada, Sabtu (28/03/2020) di halaman depan berjudul besar “3000 Santri Diisolasi” cukup memancing perhatian banyak pihak. Saya pribadi, sebagai orang di dalam Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan, yang diberitakan itu, menerima banyak pertanyaan; ada dari pejabat pemerintah, wartawan, dan tentunya wali santri dan orang tua sebagai keluarga anak-anak yang diisolasi. Bagaimana menyikapinya?

Informasi yang tertuang sebenarnya dapat dimaklumi bersama. Lebih-lebih di tengah pandemi Covid-19 yang begitu berbahaya. Pemerintah, dengan berbagai jenjangnya, meminta semua warga #dirumahaja. Bersama dengan itu, para mufti di berbagai Negara juga telah mengeluarkan fatwa menafikan jamaah dan shalat jum’at. Semua itu demi keselamatan bersama; selamatkan diri berarti menyelamatkan orang lain. Kaedah fikih bertutur, menolak bahaya harus lebih dikedepankan ketimbang melakukan kebaikan sekalipun (dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala al-jalb al-mashalih).

Lalu, mengapa berita itu menjadi perbincangan banyak orang? Karena isinya –oleh satu portal berita online yang tidak konfirmasi, dikait-kaitkan dengan keberadaan ODP (Orang Dalam Pemantauan) yang ada di lingkungan Pesantren. Dua pengajarberstatus ODP, 3000 santri diisolasi; begitu dibahasakan.

Celakanya, berita itu lebih dulu viral dibanding konfirmasi pihak pesantren yang ada di ujung berita harian Waspada, “benar sedang diisolasi mandiri. Pada 16/23 Maret lalu, sepulang dari Yogyakarta dan Jakarta, datang pihak puskesmas kecamatan. Lalu wawancara, tanpa periksa-periksa atau gunakan alat apapun, lantas menyatakan ODP. Kemudian dua guru itu diisolasi. Memang saat itu guru kami sedang flu. Sekarang sudah sehat tapi masa isolasi 14 hari, ya sudah ikut aturan.”

Pesantren Itu Rumah Kami

Sebaiknya dipahami bahwa Pesantren adalah rumah bagi kami yang berkecimpung di dalamnya; Kyai, Santri, pekerja dan segenap unsurnya. Secara teoritis, hal itu telah jauh terlihat dalam sejarah keberadaan Pesantren di Indonesia. Apakah itu Syaikh Maghribi (w. 3 April 1419) yang didaulat sebagai peletak dasar sistem Pondok Pesantren, ataupun Hadrah al-Syaikh Hasyim Asy’ari (1875—1947) yang memopulerkannya, bahkan KH. Imam Zarkasyi (1910-1985) yang memodernkannya.

Pesantren telah menjadi rumah bagi mereka yang berkegiatan di dalamnya. Lagi pula, dalam kasus Pesantren Ar- Raudlatul Hasanah sendiri, protokol kewaspadaan Covid-19 juga telah dilaksanakan. Gedung dan area di-disinfektan secara berkala. Kran-kran cuci tangan beserta sanitizer atau sabun diperbanyak dengan racikan tim laboratorium pesantren. Pangan santri disediakan.

Dalam beberapa kegiatan, social distance dalam acara berkumpul juga diterapkan. Bahkan, banyak kegiatan semisal lombapidato, lomba olah raga dan seni, hingga perpisahan (khataman) ditiadakan. Bersalaman dengan guru yang merupakan budaya khas anak santri, juga dilarang. Di depan klinik kesehatan tertulis besar pemahaman itu, al-Wiqayah khairun min al-‘Ilaj yang artinya pencegahan lebih baik dari pada pengobatan.

