RAUDHAH — Sebanyak 47 alumni Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah berhasil lulus seleksi untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Capaian ini menjadi bagian dari keberhasilan konsorsium pesantren yang secara keseluruhan mengantarkan 69 santri dari empat pesantren di Sumatera Utara lulus seleksi Al-Azhar. Dari jumlah tersebut, Ar-Raudlatul Hasanah menjadi penyumbang terbanyak dengan kontribusi sekitar 65 persen dari total kelulusan.
Selain alumni Ar-Raudlatul Hasanah, kelulusan tersebut mencakup 11 santri dari Pesantren Mawaridussalam Deli Serdang, 11 santri dari Pesantren Ubay Bin Ka’ab Deli Serdang, dan 2 santri dari Pesantren Darul Ma’arif Labuhanbatu Selatan. Program ini merupakan hasil kerja sama konsorsium yang juga melibatkan organisasi alumni IKRH, IKMASA, dan IKA UBK.
Konsorsium yang mulai dibentuk pada 2025 ini hadir sebagai upaya memperluas akses lulusan pesantren untuk melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar. Kerja sama tersebut mengintegrasikan kemampuan santri, legalitas kelembagaan, serta jaringan internasional. Selain memperkuat peluang keberangkatan, model ini juga diharapkan dapat meminimalkan biaya yang harus ditanggung calon mahasiswa baru.
Persiapan dilakukan sejak sebelum santri menyelesaikan pendidikan hingga setelah menjadi alumni. Masing-masing pesantren memberikan pembinaan kepada lulusannya melalui bimbingan belajar secara langsung sebelum tamat dan dilanjutkan secara daring setelah mereka menjadi alumni. Sementara itu, tim konsorsium berbagi tugas dalam memenuhi berbagai persyaratan administrasi yang dibutuhkan.
Untuk pelaksanaan seleksi dan rangkaian ujian bahasa secara daring, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menjadi salah satu pusat kegiatan dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium komputer. Tahapan persiapan akademik diawali dengan tahdid mustawa, dilanjutkan daurul lughah, hingga proses al-hadatsah wal mu’adalah.
Para calon mahasiswa kemudian diberangkatkan menuju Mesir pada 27 Oktober dan tiba pada 28 Oktober 2026. Setibanya di Kairo, mereka mulai menjalani sejumlah tahapan administrasi, meliputi laporan diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), pemeriksaan kesehatan, daftar ulang di kampus, serta pembayaran buku kuliah sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh nomor stambuk.
Selain pendampingan akademik dan administrasi, hubungan antarpesantren dalam konsorsium juga terus diperkuat melalui kegiatan silaturahmi. Keberhasilan ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan bagi Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah dan pesantren mitra dalam membuka akses pendidikan internasional, sekaligus mempersiapkan generasi alumni yang memiliki kapasitas keilmuan dan wawasan global.