irhas bersama orang tua, kakak, dan adiknya

irhas bersama orang tua, kakak, dan adiknya

Tidak banyak yang menyangka seorang santri yang bernama M. Irhaz Rizko ini berhasil meraih cita-citanya dengan usaha dan doanya. Sikap optimis santri yang lahir pada 20 juli 2000 ini membuat orang berpikir bahwa kesuksesan yang diraihnya ia dapatkan dengan cara yang mudah, namun banyak hal yang sudah dilewatinya berupa sebuah pengalaman sehingga santri pesantren Ar-raudlatul hasanah ini dapat meraih prestasi-prestasi yang diimpikannya.

Bakat santri yang sekarang duduk di kelas 6 KMI ini dimulai dari bangku kelas 6SD tanjung tiram. Berawal dari perlombaan pidato antar kecamatan yang ia ikuti, ia berhasil meraih juara 2 dalam perlombaan tersebut. Lalu, pada tahun 2012 pada perlombaan yang berbeda yaitu tartil quran, ia berhasil mendapatkan juara pertama.

Perjalananya dalam meraih cita-citanya tidak berhenti sampai disitu saja, pada tahun 2012 tepatanya, ia masuk pesantren Ar-raudlatul hasanah guna menuntut ilmu dijalan Allah. Ia tak tahu apa-apa tentang pesantren, penampilan cupu pada dirinya membuatnya mencari jalan keluar untuk melanjutkan apa yang ia inginkan. Tepatnya pada tahun 2014 ketika ia masih duduk di kelas 2 KMI, ia mencoba untuk mendaftarkan dirinya untuk mengikuti lomba syahril quran pada acara nuzulul quran sepesantren Ar-raudlatul hasanah, berkat doa dan usahanya ia mendapatkan juara pertama dalam perlombaan tersebut. Ditahun yang masih sama, JQH (jamiyatul quraa wal huffadz) pesantren Ar-raudlatul hasanah mengadakan seleksi pemilihan syahril quraan yang akan diikutsertakan dalam perlombaan-perlombaan MTQ. Mendengar hal ini, ia langsung mendaftarkan dirinya dan bersaing denga 20 orang yang terdiri dari kelas 1 sampai kelas 6 KMI, dari 20 pendaftar tersebut hanya 1 orang yang akan dipilih , karena berkat doa dan usahanya ia terpilih dan dapat mewakili pesantren dalam perlombaan syahril quran pada acara MTQ yang diaadakan di Medan Helvetia pada tahun 2014. Namun, dalam perlombaan perdananya ini dia tidak mendapatkan kemenangan dikarenakan minimnya pengetahuan yang ia dapati dari MTQ tersebut.

Pada tahun 2015 seleksi diadakan kembali, akan tetapi dia tidak mengikuti seleksi tersebut, hal ini disebabkan ia merasa ketakutan akan mengalami kekalahan lagi. Namun, fakta berkata lain, ustad dan udazah memnggilnya dan beertanya : “mengapa kamu tidak mengikuti seleksi lagi ? “, dia menjawab dengan berbohong : “saya tidak tahu ustadzah”. Mendengar hal ini, ustadzah meras kebingungan karena pengumuman sudah seminggu lebih, wal hasil ustadzah ovi ramadhani selaku ketua JQH memaksa dia untuk mengikuti seleksi lagi. Dan seketika itu, ia teringat dengat nasehat ayah nya : “kenapa hanya mencoba sekali, padahal mencoba itu bisa berkali-kali”, dari situ dia mencoba dan berusaha yang kemudian ia menjadi utusan pesantren untuk mengikuti perlombaan MTQ kembali yang diaadakan di Medan Petisa. Alhamdulillah, nasehat dari ayah nya untuk mencoba ia mendapatkan juara harapan pertama.

Perjalanannaya masih berlanjut, ia mendapatkan juara pertama pada cabang yang sama tahun 2016 pada acara MTQ Sekota Medan yang diselenggarakan di Medan Tuntungan, dan yang terakhir pada tahun 2017 pada MTQ cabang syahril quran seprovinsi sumatera utara yang diselenggarakan di Medan Amplas, ia kembali berhasi mendapatkan juara pertama pada perlombaan tersebut sekaligus berhasil menghantarkannya ke perlombaan tingkat nasioanal yang akan dilaksanakan di provinsi sumatera utara yang menjadi tuan rumah pad 2018 mendatang.

Diakhir wawancara saya bersamanya, ia memberi pesan untuk anak muda jaman sekarang : “jangan putus asa, percya diri, belajarlah dari pengalaman, coba terus, dan yang paling terpenting setiap langkahmu carilah ridho allah, karena ketika kamu sudah mendapat ridho allah semua yang kamu inginkan akan kamu dapat.ed-syam.