Jika biasanya di hari Jumat ataupun Ahad, wali-wali santri datang berkunjung berduyun-duyun, sejak merebak pandemi telah dilarang. Setiap kebutuhan uang santri diatur secara seksama; kirim saja ke rekening, jangan temui anaknya! Paket-paket kiriman, dipantau dan dibersihkan. Para pengajar– yang karena keterbatasan wilayah tidak mampu kami tempatkan di dalam, juga kena imbas, ‘setiap masuk harus dalam keadaan fit dan sehat; pastinya juga bersih!’. Wali-wali santri itu keluarga kami. Pengajar pengajar itu juga bagian dari kami. Tetapi sekali lagi, pencegahan lebih baik dari pada pengobatan, untuk saat ini harus diutamakan.

Maka, kronologi lengkap kegiatan diberlangsungkan. Anak-anak hingga 27 Maret tetap beraktivitas. Mereka ujian sebagaimana dijadwalkan. Memang, seluruh kegiatan semestinya berakhir di tanggal 22 April 2020. Namun, memerhatikan kabar berita lockdown-nya beberapa daerah dan negara tempat berasalnya santri, dan juga perihal sulitnya mencari bahan untuk kebutuhan disinfektan oleh pihak laboratorium, diputuskan tanggal 28 Maret santri dipulangkan.

Sekali lagi, tidak karena ada dua staff pengajar berstatus ODP. Lebih karena kegiatan yang telah selesai, kewaspadaan pandemic yang harus ditingkatkan, juga persediaan logistik Pesantren yang tidak akan mampu mencukupi jika semua santri harus tetap bermukim di rumah besar ini, lebih lama lagi. Begitu informasi sesungguhnya.

Adapun jika “isolasi” yang menjadi permasalahan, kami tekankan, sejak awal didirikan pesantren tujuannya adalah mengisolasi santri dari ganasnya virus gangguan moral generasi bangsa. 24 Jam mereka diperhatikan; jasmani-rohani, intelektual-spiritual. 24 jam kebutuhan mereka dipenuhi; kesehatan-pertumbuhan, kecerdasan-kecakapan. 24 jam mereka diisolasi, bahkan untuk ketemu orang tua sendiri harus berizin. Pendidikan model seperti itulah yang menciptakan generasi pemimpin.

Keresahan Orang Tua

Maka seyogyanya, keresahan orang tua tidak muncul. Agenda santri memang pulang setelah ujian sehingga setiap mereka memberi kabar kepada orang tua. Khusus tahun ini, protokol yang diterapkan sangat ketat; setiap santri harus dijemput. Orang tua tidak boleh turun dari kendaraannya.

Santri yang akan diantar ke kendaraan orang tuanya. Lagi-lagi itu karena pertimbangan situasi dan kondisi saat ini. Jalinan komunikasi telah tersambung baik. Bahkan, beberapa pejabat pemerintah yang kawasannya telah lockdown dalam artian melarang setiap pendatang untuk masuk, memberi permakluman. dr. Aris Yudhariansyah, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Sumut, di portal berita Sumutcyber.com, Jumat (27/3/2020), juga menjelaskan santri-santri tidak perlu diisolasi karena belum masuk kategori ODP.

Karena itu, kami menghimbau agar orang tua tidak resah terhadap anak-anaknya karena Pesantren telah memperkenalkan diri sejak santri masuk ke dalamnya sebagai ibu bagi mereka. Jika kemudian diinformasikan bahwa jadwal pulang diundur hinggal 5-6 April 2020, itu juga merupakan bentuk dukungan Pesantren terhadap pencegahan pandemi yang begitu semarak.

Di samping itu, kekhawatiran kita akan pandemi, janganlah pula diiringi dengan pudarnya kepercayaan kita pada pihak yangmemiliki otoritas menanggulanginya. Ragam informasi, yang cenderung bertebaran tidak beraturan, sepatutnya disikapi sama bijak dengan virus berbahaya; jauhi jika itu membuat panik, jangan panik, jangan pula membuat panik!

Isolasi diri #dirumahaja atau –bagi kami, #dipesantrenaja.

*Penulis adalah Wakil Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan