RAUDHAH — Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah terus berupaya memperkuat mutu pembelajaran bahasa Arab melalui pengembangan metode pengajaran yang menempatkan keterampilan berbahasa sebagai tujuan utama.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Benchmarking Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Empat Maharah Lughawiyah dan Sistem Akselerasi KMI bersama Pengasuh Pesantren Mumtaza Banjarnegara, KH. Afit Juliat Nurcholis, MA., di Aula Pertemuan Gedung Hafsah Lantai 3, Kamis (29/10/2026), bertepatan dengan 18 Jumadil Awal 1448 Hijriah.

Kegiatan ini diikuti Direktur dan Wakil Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah, para kepala bidang, dewan guru, serta supervisor mata pelajaran. Pertemuan dipandu Wakil Direktur, Ustaz Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom. Dalam sambutannya, Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menyampaikan apresiasi atas kehadiran KH. Afit Juliat Nurcholis. Beliau berharap kegiatan tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus bahan evaluasi bagi pengembangan kurikulum dan praktik pembelajaran bahasa Arab.

Dalam pemaparannya, KH. Afit Juliat Nurcholis menekankan bahwa pembelajaran bahasa Arab tidak cukup berhenti pada penguasaan teori, hafalan kaidah, atau pemahaman isi materi. Bahasa harus dipelajari sebagai keterampilan yang digunakan dalam komunikasi nyata. Menurut dia, pembelajaran yang tidak disertai praktik berisiko membuat materi yang telah dipelajari mudah terlupakan.

“Pembelajaran bahasa Arab kepada santri jika hanya berbentuk pengajaran tanpa praktik, 90 persen akan lupa atau hanya lewat saja,” ujarnya di hadapan para pendidik Ar-Raudlatul Hasanah.

Ia menjelaskan bahwa penguatan maharah intajiyah atau keterampilan produktif menjadi bagian penting dalam pembelajaran bahasa Arab. Keterampilan tersebut mencakup kemampuan berbicara (maharah al-kalam) dan menulis (maharah al-kitabah), yang perlu dikembangkan bersama keterampilan menyimak (maharah al-istima’) dan membaca (maharah al-qira’ah). Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya mengukur kemampuan santri dalam memahami materi, tetapi juga bagaimana mereka menggunakan bahasa secara aktif dan tepat.

“Pembelajaran mata pelajaran apa pun harus bertitik fokus kepada pembelajaran dan maharah atau keterampilan bahasa Arabnya, tidak hanya terfokus kepada konten isi materi saja,” kata KH. Afit Juliat Nurcholis.

Selain keterampilan berbahasa, ia menyoroti pentingnya penguasaan kosakata (mufradat) sebagai fondasi untuk mengembangkan kemampuan komunikasi santri. Pengayaan kosakata perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terarah, disertai pemahaman terhadap pembentukan kata melalui ilmu sharaf, termasuk bentuk dasar kata (mashdar). Penguasaan unsur-unsur tersebut diharapkan membantu santri menggunakan bahasa Arab secara lebih luas, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun kegiatan akademik.

Untuk mendukung pembelajaran yang efektif, KH. Afit Juliat Nurcholis menguraikan empat tahapan yang dapat diterapkan secara sistematis, yakni tadarruj atau pembelajaran secara bertahap, tausi’ atau perluasan materi, ansyitah atau penguatan melalui aktivitas, serta tahlil atau analisis. Pada tahap analisis, pemahaman ilmu nahwu dan sharaf menjadi bagian penting untuk menunjang ketepatan berbahasa.

Ia juga memperkenalkan konsep Ilmu Nabr wa Targhib fi Maharatil Kalam, yang menitikberatkan pada penggunaan tekanan dan intonasi dalam berbicara serta unsur motivasi dan persuasi. Pendekatan ini dipandang relevan untuk mengembangkan keterampilan berbicara santri agar lebih komunikatif, ekspresif, dan sesuai dengan konteks penyampaian pesan.

Pemaparan tersebut berlanjut ke sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Sejumlah pendidik, di antaranya Ustaz Amman Lingga, M.Pd., Ustaz H. Muhammad Mugni Siregar, Lc., M.H., dan Ustazah Fitri Irmayanti Br. Manik, Lc., menyampaikan pertanyaan mengenai penerapan metode di lapangan serta sinkronisasi kurikulum bahasa Arab dengan kebutuhan pembelajaran santri.

Diskusi ini menjadi ruang untuk membahas tantangan yang dihadapi pendidik dalam menyeimbangkan penguasaan kaidah bahasa dengan kemampuan berkomunikasi. Pertukaran pandangan antara narasumber dan peserta juga membuka kesempatan bagi Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah untuk menelaah pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pendidikan pesantren.

Selepas acara benchmarking ini, Seluruh Ustaz dan Ustazah juga turut hadir guna mendengarkan nasihat dan ilmu tentang penguatan kompetensi guru dalam Pengabdian dan pembelajaran Bahasa Arab.

Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah memperluas ruang evaluasi dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab, termasuk dalam penguatan empat keterampilan berbahasa dan pembahasan sistem akselerasi KMI. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi salah satu pijakan dalam menyempurnakan proses pembelajaran, sehingga penguasaan bahasa Arab tidak hanya tercermin dalam pemahaman teori, tetapi juga dalam kecakapan santri menggunakannya secara aktif, tepat, dan berkelanjutan.

Chat Via WhatsApp