RAUDHAH – Keluarga Besar Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menyambut hangat kunjungan Syaikh Bilal Al-Habil, dalam rangkaian kegiatan ilmiah dan silaturahmi keilmuan yang berlangsung pada 6–7 Maret 2026 di Ruang Zainab, Lantai 1, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah.
Kunjungan Syaikh Bilal Al-Habil menjadi momentum penting dalam memperkuat tradisi keilmuan di lingkungan pesantren. Dalam kesempatan itu, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah bersama ABII Foundation menggelar rangkaian Forum Group Discussion (FGD) serta Seminar Nasional Pendidikan.
Forum diskusi yang digelar mengangkat tema “Masa Depan Perguruan Tinggi Pondok Pesantren: Peluang dan Tantangan.” Dalam forum ini, dibahas berbagai persoalan strategis terkait perkembangan lembaga pendidikan pesantren, termasuk bagaimana para alumni dapat mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan Seminar Nasional Pendidikan bertajuk “Penguatan Kompetensi dan Growth Mindset Alumni Pesantren dalam Berkiprah di Masyarakat dengan Bekal Ilmu Agama, Teknologi, Kreativitas, dan Manajerial.” Seminar ini menghadirkan berbagai materi yang menyoroti pentingnya penguatan kompetensi alumni pesantren, pembentukan pola pikir berkembang (growth mindset), serta integrasi ilmu agama dengan teknologi dan kreativitas dalam menjawab tantangan masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Bilal Al-Habil menyampaikan argumennya yang menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter dan akhlak anak. Menurutnya, pendidikan sejati tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi bermula dari lingkungan keluarga.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata diukur dari pencapaian akademik, melainkan dari kualitas akhlak yang tertanam dalam diri seorang anak.
“Ilmu adalah cahaya, tetapi akhlak adalah penjaganya. Tanpa akhlak, ilmu tidak akan membawa keberkahan. Karena itu, orang tua maupun guru memiliki peran besar dalam menanamkan adab dan nilai-nilai keislaman.” ujar Syaikh Bilal.
Para peserta yang hadir tampak antusias mengikuti setiap sesi diskusi dan pemaparan materi. Dialog yang berlangsung tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membuka ruang pertukaran gagasan tentang bagaimana pesantren dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.