Panjat Pinang Merupakan Warisan Belanda?

Meski dilakukan hampir setiap tahun, tak banyak masyarakat Indonesia sadar asal mula tradisi perayaan 17 Agustus tersebut. Padahal, beberapa jenis perlombaan sebenarnya punya sejarah dan filosofi tersendiri. Dari mana awal mulanya?

Hingga kini tidak diketahui pasti siapa tokoh pelopor tradisi perlombaan untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Yang pasti, perlombaan “17 Agustusan” mulai jamak dilakukan sekitar tahun 1950-an. Masyarakat pun ingin merayakan kemerdekaan yang sangat sulit diraih dan dipertahankan itu. Beragam lomba spontan dilakukan, mulai dari panjat pinang, lomba makan kerupuk, tarik tambang, sampai balap karung.Karena dilakukan beragam kalangan, sontak perlombaan untuk merayakan kemerdekaan kian masyhur ke seantero negeri. Lomba-lomba itu tetap hadir dan meriah sampai hari ini.

Panjat Pinang, yang secara literal berarti memanjat pohon Pinang – walaupun puluhan tahun terakhir kini, pohon yang dipakai bukan lagi Pinang tetapi bambu, seakan mengajarkan cara bagaimana kita bisa eksis dan hidup secara baik hingga berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan berdasarkan apa yang kita usahakan. Ini adalah sebuah pelajaran hidup yang memang sangat realistis. Beberapa filosofi yang bisa kita jabarkan dari memaknai Panjat Pinang adalah sebagai berikut :

-Fase pertama, ini merupakan fase umum yang melukiskan hal sikap manusia atau masyarakat dalam kehidupan sosialnya. Masih memakai baju, masih segar, penuh semangat dan yakin. Saat itu, pohon pinang pun masih kering dan belum terjamah. Pada fase ini, orang-orang masih memikirkan egonya.

-Fase kedua, setiap orang mulai menyadari bahwa bekerja sendirian itu terlalu berat. Memanjat tinggi setidaknya butuh tumpuan kuat di bawah. Apalagi pohon sudah mulai licin.

-Fase ketiga, pada fase ini para pemanjat sudah mulai lelah. Pohon makin licin. Tetapi fase ini justru merupakan fase yang sangat menghibur dan menggetarkan. Dan secara filosofi, para pemanjat sudah melihat dan menyadari tentang ‘musuh bersama’ yang harus ditaklukkan secara bersama dan bergotong-royong. Maka, mereka memutuskan untuk bersatu dan mengalahkan musuhnya, yakni si tiang licin. Mereka bahu membahu dan bertekad mengantarkan siapapun untuk sampai ke atas dan melucuti semua hadiah. Adapun yang di bawah, mereka mengumpulkan hadiahnya dan membaginya bersama secara adil.Itulah… indahnya kehidupan yang bersama dan berbagi. Filosofi yang sangat realistis.

Konon pula, ini erat kaitannya dengan sumber keberasalan permainan ini yang ternyata merupakan warisan Belanda. Di jaman Belanda dulu, orang-orang Belanda selalu membuat pesta hiburan. Dan salah satu hiburan yang mereka ciptakan adalah Panjat Pinang. Pesertanya dikhususkan hanya rakyat Indonesia. Mereka menonton para ‘inlander’ yang berlomba-lomba memanjat karena tertarik dengan hadiahnya.

Sementara para Belanda, mereka tertawa terbahak-bahak melihat ‘kegagalan-kegagalan’ yang dihadapi para pemanjat. Potret ini, dalam konteks kehidupan kini yang sudah merdeka, bagi para nasionalis dianggap penistaan terhadap bangsa Indonesia saat itu. Maka, jika itu merupakan sebuah penistaan, kenapa harus dilestarikan?

Konon, latar belakang pemikiran inilah yang membuat permainan Panjat Pinang mulai ditiadakan pelan pelan. Sayang sebenarnya, kalau hal ini harus ditiadakan hanya karena indikasi nasionalisme yang terluka. Karena bagaimanapun, sejarah tetaplah sejarah. Tak perlu diingkari. Ed. Yakhumaira

Leave a Reply