RAUDHAH – Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menggelar kegiatan Silaturahmi Wali Santri/wati Kelas 6 KMI di Gedung Fatimah lantai 3 pada Ahad, 12 Oktober 2025/ 19 Rabi’ul Akhir 1447. Acara tersebut menjadi momentum penting yang memperkuat sinergi antara pihak pesantren dan orang tua dalam mendampingi santri menuju masa akhir studi.
Dalam kesempatan itu, Direktur pesantren, Ust. KH. Miftakhuddin, SS., S.Pd., MM., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh wali santri atas kepercayaan yang diberikan untuk mendidik dan membimbing anak-anak selama enam tahun di Ar-Raudlatul Hasanah.
“Kepercayaan ini adalah amanah yang akan kami jaga dengan sebaik-baiknya. Kami juga memohon maaf atas segala kekurangan dalam mendidik putra-putri Bapak/Ibu,” ujar Direktur pesantren.
Sebagai lembaga berbasis wakaf, Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun nonakademik. Dalam usianya yang ke-43 tahun, pesantren ini telah berkembang pesat dari lahan wakaf seluas 4.000 meter persegi menjadi lebih dari 11 hektare di Medan, 14 hektare di Sugau, 10 hektare di Lumut, dan 50 hektare di Subulussalam.
“Ar-Raudlatul Hasanah bisa berkembang karena keikhlasan semua pihak: pewakif yang ikhlas, guru yang ikhlas, santri yang ikhlas, dan wali santri yang lebih ikhlas. Dari keikhlasan itu, insyaallah lahir generasi yang ikhlas berjuang untuk agamanya,” disampaikan dalam sambutan tersebut.
Dalam forum tersebut pula, Wakil Direktur, Ust. Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom., menjelaskan sejumlah kegiatan yang wajib diikuti santri/wati kelas 6 sebagai bagian dari penyelesaian studi, di antaranya pembekalan akhir, laporan pertanggungjawaban OPRH, praktek mengajar, penulisan makalah berbahasa Arab, hafalan juz 30, Tes Kemampuan Akademik (TKA), hingga Rihlah Iqtishadiyah atau Study Tour.
Kegiatan Rihlah Iqtishadiyah dijadwalkan berlangsung pada 9–13 Februari 2026, dengan dua pilihan destinasi: Banda Aceh dan Malaysia. Wakil Direktur pesantren menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar wisata, tetapi bagian dari kurikulum yang melatih kemandirian, tanggung jawab, dan wawasan santri.
Selain itu, pihak pesantren juga menegaskan bahwa santri wajib mengikuti seluruh program hingga akhir tahun akademik. “Kelulusan santri ditentukan bukan hanya oleh nilai akademik, tapi juga kedisiplinan dan tanggung jawab mereka mengikuti seluruh kegiatan pesantren,” disampaikan dalam paparan Ust. Carles Ginting, BHSc., M.I.Kom.
Pesantren turut memberikan sosialisasi mengenai jalur kelanjutan studi bagi para santri setelah lulus KMI. Beberapa jalur yang dapat diikuti melalui pesantren di antaranya SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi), SPAN-PTKIN (Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri), jalur santri berprestasi dalam organisasi, serta jalur Tahfiz sesuai capaian hafalan.
Menutup kegiatan, Direktur pesantren mengingatkan kembali pentingnya peran doa orang tua dalam keberhasilan anak. Ia juga menyampaikan bahwa ibadah dan doa orang tua dapat menjadi kunci pembentuk karakter anak.
Semoga sinergi antara pesantren, santri, dan wali santri terus terjaga hingga akhir masa studi dan pengabdian.