Kita biasa berpikir bahwa kesulitan yang timbul dengan seorang egois adalah bahwa dia terlalu memandang tinggi dirinya, bahwa dia memiliki harga diri yang besar. Maka kalau seseorang merasa dirinya terlalu mementingkan diri sendiri, entah dengan cara apa dia harus melepaskan keinginannya untuk memandang tinggi dirinya dan dia pun akan puas. Dan banyak orang berpikir bahwa cara berurusan dengan orang egois adalah menunjukkan kekurangannya atau menundukkannya dan merampas anggapannya bahwa dirinya sangat penting. Tetapi itu hanya akan membuat orang egois tersebut semakin bersikap memusuhi dan membuat egonya bahkan semakin peka karena sesungguhnya orang yang mementingkan diri sendiri atau orang egois bukan merasa karena harga diri yang terlalu tinggi, melainkan karena merasa harga dirinya terlalu rendah.

Ketika seorang individu bertikai dengan dirinya sendiri dan bertikai dengan orang lain terbukti merupakan masalah kurangnya harga diri yang sesungguhnya. Begitu seseorang mulai menyukai dirinya sendiri, maka dia akan lebih bisa menyukai orang lain. Begitu dia berhasil mengatasi ketidakpuasannya yang menyakitkan dengan dirinya sendiri, dia tidak akan terlalu suka mencela orang lain dan lebih toleran kepada mereka.Egois

Dahaga akan ego juga berifat universal dan alami seperti kelaparan akan makanan. Tubuh memerlukan makanan untuk bisa mempertahankan kelangsungan hidup. Ego yang lapar adalah ego yang jahat. Seseorang yang makan kenyang tiga kali sehari tidak terlalu memikirkan perutnya. Tetapi seseorang yang tidak makan satu atau dua hari menjadi benar-benar lapar dan seluruh kepribadiannya tampak berubah. Dari orang yang pemurah, periang dan baik hati, dia cenderung akan jadi suka bertengkar dan jahat.

Tidak ada manfaatnya mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan bisa mengatasi sifat  mementingkan diri sendiri seperti mementingkan perut mereka. Alam telah menempatkan insting dalam setiap makhluk yang mengatakan “Anda dan kebutuhan dasar anda didahulukan”. Singkatnya, dia harus makan, dan memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, sebelum dia bisa memberikan perhatian kepada hal-hal lainnya.

Bagi pribadi yang sehat jasmani dan rohani serta normal, alam menuntut takaran tertentu penerimaan diri dan persetujuan diri. Dan tidak ada manfaatnya mengecam orang yang mementingkan diri sendiri dan menyuruhnya mengalihkan pikiran dari dirinya sendiri. Dia tidak bisa mengalihkan pikiran dari “diri”-nya sebelum dahaganya akan ego terpuaskan. Setelah itu, dia pasti akan mengalihkan pikiran dari dirinya sendiri, dan memberikan perhatiannya kepada perkejaannya, serta kepada orang lain dan kebutuhan mereka.

Itulah yang menjadi kesalahpahaman santri/santriwati Raudlatul Hasanah. Dikarenakan mereka hidup mandiri di pesantren membuat sebagian para santri/wati akan memenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu sebelum dia bisa memenuhi kebutuhan yang lain. Hal inilah yang tidak banyak diketahui oleh santri/wati Raudlah bahwasannya orang yang mementingkan diri sendiri bukan orang yang tidak memikirkan keadaan sekitarnya melainkan dia harus mendahulukan dan menuntaskan segala sesuatu mengenai dirinya. Jika seseorang sudah menuntaskan masalah mengenai dirinya maka dia akan memberikan seluruh perhatiannya kepada keadaan sekitarnya. Ed. Citra