Oleh: Nurul Huda Prasetya, MA.*

 

Abstraksi

‘Illat al-Hukmi adalah sifat tertentu yang menjdi indikator ketetapan hukum syar’i. Penetapan ‘illat al-hukmi berdasarkan analisa mendalam terhadap nashhukum Islam baik ayat maupun hadis ahkam. ‘Illat al-hukmi merupakan sifat yang jelas, tidak abstrak dan sangat terukur dengan batasan yang tegas. Hal ini disamping untuk menjamin kepastian hukum adalah untuk menjamin tercapainya tujuan hukum yaitu kemaslahatan bagi manusia dan seluruh alam dan menghindari kerusakan dan kerugian bagi manusia dan seluruh alam.

A. Pendahuluan

Ketika ushuliyun merumuskan suatu format hukum dengan menggunakan qiyas, maka ‘illat merupakan salah satu kata kunci (key word) sekaligus merupakan perangkat mutlak yang harus ada, yang dalamkajian ushul fiqh (the Methodology of Islamic Juristprudence) biasa disebut dengan arkan al-qiyas1. Oleh sebab itu ‘illat, yang terkadang difahami sebagai alasan logika penetapan hukum, merupakan unsur terpenting dalam pelaksanaan qiyas. Dengan kata lain qiyas tidak akan pernah terlaksana tanpa dibarengi adanya ‘illat. Landasan fikir ini berdasarkan atas grand hipotesis bahwa segala ketentuan hukum yang diturunkan Allah memiliki alasan logis (legal reasoning) dan hikmah (wisdom) yang akan memayungi pelaksanaan dan penerapan peraturan hukum tersebut.

Kajian tentang teori logika penetapan hukum (‘illat), merupakan suatu lapangan pembahasan yang amat menarik dikalangan ulama ushuliyun. Hal ini barangkali disebabkan bahwa kajian tentang ‘illat selain sebagai sesuatu yang mesti terkait dalam persoalan qiyas, ianya juga mengajarkan seni berfikir  yang konprehensif dengan menggunakan ra’yu (reasoning) ketika merekayasa suatu ketetapan hukum yang tidak tertera secara jelas di dalam nash.

            Makalah ini akan mencoba memaparkan secara deskriptif tentang konsep ‘illat sebagai unsur rasionalitas hukum sekaligus mencoba untuk mengungkap kemungkinan terjadinya perbedaan-perbedaan pendapat dikalangan para ulama usuliyun terhadap berbagai persoalan yang mengitari ‘illat dalam pelaksanaan qiyas.

 

B. Pengertian ‘Illat

            Secara bahasa (etimology) kata ‘illat (علة) bisa berarti alasan  (حجة), sebab (سبب) ataupun sakit (مرض) 2. dalam kitab Irsyad al-Fuhul dijelaskan bahwa pengertian ‘illat secara etimologi (لغوى)adalah:

االعلة في اللغة ما يتغير حال الشيء يحصوله فيه فيقال للمرض علة, لأن الجسم بتغير حاله يحصو له فيه ويقال اعمل فلا ن اذا تغير حاله عن الصحة الى السقم.3

            Jadi ‘illat adalah sesuatu yang dapat merubah atau memberi pengaruh terhadap suatu benda atau keadaan dengan kehadirannya.Seperti ‘illat yang berarti sakit karena sakit itu dapat merubah atau mempengaruhi kondisi seseorang dari sebelumnya sehat menjadi tidak sehat.

            Sedangkan dalam konteks terminologi (istilahi) para ulama ushuliyun kelihatannya berbeda pendapat ketika merumuskan pengertian ‘illat berdasarkan perbedaan pendekatan yang mereka lakukan.

            Usuliyun secara umum memberikan definisi ‘illat sebagai:

4العلة هى:  ما شرع الحكم عنده تحقيقا للمصلحة اوهي الوصف المعرف للحكم                                           

Kata-kata (الوصف) di sini adalah berarti sesuatu yang berdiri bersama yang lain. Sedangkan kata-kata المعرف للحكم berarti berfungsi sebagai indikator yang menjelaskan hukum. Bila dikatakan bahwa sifat memabukkan menjadi ‘illat bagi haramnya khamar, berarti memabukkan merupakan sifat yang menjadi indikator yang menjelaskan  bagi haramnya suatu minuman.

            Ulama Mu’tazilah mendefinisikan ‘illat5 : العلة هي المؤثرفي الحكم بذا ته  . Mereka menyebutkan bahwa ‘illat adalah sesuatu yang dengan sendirinya (zatnya) mempengaruhi/punya pengaruh signifikan terhadap yang lainnya (المؤثر بذاته). Pandangan mereka ini didasarkan atas suatu opini bahwa hukum mengikuti/memberi kemaslahatan dan kemafsadatan. Bila ada sesuatu yang mengandung mashlahat munculan keharusan untuk menegakkannya dan bila ada sesuatu yang mengandung mafsadat maka muncullah keharusan  untuk menjauhinya.

            Dalam dua kitabnya, al-Mustashfa dan al-Mankhul, al-Ghazali mendefinisikan ‘illat sebagai6: هى المؤثرفى الحكم يجعله تعالىلابالذات . Tampak dari definisi ini seakan-akan al-Ghazali sependapat dengan Mu’tazilah dalam melihat ‘illat sebagai sifat yang mempengaruhi (المؤثر)keberadaan hukum. Namun menurut al-Ghazali pengaruh ‘illat terhadap hukum hanya sebagaiمعرف للحكم  bukan sebagai مؤثر للحكم .

            Sementara itu, al-Amidy mengartikan ‘illat adalah:

اانما الوصف الباعث على الحكم, العلة فى الا صل يعنى البا عث اى مشتملة على حكمة صالحة ان تكون مقصودة  للشارع  من شرع الحكم.